Hits: 3
Jeni Susanti Zega/Tasya Hapsari
Pijar, Medan. Pada umumnya, kata “Teh Hijau” langsung mengingatkan orang pada sebuah minuman yang dapat dinikmati baik hangat maupun dingin, serta identik dengan budaya teh Jepang. Namun, maknanya menjadi berbeda ketika kata tersebut disandingkan dengan nama Tulus— “Teh Hijau” dari Tulus. Alih-alih merujuk pada sebuah minuman, “Teh Hijau” justru merupakan judul lagu yang membawa pendengarnya pada kisah tentang seseorang yang tengah kehilangan rasa senang dalam menjalani hari-harinya.
Lagu “Teh Hijau” resmi dirilis pada 30 Juni 2026 sebagai karya terbaru Tulus setelah album terakhirnya, Manusia, yang dirilis pada 2022. Jarak sekitar empat tahun tersebut membuat lagu ini sekaligus menjadi penanda kembalinya Tulus dengan karya baru. Dalam kutipan medcom.id, menyampaikan bahwa lagu ini berkaitan dengan rasa hampa yang tidak harus selalu dipaksa untuk hilang, tetapi dapat diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup.
Hal yang cukup menarik perhatian pada lagu ini, yaitu kata “teh hijau” yang justru muncul di bridge lagu saja. Di tengah kesedihan yang dirasakan, Teh Hijau hadir sebagai minuman sederhana yang dapat dinikmati meskipun suasana hati belum sepenuhnya membaik. Dari sini, pendengar diajak untuk dapat melihat bahwa Teh Hijau menjadi simbol yang sederhana. Ia bisa dirasakan dan dinikmati meskipun rasa sedih yang menghantam tak kunjung hilang, seperti yang tergambar pada lirik berikut.
Kulihat mana di kendaliku
Teh hijau ini yang di tanganku
Di tengah seram sedih yang menghantamku
Penggunaan kata “hijau” pada lagu juga tidak kalah menarik perhatian. Warna hijau biasanya dekat dengan kesan segar dan kehidupan. Namun, dalam lagu ini “hijau” dimaknai sebagai keadaan yang perlahan kembali hidup setelah mengalami masa gersang. Dengan begitu, “Teh Hijau” bukan sekedar minuman sederhana, tetapi justru menjadi gambaran dari perjalanan seseorang yang sedang menerima keadaan dirinya. Makna tersebut tercermin dalam lirik berikut.
Lepaslah, lepas kemurunganku
Hijau kembali jiwa gersangku
Tulus menggambarkan bahwa rasa hampa bukan sebagai sesuatu yang harus diselesaikan. Tokoh dalam lagu mencoba berbagai cara untuk menemukan jawaban, tetapi perasaan kosong itu tetap ia rasakan. Hal tersebut membuat lagu ini terasa begitu dekat dengan pengalaman hidup setiap orang. Meskipun sudah mencoba berbagai cara untuk merasa lebih baik, tetap saja membutuhkan waktu untuk memahami dan melewati perasaan tersebut hingga kembali menghadirkan keadaan yang lebih baik.
Daya tarik “Teh Hijau” sendiri berhasil menarik perhatian banyak pendengar sejak dirilis. Dalam 24 jam pertama, lagu ini tercatat telah didengarkan lebih dari 600 ribu kali dan masuk dalam Music Trending di YouTube. Lagu tersebut kemudian sempat menempati posisi pertama Music Trending. Berdasarkan akun YouTube resmi Tulus, @musiktulus, video lirik resmi lagu ini telah mencapai 78 juta penayangan sejak diunggah pada 30 Juni, sedangkan video musiknya mencapai 12,6 juta penayangan sejak diunggah pada 10 Juli 2026.
Popularitas tersebut menunjukkan bahwa “Teh Hijau” tidak hanya menarik perhatian sebagai lagu baru Tulus setelah empat tahun, tetapi juga karena mengangkat cerita tentang rasa hampa melalui hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal tersebut membuat lagu ini dapat dimaknai secara berbeda oleh setiap pendengarnya.
“Teh Hijau” mengajak para pendengar melihat bahwa hal sederhana pun dapat memiliki arti ketika seseorang sedang berada dalam masa sulit. Tulus tidak menawarkan jawaban instan untuk rasa hampa, melainkan mengingatkan bahwa ada perasaan yang membutuhkan waktu untuk pulih, seperti menikmati secangkir teh, atau mungkin beberapa hal dalam hidup memang perlu dijalani perlahan.
(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

