Hits: 37

Marshella Febriyanti Hutabarat

Pijar, Medan. “Berhentilah menyia-nyiakan hidup untuk hal-hal yang tidak dapat kaukendalikan.” — halaman 3.

Banyak hal di dalam kehidupan yang sering kita pikirkan, meskipun sebenarnya berada di luar kemampuan kita untuk mengendalikannya. Ucapan orang lain, keputusan yang tidak sesuai harapan, serta cara seseorang memperlakukan kita sering kali menyita waktu dan energi tanpa menghasilkan perubahan nyata.

Melalui buku The Let Them Theory, Mel Robbins mengajak pembaca untuk berhenti memaksakan kontrol atas hal-hal tersebut dan mulai mengalihkan fokus pada sesuatu yang lebih mungkin untuk diubah, yaitu diri kita sendiri.

Ide ini kemudian dirangkum oleh Robbins melalui dua frasa sederhana, Let Them dan Let Me. Let Them mengajak kita untuk membiarkan orang lain mengambil keputusan sesuai pilihan mereka, sementara Let Me mengingatkan kita bahwa kita tetap memiliki kuasa atas tindakan dan keputusan diri kita. Keduanya menjadi dasar yang kemudian digunakan Robbins untuk membahas berbagai situasi yang kerap kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu contohnya adalah stres. Hidup memang sarat tekanan, tetapi tidak semuanya harus menjadi tanggung jawab pribadi. Ketika seseorang membuat kita marah atau kecewa, kita tidak selalu dapat mengubah perilaku mereka. Kita hanya dapat memilih cara meresponsnya.

Begitu pula dengan pendapat orang lain, tidak semua orang akan menyukai atau menyetujui pilihan kita. Oleh karena itu, membiarkan mereka berpikir buruk tentang kita menjadi bagian dari proses untuk tidak lagi hidup berdasarkan penilaian orang lain.

Robbins juga menjelaskan cara menghadapi reaksi emosional dari orang lain. Ketidakpuasan, kemarahan, atau reaksi berlebihan dari seseorang tidak selalu perlu kita tangani. Ada kalanya kita merasa keputusan yang diambil itu salah hanya karena khawatir mengecewakan orang lain, padahal keputusan itu mungkin saja sesuai dengan kebutuhan pribadi kita.

Masalah lain yang berkaitan erat adalah kecenderungan untuk membandingkan diri sendiri. Melihat prestasi orang lain, kadang membuat kita merasa tertinggal, terutama ketika seolah-olah hidup orang lain berjalan lebih cepat.

Robbins mengingatkan bahwa kehidupan tidak selalu bersifat adil dan setiap individu memiliki jalur yang berbeda. Namun, perbandingan tidak perlu menjadi sumber perasaan tidak cukup. Perasaan ini bisa dimanfaatkan untuk memahami apa yang sebenarnya kita inginkan dan sebagai pendorong untuk berkembang.

Keinginan untuk mengubah orang lain juga menjadi topik yang dibahas Robbins. Seseorang tidak akan benar-benar berubah hanya karena terus dinasihati atau didorong. Perubahan harus berasal dari keinginan dalam dirinya sendiri.

Begitu pula saat kita berhadapan dengan orang terdekat yang sedang menghadapi tantangan, kita bisa memberikan dukungan tanpa harus mengambil alih keputusan dalam hidup mereka. Usaha yang berlebihan untuk menyelamatkan seseorang bisa membuat kita melupakan bahwa kendali tetap berada di tangan mereka.

Pada akhirnya, buku The Let Them Theory bukan hanya semata-mata sebuah ajakan untuk membiarkan orang lain bertindak sesuai keinginan mereka. Di balik ungkapan tersebut terdapat proses menerima kenyataan bahwa tidak semua hal dalam hidup ini bisa kita kendalikan.

Oleh karena itu, kita tidak bisa memutuskan siapa yang akan menyukai kita, siapa yang pergi, atau bagaimana seseorang memperlakukan kita. Mungkin, ketika kita berhenti sibuk mengendalikan kehidupan orang lain, kita akhirnya memiliki lebih banyak ruang untuk menjalani kehidupan sendiri.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment