Melihatmu adalah hal paling pecundang dalam hidupku
Di depanmu prosaku hanyalah malu
Di depanmu aku mati terpaku, “kaku”
Melihatmu adalah hal paling pecundang dalam hidupku
Di depanmu prosaku hanyalah malu
Di depanmu aku mati terpaku, “kaku”
Rassya Priyandira salah satunya, pemuda kelahiran 19 Januari 2001 ini sudah tertarik dengan dunia puisi sejak duduk bangku sekolah. Hobinya itu mengantarkan ia menyabet beberapa juara pada kompetisi musikalisasi puisi, mulai dari tingkat daerah hingga nasional.
hiburan live musik oleh LKSM disela jeda pertunjukan drama di Gedung Utama Taman Budaya (19/12).
(Fotografer: Mhd. Abdul Fattah)
Pijar, Medan. Senja itu halaman depan Departemen Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) diramaikan muda-mudi yang berlalu lalang menyaksikan acara musik bertajuk Agribusiness Festival Vol.3.
Dariku pria yang pernah kau tinggalkan
tanpa alas an
Rindu ini seperti
Belati yang menusuk hati
Hai… Kau..
Iya.. Kau.. Yang berdiri disana
Bertanggungjawablah atas diriku
Akhir-akhir ini hujan sering hadir
Terhisap oleh tanah dan menyuburkan buah-buah bibir
Karena tak semua orang suka buah
Maka,
Subur pun tak selamanya menghibur
Hujan turun membawa alur kacau pada hal manis yang perlahan luntur
Sebulan setahun bahkan seratus tahun
Aku selalu menunggu
Menunggu sesuatu yang tak pasti
Menunggu suatu harapan darimu
Menunggu sesuatu yang tak akan pernah terwujud
Ramadhan ini menyadarkanku
Betapa besar rasa sayang Allah padaku
Dia memintaku untuk menahan diri dari perkataan dan perbuatan
Padahal Dia menyimpan pesan agar aku berhenti dari kebiasaan burukku
Tuanku yang dulu
Kulihat tak pernah lepas tawa bahagiamu
Yang pastinya bukan saat bersamaku
Tapi dengan puanmu yang baru