Valencia Christiani Zebua

Pijar, Medan. Komunikasi sudah ada jauh sebelum seluruh manusia di muka bumi ini ada. Hal ini memudahkan satu makhluk menyamakan maksud dan tujuan yang ingin dicapai. Komunikasi dapat dibagi dalam dua jenis secara verbal maupun non verbal. Salah satu yang menyokong penggunaan komunikasi verbal adalah bahasa.

Bahasa sebagaimana yang kita sama-sama tahu merupakan salah satu kemampuan manusia berkomunikasi. Sebagian dari kita akrab dengan bahasa yang dapat kita baca dan kita ucapkan dan suarakan, atau yang lebih sering kita sebut bahasa lisan. Kita membisikkan aishiteru kepada senpai kesayangan di Jepang, mengucapkan bonjour kepada monsieur di Perancis, dan meminta makan kepada ibu yang sedang masak dengan ‘mak aku lapar’.

Bahasa lisan sudah seperti nafas bagi manusia. Namun sadarkah kita, tidak semua manusia mampu mendengar dan berbicara seperti yang biasa kita lakukan? Tuna rungu atau yang lebih mengharapkan dipanggil teman tuli merupakan orang yang memiliki hambatan pendengaran. Oleh sebab itu, teman tuli berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.

Bahasa isyarat merupakan suatu cara berkomunikasi yang mengandalkan simbol atau bahasa tubuh, gerakan bibir, dan komunikasi manual. Di Indonesia sendiri terdapat dua bahasa isyarat yang populer. Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia) adalah bahasa isyarat yang sangat sering ditemukan di kalangan teman tuli dan teman pengguna bahasa isyarat. Bisindo lahir seiring berjalannya waktu dengan adanya pengamatan dari teman tuli. Meskipun belum diresmikan pemerintah, namun banyak digunakan. Sementara SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) merupakan adopsi dari American Sign Language yang bersifat baku, cenderung lebih sulit, banyaknya digunakan di Sekolah Luar Biasa (SLB) yang sudah diresmikan oleh pemerintah.

Terlepas dari dua jenis bahasa isyarat yang ada di Indonesia, sudah saatnya bagi kita yang dikaruniai kemampuan mendengar dan berbicara turut beradaptasi dan mulai mempelajari bahasa isyarat. Dilansir dari IDN Times, Indonesia menempati posisi keempat angka ketulian tertinggi di Asia Tenggara dan untuk keseluruhan, terdapat total 72 juta orang di dunia yang memiliki gangguan pendengaran.

Mengutip dari dr. Alvin Nursalim, SpPD di situs klikdokter.com, gangguan pendengaran tidak hanya terjadi pada anak baru lahir, namun dapat terjadi juga pada 30-35% orang di usia 65-75 tahun. Penggunaan bahasa isyarat mampu mempermudah kita sekarang atau nantinya untuk berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu, dengan banyaknya individu yang mulai mempelajari bahasa isyarat, kelak diharapkan terciptanya lingkungan yang setara dan hilangnya pagar pembatas tak kasat mata bagi kita sebagai teman dengar dan para teman tuli. Sadar atau tidak, di dunia ini terutama negara kita Indonesia, masih terdapat ketimpangan secara gamblang terhadap teman tuli. Apalagi menghadapi kondisi pandemi di mana semua masyarakat diwajibkan memakai penutup mulut. Bagaimana nasib teman tuli yang berharap pada gerakan bibir kita, bukan?

Terdapat banyak alasan baik untuk kita mulai mempelajari bahasa isyarat. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai suatu niatan baik bahkan untuk alasan kecil seperti ‘tidak ingin diteriaki cucu saat berbicara ketika tua nanti’. Sekarang adalah waktu yang tepat. Yuk, mulai mempelajari bahasa isyarat! Kalau kata salah satu aplikasi belanja daring sih, ‘mulai aja dulu’.

(Editor: Diva Vania)

Leave a comment