Hits: 12
Star Yeheskiel Munthe
Pijar, Medan. Senja tua yang berakhir pada sore ini mengundang sebuah pertanyaan, sebenarnya untuk apa ada perang apabila tujuan akhirnya adalah damai pula. Bukankah lebih baik damai itu diwujudkan bersama-sama dengan memandang satu sama lain adalah setara juga menghentikan dendam dan penindasan.
Hari ini 21 September 2019, kembali diperingati sebagai Hari Perdamaian Dunia. Sebuah hari yang diinisiasi oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sebagai simbol untuk mengingatkan kepada seluruh masyarakat dunia tentang cita-cita luhur bahwa perdamaian harus diwujudkan.
Perdamaian adalah suasana di mana setiap orang merasa aman, di mana kekerasan harus dihentikan, dan peperangan harus diakhiri. Hari perdamaian pertama kali mencuat pada tahun 1982, dan terus dipertahankan oleh banyak kelompok sebagai satu hari penting dalam setahun. Kemudian pada tahun 2013, PBB mulai menginisiasi hari perdamaian dunia untuk pertama kalinya melalui dunia pendidikan.
Lonceng New York 21 September yang berdentang dari gedung PBB adalah suara dari perdamaian itu sendiri. Diketahui bahwa lonceng tersebut terbuat dari logam koin-koin yang disumbangkan oleh anak-anak seluruh dunia (kecuali benua Afrika).
Lonceng tersebut merupakan hadiah dari sebuah asosiasi PBB di Jepang sebagai bentuk simpati untuk mengingat kembali peristiwa perang yang memakan banyak korban dan meninggalkan trauma mendalam. Pada salah satu bagian lonceng koin tersebut, ada tertulis “Long Live Absolute World Peace”.
Harga dari perdamaian itu memang mahal, dan butuh jalan panjang untuk mencapainya. Melalui kaca sejarah tentang tragedi kemanusiaan yang berkucur darah di atas bumi harusnya menjadikan kita belajar dari kesalahan, bahwa manusia lebih baik hidup dalam perdamaian.
Bercerita tentang perdamaian adalah hal yang cukup luas, dan salah satu akar daripadanya adalah kemanusiaan. Tak jarang kita menemukan kutipan seperti ini “I see human but no humanity” (Aku melihat manusia tapi tidak kemanusiaan). Sebuah kutipan yang mengkritik realitas kini, bahwa kita mengaku mutlak sebagai manusia, tapi di mana letak kemanusiaan masih menjadi sebuah tanda tanya. Perdamaian akan terwujud apabila kita mampu memahami konsep memanusiakan manusia.
Seorang musisi legendaris bernama John Lennon pernah menyampaikan pikirannya tentang perdamaian abadi, “Jika seseorang berpikir bahwa cinta dan perdamaian adalah sebuah hal klise yang harus ditinggalkan di era enam puluhan, itu masalah dia. Cinta dan perdamaian itu abadi.”
(Redaktur Tulisan: Intan Sari)

