Pijar, Medan. FISIP USU mengadakan orasi ilmiah sebagai rangkaian Peringatan Dies Natalis FISIP yang ke-33. Orasi Ilmiah tersebut diadakan di Aula FISIP USU, (26/10) yang mengambil tema “Peran Strategis FISIP USU dalam Memperkuat Karakter Bangsa.” Acara diisi langsung oleh Dr. Jannus Timbo Halomoan Siahaan, M.Si yang merupakan salah satu alumni dari FISIP USU. Orasi ilmiah ini bertujuan untuk meningkatkan dan memperkuat karakter bangsa dengan lembaga pendidikan tinggi yang berperan besar dalam hal tersebut, khususnya kepada anak muda yang semakin lama kehilangan identitasnya sebagai generasi penerus.

Alumni dan pemateri acara, Jannus Timbo, dalam diskusi yang berbentuk orasi ilmiah kemarin menyikapi tentang karakter bangsa yang semakin kehilang identitasnya. Ia mengatakan bilamana  karakter bangsa tercipta, maka komunitas akademik bisa didorong menjadi epistemic community yang senantiasa berpikir kritis untuk mengembangkan komitmen dan produk keilmuan di tingkat praksis. “Dengan demikian, nation state kita tidak hanya berkembang dalam pembangunan yang artificial tetapi, nation state bisa berkembang dengan sebuah arahan jati diri yang khas sebagai bangsa Indonesia,” tutur beliau.

FISIP USU mengadakan orasi ilmiah sebagai rangkaian Peringatan Dies Natalis FISIP yang ke-33 dengan tema “Peran Strategis FISIP USU dalam Memperkuat Karakter Bangsa.” Foto : Yudha Ikhsan

Lembaga pendidikan tinggi dalam ini khususnya FISIP mempunyai peranan besar dalam menciptakan individu-individu yang berkarakter dan berintegritas dalam semangat kebangsaan. Hal tersebut dikarenakan nilai normatif harus tertanam dalam setiap benak insan-insan intelektual muda yang semakin lama semakin apatis, individualis, dan kering akan semangat nasionalisme. Oleh karena itu, lembaga pendidikan tinggi tidak hanya mempunyai kewajiban untuk terdepan dalam transfer of knowledge dan transfer of skill. Lembaga pendidikan tinggi mempunyai amanah luhur untuk melakukan sebuah proses pertransferan nilai-nilai luhur dan nilai-nilai normatif kepada generasi penerus.

Cara pandang kritis merupakan salah satu nilai yang juga diharapkan dapat diterapkan dalam lembaga pendidikan tinggi. Cara pandang tersebut dicita-citakan dapat berperan dalam menciptakan praktek-praktek sosial dan praktek politik yang berkebangsaan. Hal tersebut dikarenakan karakter merupakan sikap dan perilaku dari segenap peri kehidupan dari individu yang memilikinya. Karakter juga memiliki pengaruh yang besar dari proses pengajaran dan pendidikan yang seperti kita ketahui lembaga pendidikan tinggi mempunyai andil dalam hal tersebut. Salah satu metode alternatifnya dalam pengaplikasiannya di ranah pendidikan dengan membebaskan serta membuka ruang untuk berpikir kritis. Metode ajar-didik yang kritis dan membebaskan akan membawa setiap peserta didik untuk membebaskan dirinya dari budaya diam dan budaya bisu. Jika dikaitkan dengan proses pembangunan karakter kebangsaan, metode ini akan membantu setiap peserta didik akan membongkar kuasa sosial dan politik yang melingkupinya dan akan memberikan rangsangan kepada para generasi muda untuk membangun ulang pemaknaan dalam posisinya sebagai warga negara yang memiliki sifat nasionalisme-kebangsaan.

Penyerahan cinderamata oleh Prof. Dr. Badaruddin, M.Si, Dekan FISIP USU, kepada Dr. Jannus Timbo Halomoan Siahaan, M.Si. Foto : Yudha Ikhsan

Dies Natalis merupakan kegiatan tahunan yang selalu diadakan FISIP USU. Orasi Ilmiah adalah tradisi yang ingin selalu diadakan oleh Fakultas. “Tema dari Orasi Ilmiah ini atas dasar kami melihat ada kegamangan pada karakter bangsa yang terlihat hanya sekadar menggantung ke langit, namun karakter bangsa harus diimplemantasikan dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, melalui kegiatan orasi ilmiah  ini, kami ingin mengeksplorasi dan dielaborasi agar teman-teman mahasiswa mengetahui apa sebenarnya karakter bangsa kita. Ditengah keadaan yang semakin kurangnya kepercayaan masyarakat pada masalah-masalah yang sedang terjadi di negeri ini,” tutupnya.

Selain diadakannya acara orasi ilmiah pada Dies Natalis USU yang ke-33, FISIP USU juga mengadakan reuni akbar yang mengundang alumni FISIP stambuk 1980 hingga stambuk 2009 yang baru menjadi alumni. Acaranya lebih bersifat temu ramah antar para alumni sekaligus acara pegelaran seni yang diisi oleh para junior-junior mereka. [YI/NA]

Leave a comment