Hits: 34
Alvira Rosa Damayanti
Pijar, Medan. USU sudah lama merasakan kekosongan kekuasaan pada bagian Pemerintahan Mahasiswanya. Sehingga wajar beberapa pihak rindu akan sosok pemerintah yang mampu menjadi jembatan suara mahasiswa dengan pihak birokrat kampus. Pasalnya banyak kebijakan-kebijakan yang tidak pro kepada mahasiswa selama kursi pemerintahan itu tidak ada yang menduduki.
Walau rindu itu kian menjelma bagai dendam, tapi ia tak juga terbayar tuntas. Dalam permasalahan teknis yang terjadi pada hari H, yang mengakibatkan medium pemungutan suara tidak bisa diakses, maka Pemira Online pun “ditunda” (6/11).
Terkait dengan Pemira Online yang akan dilakukan, pihak KPU sendiri mengatakan bahwa mereka sudah melakukan sosialiasi dengan cukup maksimal. Dengan menyebarkan informasi di laman Instagram dan juga membagikan informasi melalui KPU sekawasan.
Rentetan waktu yang panjang untuk pengambilan sebuah keputusan final dan sosialisasi yang “katanya” cukup maksimal, ternyata belum menunjukkan bukti bahwa sistem siap untuk digunakan. Terlihat di mana pada saat hari Pemira dilakukan, website untuk menyalurkan suara malah down.
“Ini kembali kepada pandangan masing-masing orangnya saja dan mohon maaf saja jika pandangannya belum cukup, karena kami juga sudah melakukannya secara maksimal,” ungkap Wahyu Hidayat selaku ketua KPU USU saat diwawancarai melalui aplikasi WhatsApp pada (5/11).
Wahyu menyebut bahwa mereka sudah melakukan persiapan dari sosialisasi dan simulasi yang dianggap akan memudahkan proses pemungutan suara nantinya. Hanya saja kesalahan server tersebut adalah hal yang tidak terduga.
“Karena kami juga sudah melakukan simulasi sebanyak 4 kali. Dan kami mengakui dalam proses simulasi tersebut tidak banyak yang mengikuti, sehingga PSI tidak dapat mempersiapkannya dan melakukan perbaikan, karena sistem seperti ini biasanya hanya digunakan untuk survei-survei terbatas seperti untuk fakultas tertentu saja,” jelas Wahyu.
Kemudiaan saat ditanya mengapa Pemira tetap dilakukan walaupun mengetahui peserta simulasi yang sedikit, Wahyu menjawab bahwa Pemira tetap harus dilaksanakan mau tidak mau.
“Walaupun Pemira ini tidak berhasil diselenggarakan, setidaknya kita dapat menjadikan ini sebagai pelajaran untuk memperbaiki ke depannya, daripada melakukan simulasi terus menerus dan tidak jelas. Intinya kita sebagai penyelenggara harus melaksanakan Pemira kemarin dan berusaha semaksimal mungkin. Terkait dengan kegagalan, kita tidak memprediksinya. Dan jika ada masalah kita tinggal mencari solusinya,” tambah Wahyu.
Dengan ketidaksiapannya sistem, maka mau tidak mau KPU akhirnya memutuskan untuk menunda Pemira hingga sistem siap untuk digunakan. Selain itu, PSI meminta waktu sekitar 3 minggu untuk memperbaiki sistem dan pihak KPU sendiri hingga saat ini belum memberikan kejelasan tanggal pasti diberlangsungkannya Pemira.
“Tidak ada yang patut disalahkan, karena menurut saya ini bukan kesalahan siapa-siapa. Memang diperlukan kerjasama dari seluruh elemen, ini bukan hanya kesalahan PSI. Karena kita juga harus saling berkontribusi jika ada simulasi lagi dari KPU, agar nantinya tidak saling menyalahkan antara KPU dan PSI,” jelas Wahyu.
Kendati demikian, ketika pernyatan itu dilemparkan kepada para mahasiswa, beberapa menjawab bahwa gagalnya Pemira Online (6/11) merupakan tanggung jawab KPU dan PSI. Diketahui bahwa KPU adalah pihak penyelenggara dan PSI sebagai penyedia sistem.
“Tentang sistem yang error, itu merupakan salah satu bukti dari ketidaksiapannya KPU dalam menyelenggarakan Pemira. Harusnya dari hari-hari kemarin KPU sudah bisa mengantisipasi segala kemungkinan, baik itu error-nya sistem, seperti keamanan sistem itu sendiri. Jadi harus ada sinergi lagi antar KPU dan PSI, supaya Pemira-Pemira yang dilakukan secara online bisa dilaksanakan secara lancar.” ujar Surya Nugraha saat memberikan tanggapannya terkait siapa yang salah dalam hal ini.
Sama halnya dengan Mauris Muyassar yang merupakan salah satu mahasiswa yang turut mengakses website pada hari itu pun kunjung menambahkan komentar, “KPU sendiri juga melakukan sosialisasi yang kurang, karena sebenarnya kita mau memilih komting atau benar-benar mau melakukan Pemira? Sebab jika ingin melakukan Pemira, maka harus benar-benar mengait suara dari mahasiswa,” ungkapnya.
Ternyata ketidaksiapan Pemira ini sudah diduga oleh Mauris sejak jauh hari. Pasalnya PSI memang sering mengalami masalah server yang down.
“Dan untuk PSI sendiri, memang bahwa server mereka juga sering down. Tidak hanya kali ini, namun juga saat pengisian KRS. Jadi untuk yang bisa disalahkan dari kegagalan dan penundaan ini ya KPU sendiri dan PSI,” tambah Mauris.
Namun, hingga hari ini belum ada tanggapan lanjut dari PSI terkait sistem mereka. Sedangkan dari pihak KPU sendiri, mereka masih mencoba untuk menunggu bagaimana kesiapan sistem dari PSI, agar nantinya sistem tersebut layak untuk digunakan. Karena untuk perbaikan sistem paling cepat akan berlangsung selama 2-3 minggu dan bisa saja akhir bulan ini dapat diadakan kembali.
“Mungkin untuk kedepannya kita hanya perlu mematangkan diri lagi dan mengambil kegagalan ini sebagai referensi, sehingga dapat menciptakan sistem baru yang lebih baik. Karena mungkin masih ada harapan untuk Pemira Online, asal dipersiapkan dengan baik,” tutup Wahyu diakhir wawancara.
(Editor: Erizki Maulida Lubis)

