Berdasarkan ceritamu pepohonan kandas Api melahap kebanyakan lahan Kesegaran lenyap sementara udara menjadi problema Dan kau semakin takut pada negerimu
bisikan angin yang menyentuh dedaunan bagaikan suara flute yang lembut suara tetasan air penambah kemerduan Tenang, tenang, dan tenang Desir ombak di pantai bernyanyi ditepi lautan luas
Kepalamu adalah deretan huruf, yang kubaca selepas pukul dua belas malam. Disana ada dua kata yang sering kutemukan, “aku” dan “kamu”. Lalu diujungnya terselip sebuah tanda tanya, mungkin beberapa. Tunggu, aku salah, ada puluhan tanda tanya.
Tahun 2015, tahun pernuh makna
Kita dulu membukanya dengan sukacita
Dan sayangnya, kita tahu
365 hari itu segera akan berakhir
Malam mulai menyapa Angin menyapu setiap helaian rambutku Rembulan memancarkan cahayanya Yang selalu setia menemaniku Bintang mengedipkan matanya Seolah ingin mengajakku bermain
Elegi jingga mendominasi cakrawala sore, Gradiasi warna ibarat sanubari kalut dua insan itu. Pertemuan ini bukanlah sekedar teman biasa, Namun percakapan dua hati yang mencoba menjadi nahkoda.
Tatapan yang begitu tajam
Seolah meyakinkan hati
Alunan yang indah,
Dia yang menciptakan
Membuatku merasa nyaman
Mengurung dalam kesendirian
Yang sepi dan sangat sepi
Yang telah lama terpenjara
Dalam relung hati yang terdalam
Pikiranku pun melayang
Apa gunanya hidup?
Aku bernafas tetapi tidak hidup
Apa tujuannya hidup?
Aku tahu diriku
