Hits: 13
Gabriella Prilly Elvani/Yasmin Nabilah F
Pijar, Medan. Jika orang lain melakukan hal yang tidak pasti sebelum maupun sesudah tidur, namun ia selalu menciptakan karya-karya tulisan berupa puisi maupun cerita pendek. Itulah yang biasa dilakukan oleh seorang Naomi setiap harinya, karena baginya menulis itu adalah jiwanya. Jika orang lain terinspirasi dari apa yang ia tulis maka saat itulah ia merasakan kebahagiaan yang tidak terlupakan sepanjang hidupnya.
Naomi yang akrab dengan sapaan Mbak Naomi ini merupakan seorang Mahasiswi aktif di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Fakultas Pendidikan Bahasa Inggris stambuk 2013. Perempuan kelahiran Serdang Bedagai , 20 Januari 1995 ini adalah anak terakhir dari empat bersaudara dimana Mbak Naomi ini mempunyai dua kakak perempuan dan mempunyai satu abang. Saat ini perempuan yang berusia 21 tahun itu sedang menjabat sebagai Sekretaris Umum periode 2016/2017 di UKM-LPM Teropong UMSU.
Perempuan kelahiran 20 Januari ini pernah meraih prestasi yang cukup banyak dalam dunia akademik, antara lain : juara ke-2 Paper Presentation 2015 yang diadakan oleh universitas, pencari iklan terbaik di Unit Kegiatan Mahasiswa Persma Teropong, pernah menjadi kontributor terfavorit dalam ajang penulisan puisi yang diadakan oleh Sabana Pustaka 2016 lalu, karya yang dibukukan oleh tim nulisbuku.com dengan judul “Sepucuk Rindu di Puncak Gundaling” tentang kerinduan bersama sahabat, menjadi kategori pemenang pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2016, dan terakhir menggarap buku narasi puisi yang berjudul “Sepotong Rasa Untukmu”.
Karangan-karangannya yang sudah diterbitkan di beberapa media baik dalam bentuk puisi maupun cerpen, antara lain Elegi Cinta (terbit pada hari Rabu, 11/05/2016 di koran Harian Analisa Medan), Harum Lebaran terbit pada hari Minggu, 03/07/2016 di Harian waspada), Diary Angel (diterbitkan oleh Tabloid Expresi), Cerpen Kak Kurni (diterbitkan oleh majalah : Anak SMA Magazine).
Bagi perempuan yang akrab dengan sapaan Mbak ini sudah terbiasa dengan pengalaman gagal, namun baginya sikap pantang menyerah itu tidak boleh diciptakan dan harus dilawan karena itu bisa merusak mood.
“Pada waktu saya duduk dibangku SMA, naskah novel saya itu pernah terkena virus jadi file nya semua terhapus dan sama sekali tidak ada pertinggalnya, dan selalu kena ejek sama teman-teman saya kalau saya sedang nulis suatu karya, dibilang lebai lah dan semacamnya, tetapi saya tidak pantang menyerah. Sampai pada akhirnya tulisan saya bisa tembus di media seperti Harian Analisa, Waspada Tabloid Expressi dan juga anak SMA”, ujar perempuan manis berumur 21 tahun itu ketika mengungkapkan suka duka yang pernah dialaminya.
Yang menjadi salah satu motivasi andalan perempuan penyayang ini dalam menciptakan suatu karya adalah diri sendiri dan lingkungan. Kenapa? “Karena saat ini kita berada di ruang lingkup yang serba canggih jadi kita bisa melakukan apa saja yang kita inginkan. Mbak Naomi lebih kepada muda berkarya, tua kita kaya, yang maksudnya, ya saatnya kita yang msih muda itu ya berkarya agar tua nanti kita bisa nikmati hasilnya”, jelas mbak naomi.
Dibalik kesuksesannya, ada sosok yang paling berharga dimatanya yaitu orang tuanya, sahabat, dan para dosen yang membantu serta dalam memberi dukungan kepadanya. Yang menjadi inspirasi perempuan manis ini adalah Boy Chandra yaitu penulis asal Sumbar dan penulis-penulis lainnya. Kenapa Boy Chandra? Karena baginya orang tersebut sangat percaya diri dengan karya yang diciptakannya. Setelah itu berlanjut ke ibunya dan semua teman-temannya.
“Teruslah menjadi cahaya untuk diri sendiri yang kemudian dengan cahaya itu kita bisa menerangi banyak orang. Terus menjadi apa yang kita inginkan sampai kita benar-benar bisa mewukudkannya dalam kepastian. Sukses itu bukan dengan cara duduk diam tetapi mandi darah dengan berjuta rasa”, pesan mbak naomi buat orang disekitarnya. Semoga mbak naomi dapat menjadi inspirasi bagi semua khalayak, dan terus berkarya dan dapat bermanfaat bagi orang banyak.

