Hits: 880

Atika Putri

Judul                           : peREmpuan

Pengarang                   : Maman Suherman

Penerbit                       : Imprint KPG

Penyunting                 : Pax Benedanto

Gambar Sampul        : Asti Husain

Tataletak Isi               : Teguh Tri Erdyan

Tebal                            : 189 Halaman

ISBN                            : 978-602-6208-32-3

Terbit                           : Mei 2016

Kategori                      : Novel

Re:

Engkau mimpi masa lalu

Yang tak (lagi) kunjung nyata

Tapi hidup dalam alir darahku

Mengetuk-ngetuk sukmaku

Selamanya…

 

Pijar, Medan. peREmpuan merupakan sekuel novel Re: yang ditulis oleh Maman Suherman atau yang kerap disapa kang Maman. Jika dalam cerita sebelumnya kang Maman bercerita tentang kisah hidup Rere, seorang perempuan yang bekerja sebagai seorang pelacur lesbian yang diangkat dari skripsinya berdasarkan kisah nyata. Maka novel ini mengisahkan tentang 26 tahun setelah kematian Re:.

Melur, anak perempuan Rere yang telah belajar di salah satu universitas terkemuka di negeri sakura dan kini telah menyandang gelar PhD di belakang namanya. Ia kembali ke tanah air dengan berbagai tanda tanya dikepalanya.  Melur yang selama ini mengira Bu Marlina dan Pak Sutadi sebagai orangtuanya, mulai curiga dan mempertanyakan siapa orangtua kandungnya. Sebelum kepulangannya kali ini, ternyata ia juga pernah kembali ke tanah air beberapa kali untuk mencari tahu kebenarannya. Benarkah orang yang selama ini ia panggil Tante Re: merupakan ibu kandungnya? Apakah benar ibunya bekerja sebagai seorang pelacur lesbian?

Jaga dan peluk Melur, untukku.

Bisikkan selalu:

“Nak, Ibumu mencintaimu”

Kutipan diatas merupakan alinea terakhir surat Re: untuk Herman dua hari sebelum kematiannya. Rere berpesan kepada Herman untuk terus menjaga Melur. Herman yang selalu mencintai Re: dan tetap menyimpannya di lubuk hati. Kemudian menikah dengan Sekar lima tahun sepeninggal Re: dan kini telah dikaruniani dua orang anak. Sekar sendiri sangat menyayangi Melur seperti anaknya sendiri. Melur juga menyayangi dan menganggap anak Herman sebagai adiknya.

Setelah 26 tahun, Herman selalu didatangi oleh Re: dalam mimpinya. Rere meminta supaya Herman membalaskan dendamnya kepada orang-orang yang telah membuat hidupnya kelam. Hidupnya yang selalu semangat namun dalam dunia naluri banyak tangis tanpa air mata. Merasa telah mati walaupun masih bernafas. Begitu pula dengan Melur. Ia juga kerap bermimpi tentang Re:. Melur selalu bertanya dan berdiskusi dengan Herman tentang hukum pemidanaan dan selalu dikait-kaitkan dengan balas dendam. Herman selalu risau dengan segala pertanyaan dan rasa ingin tahu Melur. Ia takut cinta pertamanya yang kini telah tenang di alam sana kecewa jika akhirnya mengatakan apa yang telah ia pendam selama lebih dari seperempat abad.

Bagi pembaca yang belum membaca novel Re:, jangan khawatir karena dalam  peREmpuan ini, kang Maman juga terus menceritakan sosok Rere dan kehidupan prostitusinya. Bukan hanya kisah kelam kehidupan gelap Re:, namun juga beberapa pelacur lain yang pernah ditemui oleh penulis baik itu perempuan maupun laki-laki juga ikut dituliskan. Dalam novel ini, kang Maman menekankan bahwa anak seorang pelacur tidak selamanya bernasib sama seperti ibunya. Anak seorang pelacur dapat sukses dan membanggakan. Berwawasan luas, cerdas, juga berpendidikan tinggi bahkan mendapatkan gelar dari universitas terkemuka di luar negeri. Ia yakin bahwa Rere yang meninggal secara tragis, disalib di tiang listrik dengan tubuh penuh sayatan akan bangga melihat anak kesayangannya sudah seperti sekarang.

Dalam novel sebelumnya penulis menggunakan sudut pandang seorang mahasiswa yang mencoba masuk ke dalam dunia prostitusi, dengan menjadi supir seorang pelacur lesbian demi mendapatkan bahan skripsinya. Sedangkan dalam novel kali ini, penulis menggunakan sudut pandang dua puluh enam tahun kemudian dimana mahasiswa tersebut sudah berubah menjadi seorang ayah yang telah menginjak usia kepala lima. Penulis juga sesekali menyisipkan kehidupan prostitusi masa kini yang malah sudah dijadikan hobi oleh para pelajar, mahasiswa dan bahkan seorang anak pejabat.

Kang Maman memang sudah dikenal piawai dalam menulis. Terbukti dari beberapa judul buku yang telah diterbitkannya selain Re: dan peREmpuan. Sama seperti novel Re:, di sini penulis  menggunakan bahasa yang vulgar dalam memaparkan dunia prostitusi yang dilakoni tokoh dalam novel. Untuk itu maka novel ini dikategorikan sebagai novel dewasa.

Walaupun novel ini terlalu banyak teori tentang kriminologi dan kepidanaan yang membuat orang awam akan merasa bosan dan ditemukannya beberapa kesalahan penulisan seperti salah menyebutkan nama tokoh yang membuat pembaca menjadi bingung dan salah tafsir. Namun di samping itu semua, novel ini banyak sekali menyampaikan pesan dan kesan tentang kehidupan. Karena itu, novel peREmpuan ini layak dijadikan referensi bacaan Anda.

Leave a comment