Khairullah bin Mustafa Usman

Medan, Pijar. Seniman ini lebih suka disebut penyair ketimbang penyanyi. Dia adalah Ebiet G. Ade yang lahir di Wanadadi, Barjanegara, 12 April 1955. Menyanyikan lagu-lagu balada sarat makna, membuatnya tak melulu disebut penembang cinta. Alam, sosial, juga budaya yang bereligi juga menjadi tema usungannya. Lewat lagu yang diciptakannya, ia berusaha menyampaikan pesan dan nilai moral kepada mereka yang peduli.

Gagal melanjutkan studi ke Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, membuatnya memilih untuk bergabung dengan sebuah grup vokal guna ikut membantu kedua orangtunya dalam menghidupi keluarga. Anak dari pasangan Aboe Dja’far dan Saodah ini sebenarnya bernama asli Abid Ghoffar Aboe Dja’far. Nama Ebiet G. Ade muncul dari pengalamannya ketika kursus bahasa inggris semasa SMA. Gurunya yang seorang asing ketika itu biasa memanggilnya Ebiet. Sementara nama ayahnya digunakan sebagai nama belakang. Disingkat dan kemudian ditulis Ade. Sehingga nama populernya sampai sekarang menjadi Ebiet G. Ade.

Sering dikritik karena kerap menyanyikan syair-syair Emha Ainun Najib, membuatnya terus melatih diri dalam merangkai kata-kata yang selanjutnya untuk dilagukan. Bermula dari kiprahnya di kampung-kampung Yogya, hingga melahirkan album-album hits seperti Cinta Sebening Embun dan Kupu-Kupu Kertas.

Pada saat Aceh luluh lantak diterjang tsunami, musisi spesialis tragedi ini tertegun dan mejadikan satu karyanya yang berjudul Berita Kepada Kawan sebagai “theme song” berita bencana alam.

Ayah dua orang anak ini, sukses menyabet gelar sebagai penyanyi solo dan balada terbaik hingga ke tingkat Asia. Sampai saat ini ia masih berkarya dan mewariskan bakat kepada anaknya. Ada hal yang menarik dari Ebiet G. Ade, ia tak pernah lagi membawakan lagu ciptaan musisi lain dan selalu mengajak manusia mesyukuri keberkahan yang Allah beri dalam hidup.

Leave a comment