Hits: 5
Fatiha Fayza br Gurning
Pijar, Medan. Di balik megahnya kota Jakarta, terdapat realita pendidikan yang belum banyak diketahui masyarakat luas. Hal itu yang dirasakan oleh Salman Al farici, alumni Program Studi Antropologi Sosial Universitas Sumatera Utara (USU) saat sedang melakukan aktivitas sukarelawan dari komunitas Kawan Bestari di Muara Angke, Jakarta.
Perjalanan Salman ke Muara Angke, bermula dari keinginannya mengisi waktu libur kuliah dengan kegiatan-kegiatan. Saat menemukan informasi pembukaan relawan Kawan Bestari melalui Instagram. Kemudian, ia memutuskan untuk mendaftar dan diterima sebagai staf desainer kurikulum yang bertugas merancang materi pembelajaran bagi anak-anak di kawasan tersebut.
Selama dua bulan pertama, Salman merancang kurikulum secara daring dengan menyesuaikan metode pembelajaran terhadap kebutuhan dan karakteristik anak-anak setempat. Setelah proses perancangan selesai, ia berangkat ke Jakarta untuk terlibat langsung dalam kegiatan pengajaran.
Di sana, Salman menemukan kenyataan bahwa sejumlah anak belum mampu membaca, menulis, dan menghitung. Kondisi tersebut menjadi pengalaman yang membekas baginya, terlebih karena hal itu ditemuinya di Jakarta, kota yang kerap diasosiasikan dengan kemajuan dan kemegahan.
“Anak-anak di sana bahkan ada yang belum bisa membaca, menulis, dan berhitung. Padahal, mereka tinggal di Jakarta, ibu kotanya Indonesia,” ungkapnya.
Untuk mendampingi anak-anak tersebut, Salman menerapkan pendekatan pembelajaran yang terinspirasi dari pengalaman pra-sekolahnya. Ia membawa metode belajar yang lebih sederhana, seperti mewarnai, bernyanyi, serta melakukan aktivitas sensorik. Melalui kegiatan tersebut, anak-anak diajak mengenali lingkungan dan memahami hal-hal dasar melalui pengalaman langsung.
Salman merancang pendekatan pembelajaran sesederhana mungkin, dengan menyesuaikannya terhadap kemampuan anak-anak di Muara Angke. Salah satunya melalui kegiatan belajar mengamati objek di sekitar mereka. Keterbatasan pengalaman belajar membuat sebagian anak bahkan kesulitan mengenali dan mengamati suatu objek secara cermat.
“Bagi kita, melihat itu mungkin sekadar melihat saja. Namun, bagi anak-anak di sana, ada yang bahkan tidak tahu apa yang sedang mereka lihat dan apa keistimewaan dari benda tersebut. Jadi, kami mengajarkan mereka untuk belajar melihat dan mengamati,” ujar Salman.
Selama lima hari kegiatan pengajaran yang berlangsung pada libur semester, Salman dan relawan lainnya tidak hanya berinteraksi dengan anak-anak, tetapi juga tinggal bersama masyarakat setempat. Mereka tidak menginap di hotel, melainkan tidur di tempat tinggal warga agar dapat mengenal kehidupan masyarakat secara lebih dekat.
Pengalaman tersebut memperlihatkan sisi lain dari kehidupan Muara Angke. Di tengah keterbatasan yang mereka hadapi, Salman justru menemukan kehangatan masyarakat yang menyambut para relawan dengan ramah, bahkan menawarkan makanan dan teh manis meskipun dengan segala keterbatasan yang ada.
“Jadi, kalau tidur di situ, cuman di alas doang dan depannya itu udah Kota Jakarta yang bagusnya lah, dan untuk mendalami [karakter] anak di sana, kami enggak tidur di hotel. [Akan] tetapi ikut tidur bersama orang-orang di sana. Kalau misalnya teman-teman sekarang udah financial freedom, itu akan menjadi something new yang tidak akan terlupakan bagi teman-teman karena mereka hangat, kalau ketemu orang terpelajar di situ mereka langsung ajak [ngobrol],” jelas Salman.
Pengalamannya bersama Kawan Bestari menjadi kesempatan bagi Salman untuk memahami persoalan pendidikan secara lebih dekat. Melalui kegiatan sederhana, seperti mengajarkan membaca, menulis, dan mengamati lingkungan, ia turut memperluas pengalaman belajar anak-anak di Muara Angke. Pengalaman tersebut juga membuka pandangannya bahwa di balik kemegahan Kota Jakarta, masih ada anak-anak yang membutuhkan perhatian serta kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang memadai.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

