Hits: 3

Marshella Febriyanti Hutabarat

Pijar, Medan. Sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk angka tahun atau dokumentasi yang kaku. Sering kali, esensi sejarah justru hidup dalam kisah personal mereka yang berani bersuara di tengah situasi yang mencekam. Salah satu bukti nyata dari hal tersebut adalah perjalanan hidup Wiji Thukul, seorang penyair sekaligus aktivis yang dedikasinya dirawat kembali oleh Tim Tempo melalui buku berjudul Teka-Teki Orang Hilang yang terbit pada tahun 2013.

Melalui buku ini, pembaca diajak menyelami realitas kehidupan seorang Wiji Thukul. Ia bukan berasal dari kalangan elite politik ataupun pejabat yang memiliki kekuasaan. Namun, lewat bait-bait puisinya, Wiji Thukul justru berhasil memotret keresahan kaum marginal, seperti para buruh dan petani yang hak-haknya sering kali diabaikan. Goresan penanya menjelma menjadi kritik tajam terhadap kesewenang-wenangan yang terjadi pada masa Orde Baru.

Keberanian inilah yang akhirnya membuat nama Wiji Thukul dikenal luas sebagai simbol perlawanan. Bagi Wiji Thukul, puisi bukan sekadar karya sastra yang estetik, melainkan alat perjuangan untuk membela rakyat. Konsistensinya dalam mengawal isu-isu kemanusiaan dan gerakan sosial pada akhirnya menempatkan dirinya dalam radar pengawasan ketat aparat negara kala itu.

Bagian paling menarik dari buku ini, terletak pada upaya penulis merajut kembali potongan informasi mengenai hari-hari terakhir Wiji Thukul sebelum dinyatakan hilang pada tahun 1998. Berdasarkan berbagai kesaksian dan hasil penelusuran, kita dapat melihat bagaimana peliknya kehidupan Wiji Thukul selama menjadi buronan politik, caranya berpindah persembunyian, hingga misteri yang menyelimuti nasibnya. Sampai hari ini, keberadaan sang penyair masih menjadi tanda tanya besar dalam sejarah Indonesia.

Lebih dari sekadar biografi biasa, buku ini sebenarnya menjadi refleksi mendalam mengenai mahalnya harga sebuah kebebasan berpendapat. Kisah Wiji Thukul menunjukkan bahwa untaian kata bisa menjadi hal yang sangat menakutkan bagi sebuah kekuasaan yang represif. Hal ini membuktikan bahwa bahasa memiliki kekuatan nyata ketika digunakan untuk menyuarakan kebenaran.

Bagi generasi muda yang tidak mengalami langsung era Orde Baru, narasi dalam buku ini memberikan perspektif penting mengenai perjalanan demokrasi di Indonesia. Buku ini mengingatkan pembaca agar tidak menganggap remeh kebebasan berbicara dan mengkritik pemerintah yang dinikmati hari ini karena hak-hak tersebut lahir dari perjuangan berat tokoh-tokoh terdahulu, termasuk Wiji Thukul.

Pada akhirnya, Teka-Teki Orang Hilang bukan sekadar catatan tentang seorang penyair yang raib. Buku ini adalah tentang merawat ingatan, keberanian, dan pencarian kebenaran yang belum usai. Selama misteri hilangnya Wiji Thukul belum terungkap, kisahnya akan tetap menjadi pengingat bahwa sejarah kelam tidak boleh dilupakan begitu saja.

Bagi kamu yang tertarik mengenal sosok Wiji Thukul lebih dekat, buku ini dapat menjadi pilihan yang layak untuk masuk ke daftar bacaanmu. Teka-Teki Orang Hilang dapat ditemukan di toko buku offline maupun toko buku online kesayanganmu.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment