Hits: 5
Ruth Syahputri Situmorang
Siswa SMAN 4 Medan mendapatkan edukasi mengenai bahaya pelecehan anak (child grooming) melalui kegiatan literasi media digital, bertemakan “Saring Sebelum Trusting: Lindungi Diri dari Child grooming”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU) sebagai bagian dari implementasi Mata Kuliah Literasi Media Digital, pada Jumat (8/5/2026).
Sosialisasi berlangsung di SMAN 4 Medan, Jalan Gelas No. 12, Medan Petisah, bertujuan untuk meningkatkan pemahaman remaja mengenai child grooming yang semakin rentan terjadi melalui media sosial dan berbagai platform digital. Dalam kegiatan tersebut, siswa diberikan pemahaman mengenai pengertian child grooming, tahapan yang biasa dilakukan pelaku, ciri-ciri yang perlu diwaspadai, hingga langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan.
Materi disampaikan secara interaktif dan informatif oleh tim mahasiswa yang terdiri dari Gunawan, Ruth Syahputri dan Sarah Aurel. Mereka menyampaikan pesan melalui presentasi materi, pemutaran video edukasi, sharing session, serta contoh kasus yang dekat dengan kehidupan remaja.
Selain itu, peserta juga diajak mengikuti gerakan dari video “Ini Area Privasiku”, sesi berbagi pengalaman, dan permainan edukatif yang dibawakan oleh Enzo Lee Darwin dan Khansa Amara Putri Siregar yang bertujuan untuk memperkuat pemahaman mengenai pentingnya menjaga batasan diri dan privasi.

Sumber Foto: Dokumentasi Panitia Tim Child Grooming
Ketua pelaksana kegiatan, Gunawan, mengatakan bahwa edukasi mengenai child grooming penting diberikan kepada remaja karena mereka merupakan kelompok yang aktif menggunakan media digital dan rentan menjadi sasaran pelaku kejahatan daring.
“Banyak remaja yang aktif di media sosial, tetapi belum memahami bagaimana pelaku grooming membangun kedekatan dan memanipulasi korbannya. [Oleh] karena itu, kami ingin membantu siswa mengenali tanda-tandanya sejak dini agar lebih waspada,” ujarnya.
Antusiasme peserta terlihat selama sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung. Sejumlah siswa aktif menyampaikan pendapat, menjawab pertanyaan, hingga berbagi pengalaman terkait child grooming dan keamanan digital. Salah satunya adalah Abid, selaku peserta kegiatan, menyampaikan beberapa edukasi yang didapatkannya dari kegiatan tersebut.
“Dengan adanya sosialisasi dari kakak dan abang mengenai child grooming, saya dan teman-teman saya jadi lebih mengetahui apa itu child grooming, tahapannya apa saja yang mungkin banyak kami tidak sadari dapat terjadi di kehidupan kami dan kami juga jadi tahu cara menghindarinya,” ucapnya.
Melalui kegiatan ini, tim mahasiswa berharap kepada para siswa agar tidak hanya memahami bahaya child grooming secara teori, tetapi juga mampu menerapkan sikap lebih kritis, menjaga data pribadi, serta berani mencari bantuan kepada orang tua, guru, atau pihak terpercaya apabila menemukan situasi yang mengarah pada tindakan grooming.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

