Hits: 32

Reporter Pijar

Pijar, Medan. Hari Demokrasi Internasional yang diperingati setiap tanggal 15 September menjadi momentum penting bagi masyarakat global, termasuk Indonesia, untuk merefleksikan nilai-nilai demokrasi seperti kebebasan, partisipasi, dan inklusi sosial.

Peringatan ini pertama kali ditetapkan melalui Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2007, sebagai bentuk komitmen internasional dalam memperkuat sistem pemerintahan yang demokratis. Penetapan tanggal 15 September sendiri merujuk pada adopsi Deklarasi Universal tentang Demokrasi oleh Inter-Parliamentary Union (IPU) pada tahun 1997. Sejak saat itu, negara-negara anggota didorong untuk menggunakan momen ini sebagai ajang evaluasi dan penguatan sistem demokrasi masing-masing.

PBB melalui laman resmi menyebut bahwa di era sekarang, kaum muda menjadi sangat rentan terhadap disinformasi dan memiliki peran penting dalam menjaga demokrasi yang inklusif. Selain itu, institusi negara dan lembaga media dituntut untuk lebih responsif dan akuntabel, agar demokrasi tidak hanya menjadi retorika, tetapi nyata dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Refleksi ini juga relevan untuk Indonesia. Di tengah dinamika politik, tantangan keamanan sosial, dan perkembangan teknologi informasi, keadilan dalam partisipasi politik dan akses informasi menjadi krusial. Bagaimana kebijakan, media, dan masyarakat sipil dapat bekerja sama agar demokrasi inklusif tetap terjaga?

Di Indonesia, demokrasi telah mengalami perjalanan panjang. Sejak peristiwa Reformasi 1998, ruang kebebasan berpendapat, kebebasan pers, dan kontrol publik terhadap pemerintahan semakin terbuka. Namun, praktik intoleransi, pembatasan ruang sipil, serta rendahnya literasi politik masih menjadi tantangan yang perlu diatasi bersama.

Peringatan Hari Demokrasi Internasional kali ini menjadi panggilan bagi semua pihak, baik pemerintah, lembaga pengawas, media, maupun masyarakat untuk memperkuat ruang demokrasi sebagai ruang aman dan inklusif, di mana setiap suara dihargai, memiliki kesempatan yang sama, dan keamanan bukan hanya sebatas kondisi, tetapi juga pengalaman demokrasi itu sendiri.

Dengan refleksi ini, peringatan hari demokrasi bukan sekadar seremoni, tetapi ajakan untuk tetap kritis, peduli, dan terlibat aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment