Hits: 291
Nadia Lumongga Nasution
Pijar, Medan. “Most babies are accidents. Not me, I was engeneered. Born to save my sister’s life”- Anna Firzgerald.
Begitulah salah satu kutipan terbaik yang ada di My Sister’s Keeper. Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, apa alasan sebenarnya kita dilahirkan ke bumi ini? Harapan orangtua, kecelakaan, atau ada alasan tertentu? Seperti Anna Fitzgerald yang dilahirkan sebagai pendonor organ tubuh kepada kakaknya, Kate Firzgerald.
Keluarga Firzgerald telah hidup sempurna dengan dua anak, Jesse and Kate Fitzgerald. Sampai suatu ketika Kate didiagnosa menderita penyakit leukemia dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang. Sayangnya tak satupun anggota keluarga Firzgerald memiliki organ Human Leukocyte Antigen (HLA) yang cocok dengannya.
Dengan kondisi itu, dokter menyarankan untuk memberi adik kepada Kate sebagai adik pendonor, walaupun secara hukum ini sangat tidak disarankan. Dokter menyebutkan bahwa sel darah pada tali pusar merupakan alat yang efektif untuk mengobati pasien leukemia. Sebagai orang tua, tentunya apapun akan dilakukan demi kesembuhan anaknya tak terkecuali melahirkan anak pendonor. Begitulah Anna Firzgerald lahir, anak dengan preimplentasi genetik yang mirip 100% dengan Kate.
Sejak lahir Anna telah melakukan berbagai perawatan demi menyelamatkan nyawa kakaknya. Mulai dari memberikan sel darah tali pusarnya, transfusi sel darah putih, sumsum tulang, limposit, penyutikan penambahan sel induk, dan diumur 13 tahun Anna harus mendonorkan ginjalnya.
Sadar akan hak atas tubuhnya, Anna pun berani menemui pengacara ternama saat itu, Campbell Alexander. Bermodalkan US$700 Anna menunjukkan Alexander menjadi pengacaranya untuk menuntut orang tuanya yang telah memanfaatkan tubuhnya sedari bayi.
My Sister’s Keeper merupakan film yang di produksi pada tahun 2009 dan diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Jodi Picoult. Selama menonton film ini akan timbul pro-kontra pada diri sobat Pijar dengan keputusan yang diambil Anna untuk menuntut orang tuanya sendiri.
Di luar permasalahan tersebut, keluarga Fitzgerald merupakan keluarga yang rukun dan tidak ada rasa dibedakan antara kakak-adik ini meskipun mereka sadar perhatian orang tuanya sangat berpusat pada Kate. Kate jugalah yang merasa bersalah karena penyakit yang ia derita, orang tuanya telat menyadari kalau Jesse mengidap dyslexia dan Anna harus mengorbakan organ tubuh untuknya.
Film ini sangat pandai memainkan emosi penontonnya dari tiap adegan yang ada. Membuat kita tersenyum melihat keluarga indah ini dan membuat kita sedih sampai bisa menangis melihat perjuangan Kate dan keluarganya melawan leukemia. Namun, film ini sedikit membuat bingung karena menggunakan alur maju-mundur.
My Sister’s Keeper juga meraih beberapa penghargan, salah satunya Choice Summer Movie Drama pada ajang Teen Choice Award. Itulah mengapa, film ini cocok untuk sobat Pijar tonton bersama keluarga di saat karantina mandiri sekarang ini. Selain mengisi kekosongan waktu, juga terdapat banyak pesan moral khusunya tentang keluarga di dalamnya.
Tentu sobat Pijar penasaran kan bagaimana kelanjutan hingga akhir cerita di film ini? So, daripada harus menebak-nebak untuk memecah rasa penasarannya, mending sobat Pijar langsung saja ya tonton filmnya.
Redaktur Tulisan: Hidayat Sikumbang

