Hits: 9
Hetno Daniaty Br Singarimbun
Pijar, Medan. Hari Keluarga Nasional (Harganas) di Indonesia diperingati setiap tanggal 29 Juni. Peringatan ini ditetapkan secara resmi melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2014 dengan tujuan mengingatkan masyarakat akan pentingnya peran keluarga sebagai fondasi terkecil dalam membangun karakter dan memajukan bangsa.
Harganas ke-33 tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) berpusat pada tema utama “Ayah Wajib Hadir”. Tema ini menitikberatkan pada pentingnya kehadiran sosok ayah dalam mendidik seorang anak. Peran ayah bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga turut membantu menstimulasi kecerdasan dan motorik anak dengan bermain bersama, memperhatikan asupan gizi, serta rutin mengantarkan anak ke fasilitas kesehatan guna pencegahan gagal tumbuh (stunting).
Tema ini mendorong agar peran orangtua tidak berat sebelah dengan ibu sebagai poros utama dalam merawat anak, melainkan juga kehadiran ayah yang menciptakan rasa aman serta membentuk mental anak yang kuat dan sehat. Hal ini disampaikan secara resmi oleh Dinas Kesehatan dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3KB), melalui akun Instagram @dp3kbbrebes_official dan @dinkasdebrebes.
Mengutip dari kompas.com, pemilihan tema ini dilatarbelakangi oleh kondisi Indonesia yang tengah menghadapi beberapa tantangan yang saling berkaitan, seperti budaya fatherless country, di mana ayah hadir secara fisik, tetapi sering absen secara emosional dan psikologis dalam pengasuhan harian. Lalu, adanya ancaman stunting dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), dan bonus demografi di puncaknya yang bisa menjadi peluang sekaligus bencana, tergantung kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang disiapkan hari ini.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BBKBN, Wihaji, turut menanggapi dampak buruk dari fatherless country.
“Katanya ayah mencari rezeki itu untuk keluarga, tapi kadang-kadang lupa dengan keluarga. Kami ingin mengingatkan kembali, pentingnya sosok ayah karena akan berpengaruh terhadap perilaku anak. Kalau sosok ayah tidak hadir, sifat petarung anak secara psikologis akan kurang,” jelas Wihaji dalam pewarta.bkkbndiy.id.
Dilansir dari kemenkopmk.go.id, untuk mendukung tema tersebut, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, meluncurkan Gerakan #RuangAmanNyamanAnak (RANA) sebagai gerakan nasional yang menjadi wadah untuk mengintegrasikan berbagai program dan inisiatif perlindungan anak yang telah berjalan.
“Pada 23 Juni lalu, kami menyepakati untuk melakukan gerakan nasional yang disingkat RANA, yaitu Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak. Aman dan nyaman di keluarga, di satuan pendidikan formal maupun nonformal, di tempat umum, di ruang digital, serta didukung respons cepat ketika terjadi ketidakamanan dan ketidaknyamanan terhadap anak,” ujar Pratikno.
(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

