Hits: 34
Ferdi Rakiven Sianturi
Pijar, Medan. Paskah 2026 jatuh pada Minggu, 5 April 2026. Hal ini menjadi momen penting bagi umat Kristiani di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Paskah memperingati kebangkitan Yesus Kristus setelah wafat di kayu salib, sebuah peristiwa yang menjadi simbol kemenangan atas kematian dan sumber harapan bagi seluruh umat beriman.
Bagi umat Kristiani, kebangkitan Yesus adalah inti dari iman. Peristiwa ini terjadi pada hari ketiga setelah penyaliban, menegaskan kuasa Tuhan atas maut dan dosa. Oleh karena itu, Paskah bukan sekadar tradisi, tetapi dasar keyakinan akan keselamatan dan kehidupan kekal.
Selain nilai religius, Paskah juga kaya dengan simbol budaya. Telur Paskah melambangkan kehidupan baru dan harapan, sementara kelinci sering dihubungkan dengan kesuburan dan pertumbuhan. Meski simbol-simbol ini tidak memiliki makna religius langsung, mereka turut menambah warna dalam perayaan Paskah di berbagai belahan dunia.
Di Indonesia, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) telah menetapkan tema Paskah 2026, yaitu “Kristus Bangkit Membarui Kemanusiaan Kita”. Tema ini mengajak umat untuk tidak hanya mengenang kebangkitan Kristus sebagai peristiwa historis, tetapi juga menghidupkan maknanya dalam kehidupan sehari-hari. Kebangkitan Kristus menjadi panggilan untuk memperbarui diri baik secara spiritual maupun dalam hubungan sosial.
Melalui tema ini, umat juga diajak membangun kembali relasi dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. Nilai-nilai seperti kasih, keadilan, dan kepedulian sosial menjadi pesan utama perayaan Paskah tahun ini.
Melansir dari laman pgi.or.id, mereka juga menyoroti berbagai persoalan kemanusiaan yang masih berlangsung hingga saat ini. Mulai dari konflik yang berkepanjangan, tindak kekerasan, kemiskinan, diskriminasi, hingga ketimpangan sosial yang belum terselesaikan.
“Pada saat yang sama, kebangkitan Kristus merupakan tanda penyembuhan terhadap luka-luka kemanusiaan sekaligus terhadap jeritan penderitaan seluruh ciptaan,” tulis PGI dalam Pesan Paskah PGI 2026
Pernyataan ini menegaskan bahwa makna kebangkitan Kristus tidak hanya berdimensi iman, tetapi juga membawa harapan pemulihan bagi manusia dan seluruh ciptaan. PGI juga menekankan bahwa berbagai krisis kemanusiaan tersebut memiliki keterkaitan erat dengan persoalan lingkungan. Kerusakan alam seperti penggundulan hutan, pencemaran, perubahan iklim, hingga menurunnya keanekaragaman hayati, dianggap sebagai dampak dari perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab, serta kebijakan pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekologis.
Lebih jauh, dalam pesan Paskah 2026, PGI menegaskan pentingnya kesadaran akan pertobatan ekologis serta tanggung jawab bersama untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama
“Pembaruan kemanusiaan tidak dapat dipisahkan dari pertobatan ekologis, yakni perubahan cara pandang, gaya hidup, dan praktik sosial-ekonomi yang lebih adil, lestari, dan berpihak pada kehidupan,” tegas PGI.
Dengan demikian, Paskah 2026 mengajak umat untuk tidak hanya merayakan kebangkitan Kristus, tetapi juga memperbaiki diri, membangun hubungan yang lebih baik dengan sesama, dan menjaga bumi sebagai rumah bersama.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

