Grace Kolin

Judul               : Pasung Jiwa

Penulis             : Okky Madasari

Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit               : Mei 2013

Tebal               : 328 halaman

Seluruh hidupku adalah perangkap. Tubuhku adalah perangkap pertamaku, lalu orang tuaku, lalu semua orang yang kukenal. Kemudian segala hal yang kuketahui, segala sesuatu yang kulakukan. Semua adalah jebakan-jebakan yang tertata di sepanjang hidupku- Hal. 9.

Pasung Jiwa adalah salah satu novel terbaik Okky Madasari yang pernah meraih Khatulistiwa Literary Award 2012. Lewat novel ini, Okky mempertanyakan apakah kehendak bebas benar-benar ada? Apakah manusia bebas benar-benar ada? Melalui dua tokoh utama, Sasana dan Jaka Wani.

Kedua tokoh utama memiliki masalah yang rumit. Sosok mereka mewakili pergulatan hidup manusia dalam mencari kebebasan dan melepaskan diri dari segala kungkungan. Mulai dari kungkungan tubuh dan pikiran, kungkungan tradisi dan keluarga, kungkungan norma dan agama, hingga dominasi ekonomi dan belenggu kekuasaan.

Berlatar zaman pra dan pasca Orde Baru, Okky mengawali Pasung Jiwa dengan Sasana. Seorang laki-laki tulen yang kemudian memilih untuk menjadi Sasa, biduan wanita dengan suara dan goyangan maut untuk membiayai hidup.

Sasana dulunya dibesarkan di keluarga yang mapan. Hidupnya serba berkecukupan. Namun, ia terbelenggu dalam tuntutan orang tuanya. Setiap hari, Sasana dipaksa bermain piano hanya demi memuaskan kebanggaan ayah ibunya. Ia bahkan dilarang untuk menonton dan memperagakan musik dangdut. Padahal ia sangat mencintai musik itu.

Ayahnya memberitahu bahwa musik dangdut itu tidak baik. Musik itu adalah musiknya orang mabuk dan orang yang tidak pernah sekolah. Musik itu pun akhirnya dicekal dari kehidupannya. Seiring berjalannya waktu, Sasana pun semakin menyesal karena telah dilahirkan sebagai laki-laki. Hal itu mengingatkannya pada masa SMA yang kelam. Sebagai sesama laki-laki, ia dijadikan bulan-bulanan dan sapi perah geng yang berkuasa.

Segalanya berubah ketika ia bertemu dengan Cak Jek. Dengan modal ‘nekad’ Cak Jek mengajaknya untuk menjadi penyanyi profesional. Lewat tangannya pula, Sasana dipoles menjadi Sasa “sang biduan”. Penampilan mereka berdua pun selalu ditunggu-tunggu di kafe Cak Man setiap malamnya. Siapa sangka, hasil jerih payah mengantarkan Sasa menjadi artis kampung yang laris manis di puncak popularitasnya.

Namun, titik balik itu terulang kembali. Sasana alias Sasa harus menghadapi penderitaan tak terperi sebagai seorang waria. Ia pernah ditangkap polisi ketika melakukan demonstrasi membela Marsini, buruh pabrik yang hilang karena protes kenaikan upah. Di balik jeruji besi, ia pun pernah digunakan sebagai alat pemuas oleh aparat negara. Bahkan, ia pernah dijebloskan ke rumah sakit jiwa karena dikira tak waras oleh orangtuanya sendiri. Berkali-kali mental dan nyalinya diuji, tapi Sasa tetap keukeuh memperjuangkan kebebasannya.

Aku si Sasa. Saudara kembar Sasana. Kami kembar, tapi kami berbeda. Kami satu tubuh tapi kami dua jiwa. Kami tak saling meniadakan. Kami sepasang jiwa saling merindukan. Menjadi dua bukanlah kesalahan. Menjadi satu bukanlah keharusan. Sasana memang berpenis, tapi Sasa punya lubang dan puting.  Sasa bernyanyi dan bergoyang. Sasana bersiul dan menabuh gendang. Kami satu, tapi kami dua. Kami dua, tapi kami satu. Hal – 232.

Tak jauh berbeda dengan Sasana, ada Jaka Wani. Jaka adalah nama lain dari Cak Jek. Ia mengganti namanya selepas keluar dari penjara. Kebetulan, saat itu ia juga tertangkap pada waktu demonstrasi dengan Sasana. Ia kini menjadi pembela agama Islam ‘garis keras’ dengan nama Jaka Baru setelah keluar mengadu nasib dari Pulau Batam.

Bersama dengan teman-teman Laskar Malang, ia rutin melakukan sweeping ke tempat yang menjadi sumber maksiat. Ia juga kerap dielu-elukan sebagai pemimpin dan panutan agama. Di sisi lain, ia terus dibayang-bayangi oleh perasaan bersalah terhadap Marsini, Sasa, dan Elis, PSK yang tak mampu ia selamatkan. Hingga pada akhirnya, takdir mempertemukannya kembali dengan Sasa.

Malam itu, hati Jaka Baru hancur ketika teman-temannya menciduk Sasa yang sedang pentas di Malang. Tak tahan melihat Sasa dilecehkan, Jaka Baru segera memberikan perintah untuk menggiring Sasa ke kantor polisi sebelum melihat Sasa ditelanjangi habis-habisan.

Di pengadilan, hakim memvonis Sasa dengan hukuman tiga tahun penjara. Sasa terbukti menistakan agama, melakukan goyangan dengan unsur pornografi serta melawan takdir Tuhan dengan menjadi waria. Lantas, apakah Jaka Baru akan membiarkan Sasa kembali terpenjara?

Pasung Jiwa layak diapresiasi karena membuat kita memikirkan kembali apa itu arti kebebasan. Di sisi lain, Okky juga mampu melukiskan duka seorang waria dengan baik di tengah pertentangan moral dan agama. Membaca Pasung Jiwa seperti merenungkan kembali suara hati waria. Suara yang kerap terabaikan dan terasingkan oleh kaum biner gender. Dan terkadang, ada perlunya kita bersimpati dengan mereka. Memberikan mereka ruang untuk berkreativitas, bukan malah mengucilkan dan menghakimi pilihan mereka.

Novel ini sangat direkomendasikan untuk pembaca yang tertarik dengan isu gender. Dengan bahasa yang ringan dan mengalir, pembaca seolah tenggelam dalam dunia Sasana dan Jaka Wani, dunia yang penuh dengan petualangan mencari kebebasan.

Kesadaranku menentukan apa yang aku ingat dan aku pikirkan. Aku tuan atas tubuhku. Aku majikan atas pikiranku – Hal. 227.

 

Leave a comment