Hits: 17Ade Khairani Rintik hujan yang jatuh dan hatiku yang bergemuruh, Seolah menjadi irama yang perlahan membunuh Pagi ini, Sang…
Fajar bergulir menuju sang sasap
Tanpa sadar tapi harus, ia mulai meredup
Lalu menyapa si langit jingga
Kami hanyalah mahasiswa
Tak lain tak bukan hanya manusia
Kami bukan boneka siapa-siapa
Haru, membuatku jadi pilu
Hujan, membuatku jadi sendu
Aku berdiri di tengah hujan yang penuh haru
Indonesia dilahirkan oleh puisi yang ditulis secara bersama-sama oleh para pemuda dari berbagai wilayah tanah air. Puisi pendek itu adalah Sumpah Pemuda. Ia memberi dampak yang panjang dan luas bagi imajinasi dan kesadaran rakyat nusantara. Sejak itu pula, sastrawan dari berbagai daerah menulis dalam Bahasa Indonesia, mengantarkan bangsa Indonesia meraih kedaulatan sebagai bangsa yang merdeka.
Seperti hujan pekan kemarin
Gemuruh membahana, perkasa
Hingga terjerembab daun kering si pohon beringin
Achmad Syah Galang Ramadhan
Dingin malam kala itu menemaniku
Sepi terasa hening datang menghampir
Malam itu adalah malam yang indah bagi semua orang
Tapi hanyalah kegelapan yang suram untukku
Hits: 16Johns Immanuel Riuh tangis tak kunjung lepas Melihat dunia begitu kontras Jerebu tak berhenti menghempas, Malah bercengkrama dengan…
Melihatmu adalah hal paling pecundang dalam hidupku
Di depanmu prosaku hanyalah malu
Di depanmu aku mati terpaku, “kaku”
Rassya Priyandira salah satunya, pemuda kelahiran 19 Januari 2001 ini sudah tertarik dengan dunia puisi sejak duduk bangku sekolah. Hobinya itu mengantarkan ia menyabet beberapa juara pada kompetisi musikalisasi puisi, mulai dari tingkat daerah hingga nasional.
