Lusi Indrawati sudah berkecimpung di dunia pendidikan anak usia dini sejak berada di bangku kuliah. Foto : Dana Anjani.

Pijar, Medan. Suara anak-anak memenuhi seisi ruangan. Keceriaan terpancar jelas pada wajah mereka. Sesekali keusilan mereka membuat gaduh saat mereka mulai menirukan suara binatang yang dikenalnya. Di depan ruangan, duduk seorang pengajar berwajah ramah berpenampilan sederhana. Tiap celotehan anak-anak yang muncul selalu ditanggapinya dengan penuh perhatian. Tak ada rasa bosan dan bingung menghadapi murid-muridnya saat itu. Dialah Lusiana Indrawati, seorang pengajar sekaligus pemilik dari sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) “Ilma” ini.

Bunda. Begitulah biasanya Lusi dipanggil di sekolah ini. Perempuan kelahiran 5 April 1967 ini sudah berkecimpung di dunia pendidikan anak usia dini sejak berada di bangku kuliah. ‘’Saya sudah menjadi kepala sekolah di TK Al-Fajar di bawah KKSP (Kelompok Kerja Sosial Perkotaan) sejak kuliah,’’ tuturnya. Baginya, mengajar tidak membuatnya kesulitan dalam mengatur waktu sebagai seorang mahasiswa. Hal ini terbukti dari kelulusannya yang tepat waktu dengan nilai yang memuaskan. “Tidak ada yang terabaikan kok, saya lulus tepat waktu, nilai pun bagus, saya waktu itu adalah lulusan termuda pula,” tambahnya.

Perjalanan waktu ternyata tak mampu memadamkan ketertarikannya pada dunia pendidikan anak usia dini. Lusi pun sempat vakum dalam dunia mengajar menjelang pernikahannya dengan seorang dokter gigi yang dikenalnya saat menjalankan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Kota Batu Bara. Hal ini ia lakukan semata-mata tak ingin menjalankan segala sesuatunya dengan setengah-setengah. “Suami saya justru merasa bingung karena saya melepas segala kesibukan, tapi bagi saya yang terpenting saat itu adalah menikah dan mengurus keluarga, saya juga tidak mau bila tidak total dalam menjalankan semuanya,” ungkapnya.

Setelah diangkat menjadi pengajar di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU, ia pun makin sibuk dalam dunia mengajar. Walaupun begitu, keinginan untuk terus berbuat dalam dunia anak-anak, terus memanggil jiwanya. Bagi Lusi, anak-anak adalah pilar utama. Pendidikan bagi mereka adalah hal yang sangat penting guna membangun kepribadian dan kecerdasannya. Akhirnya, bersama teman-teman pengajian, Lusi mendirikan PAUD dibawah naungan LP2M (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat). Namun seiring berjalannya waktu dan telah mengalami beberapa kali pasang surut, akhirnya Lusi memilih untuk mendirikan PAUDnya sendiri. Sekolah PAUD ini kemudian diberi nama PAUD “Ilma”, yang berarti ilmu.

Lusi memilik keinginan semua orang bisa sekolah dan menghapus paradigma bahwa pendidikan itu mahal. Hal ini terbukti dari uang iuran sekolah di PAUD nya yang cukup murah dan dapat diterima kalangan menengah ke bawah, yaitu Rp 20.000 per orangnya. Walau begitu, jika diantara orang tua yang merasa tak mampu membayar, maka ia pun memberikan keringanan dengan cicilan yang ringan. Hal ini semata-mata ingin menegaskan bahwa tidak ada hal yang gratis di dunia ini. Menurutnya, untuk mendapatkan sesuatu, maka harus ada pengorbanan yang dilakukan. “Saya tanamkan ke orang tua disini, uang jajan yang mereka keluarkan harusnya bisa disimpan dan digunakan untuk keperluan sekolah mereka, jadi sebenarnya tidak berat kan,” ujarnya. Sekolah yang didirikannya ini pun memang ditujukan bagi anak dari keluarga kurang mampu. “Kalau orang kaya, untuk apa sekolah disini, mereka kan bisa sekolah di tempat yang lebih mahal,” tegasnya.

Atmosfir kekeluargaan begitu kental di PAUD Ilma. Foto : Dana Anjani.

Selain anak-anak sebagai pilar utama, kemudahan pengurusan operasional membuatnya lebih memilih mendirikan PAUD dibanding sekolah yang lain. ‘’PAUD Ilma adalah PAUD mandiri yang akan terus berjalan dengan ataupun tanpa bantuan dari mana-mana,’’ jelas Lusi. Dengan dukungan dari keluarga dan teman-teman, segala rintangan dapat dihadapi Lusi, mulai dari persaingan sekolah-sekolah sejenis hingga cibiran dari orang sekitar.

Kekeluargaan, demikian atmosfir yang kental sekali di sekolah ini. Begitulah nilai yang dibangun Lusi dalam memberdayakan sekolahnya. Sejak awal Lusi memang tidak berorientasi profit melainkan pada apa yang dapat ia berikan bagi masyarakat. Lusi juga membuat koperasi kecil di sekolahnya yang menyediakan alat-alat tulis yang dijual lebih murah. Tidak hanya anak-anak didiknya yang tertolong, namun juga orang di luar sekolahnya seringkali juga membeli peralatan menulis di koperasi ini.

Ia pun mengajak beberapa mahasiswanya yang tertarik mengajar anak-anak. Ini semua ia lakukan agar mahasiswanya pun mampu mengerti bagaimana berada di dunia pendidikan. “Saya selalu terbuka kalau ada mahasiswa yang mau magang dan menjadi pengajar disini. Cari pengalamanlah,” ungkap perempuan yang memiliki tiga orang anak ini. Menurut Lusi, mahasiswa saat ini adalah mahasiswa yang begitu suka menunggu. Tidak ada inisiatif, namun perlu diajak dan disadarkan, padahal dengan perkembangan zaman saat ini, seharusnya makin banyak hal positif yang dapat dilakukan oleh mahasiswa. “Mahasiswa sekarang itu gak mau gerak dan kurang inisiatif sendiri. Padahal pada diri merekalah kunci perubahan untuk menjadi lebih baik bagi masyarakat,” pungkasnya. [daa/akh]

 

Leave a comment