Pijar, Padang Panjang. Seperti pelangi yang terlihat indah karena keberagaman warnanya, keberagaman budaya di bumi pertiwi Indonesia senantiasa menjadi suatu pemandangan yang menggugah. Mulai kekayaan ragam kuliner hingga perbedaaan kepercayaan. Keindahan itu pun kian menjejak di ranah minang Provinsi Sumatera Barat.

Perjalanan menggunakan bus Pemda Padang Panjang menjadi awal perjalanan. Tidak sampai setengah jam kami tiba di Taman Kota Padang Panjang. Di taman terlihat beberapa murid SD mengenakan seragam olahraga sedang bermain dengan teman-temannya. Perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki menuju lokasi yang dituju. Titik pusat pencarian, SD Fransiskus Padang Panjang. Sebuah sekolah Katolik di tengah Padang Panjang, kota yang mendapat julukan “Serambi Mekkah” dari masyarakat Sumatera Barat.

Hal pertama yang terlihat saat mendekati lokasi sekolah adalah salib yang menjulang di atap sebuah bangunan. Keberadaan salib itu menandakan bahwa bangunan itu ialah sebuah gereja. Di sebelah kanan gereja terdapat taman bermain yang diperuntukkan bagi siswa TK Petrus.

Foto : Jefri Rajif

Memasuki area sekolah, kami disambut dengan senyuman hangat kepala sekolah SD Fransiskus. Tanpa berlama-lama Lina Lindayanti, sang kepala sekolah tersebut mengajak kami untuk berbincang di ruang guru yang terletak di sebelah gereja.

Tampak pot-pot tanaman tertata rapi di depan ruangan yang ada di sebelah gereja. Ruangan ini berjajar dengan ruang guru, ruang bermain TK, ruang UKS juga ruang Perpustakaan. Di dalam ruang guru kami bertemu seorang wanita berjilbab yang ternyata guru di sekolah itu. Pemandangan yang tidak biasa ditemui di sekolah-sekolah Katolik di daerah lain. Guru tersebut baru setengah tahun mengajar sebagai guru Bahasa Inggris.

Lina duduk di sebelah kiri saya dengan ramahnya. Senyum hangat tidak pernah lepas dari wajahnya sepanjang perbincangan. Mata teduh di balik kacamata kotak itu menatap kami bergantian. Beliau mengenakan baju batik berwarna merah dengan motif mega mendung. Motif yang mencerminkan sifat dinamis, lugas dan terbuka. Ia telah menjabat sebagai kepala sekolah SD Fransiskus selama 10 tahun lebih.

“Pendidikan kunci kemajuan. Orang bodoh jika ia disiplin, ia akan pintar. Sedangkan orang pintar namun jika ia tidak disiplin tidak akan ada hasilnya,” ujar Lina saat ditanya mengenai motto sekolah ini. Sistem yang sangat disiplin merupakan salah satu kelebihan sekolah ini.

Dari perbincangan selama satu jam itu kami mengetahui bahwa SD Fransiskus tersebut dibangun pada tahun 1957 oleh Pastor Mario Boggioni. Kini SD Fransiskus berada dalam naungan Yayasan Prayoga yang berpusat di Padang. Bangunan yang pertama kali digunakan menjadi ruang kelas adalah aula Gereja St.Theresia. Lalu pada tahun 1968 dibangun gedung kelas baru yang terletak di belakang dan kanan gereja.

Kelas tersebut terdiri atas dua lantai, lantai pertama terdiri dari empat ruang kelas yang digunakan sebagai ruang kelas 1,2,3 dan ruang belajar TK Petrus. Sedangkan lantai 2 digunakan sebagai ruang kelas 4,5,6 dan ruang komputer. Ruang komputer itu berisi 17 unit komputer. Bukan jumlah yang banyak untuk sebuah Yayasan. Namun dimanfaatkan dengan maksimal oleh pihak sekolah, dengan mengadakan jam tambahan mata pelajaran komputer.

Di tiap kelas disediakan satu rak khusus untuk menempatkan bekal makanan yang dibawa para siswa. Pihak sekolah memang mengharuskan siswanya untuk membawa air minum mereka masing-masing. Tidak jarang juga beberapa siswa dibawakan bekal oleh orangtua mereka, melihat jam pelajaran yang terkadang sampai pukul setengah tiga siang. Waktu normal proses belajar mengajar berakhir pukul satu siang. Namun pihak sekolah juga menyediakan jam tambahan belajar bagi siswanya.

 Penanaman Jiwa Toleransi

Kesempatan untuk berkeliling sekolah ini memberikan kejutan lain. Ditemani oleh Defi Sarty, seorang guru kelas 5, beliau juga menjelaskan banyak hal mengenai sekolah tersebut. Lantai keramik biru muda dengan warna cat dinding putih menambah kesan rapi dan teduh. Pemandangan indah kami dapati saat berjalan di lantai dua. Gunung Merapi menjadi pemandangan di sebelah kanan, dilengkapi dengan gunung Singgalang di sebelah kiri.

Keberadaan salib di dinding depan kelas mengingatkan kembali bahwa sekolah tersebut merupakan sekolah Katolik. Walaupun saat ini 62% dari jumlah siswanya bergama Islam. Sedangkan siswa beragama Kristen Protestan berjumlah 38 orang, Kristen Katolik berjumlah 42 orang dan 3 orang siswa yang beragama Buddha.

Hanya ada 10 orang guru yang bekerja di Sekolah ini. Tujuh orang diantaranya beragama Islam. Dari para guru mereka, siswa meniru sikap toleransi yang harus mereka miliki.

Foto : Jefri Rajif

Perbedaan tersebut menuntun siswa untuk memiliki jiwa toleransi yang tinggi. Para guru juga menanamkan rasa berbagi yang baik pada siswanya.

Sejak dini, para siswa diajarkan untuk saling tolong-menolong dan menabung. Setiap siswa memiliki buku tabungan yang dikelola oleh guru mereka.

Pihak sekolah menganjurkan para siswa yang beragama Islam untuk mengaji di Tempat Pendidikan Agama (TPA) setiap sorenya. Di sekolah juga disediakan guru Agama Islam dan mata pelajaran Bahasa Arab. Dapat menjadi modal para siswa jika mereka melanjut ke sekolah negeri ataupun madrasah.

Perjalanan kami di SD Fransiskus diakhiri dengan foto bersama di depan bangunan gereja. Suatu perjalanan yang membuka mata, perbedaan yang ada di SD Fransiskus menjadikan toleransi menjadi hal yang sangat penting. Perbedaan yang menjadikan SD Fransiskus satu jejak pelangi toleransi di tengah Kota Padang Panjang, melengkapi keindahan keberagaman daerah Serambi Mekkah nya ranah minang ini.[NF]

Leave a comment