Hits: 2
Yos Nathanael Mahanaim Kaban
Pijar, Medan. Keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar terkadang mampu mengubah manusia menjadi sosok yang sama sekali berbeda. Ambisi yang awalnya terlihat sederhana, dapat berkembang menjadi sebuah obsesi yang perlahan menghancurkan akal sehat dan nurani. Mulai dari takhta, kehormatan, dan kemenangan seolah menjadi tujuan akhir yang diinginkan banyak orang.
Walaupun begitu, bagaimana jika kekuasaan justru menjadi awal kehancuran? Bagaimana jika ambisi yang terlalu besar perlahan mengubah seseorang menjadi sosok yang berbeda dari dirinya sendiri? Pertanyaan seperti itu terasa dekat saat membaca Buku Macbeth, karya William Shakespeare.
Ditulis sekitar tahun 1606, Sebagai salah satu drama tragedi paling terkenal di dunia, Macbeth bukan hanya menghadirkan cerita tentang perebutan kekuasaan. Buku ini juga berkisah tentang sisi gelap manusia, ketika rasa haus akan kekuasaan mulai mengendalikan hidupnya.
Pada awalnya, Macbeth digambarkan sebagai sosok jenderal Skotlandia yang terhormat, sehingga dikenal pemberani dan setia kepada Raja Duncan. Kemenangan yang diperoleh Macbeth, membuat namanya dihormati banyak orang. Namun, hidupnya mulai berubah, ketika ia bertemu tiga penyihir misterius yang meramalkan bahwa suatu hari dirinya akan menjadi raja Skotlandia.
Ramalan tersebut awalnya terdengar seperti sesuatu yang mustahil. Akan tetapi, ketika sebagian ramalan mulai menjadi kenyataan, Macbeth perlahan mulai memercayainya. Dari sinilah ambisi dalam dirinya mulai tumbuh. Keinginan untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar perlahan menguasai pikirannya.
Dalam kisah buku tersebut, istri Macbeth, yaitu Lady Macbeth menjadi salah satu karakter penting dalam perubahan Macbeth. Ia digambarkan sebagai sosok yang ambisius dan berani. Bahkan, dalam beberapa bagian cerita, Lady Macbeth terlihat lebih haus kekuasaan dibanding suaminya sendiri. Ia terus meyakinkan Macbeth bahwa kesempatan menjadi raja tidak boleh disia-siakan.
Demi mewujudkan ramalan tersebut dan keyakinan dari istrinya sendiri, Macbeth dengan ambisi penuhnya membunuh Raja Duncan di kastilnya sendiri. Pembunuhan tersebut tidak hanya menjadi sebuah kejahatan yang besar, tetapi juga menjadi titik awal kehancuran hidup Macbeth. Setelah berhasil dan duduk di singgasana, ia justru hidup dalam rasa takut dan curiga yang tidak pernah berhenti. Macbeth melihat semua orang sebagai ancaman yang sangat berbahaya bagi kekuasaannya.
Perubahan Macbeth terasa sangat tragis karena pembaca melihat bagaimana Macbeth mulai kehilangan sisi kemanusiannya. Sosok yang awalnya dikenal sebagai pahlawan perang skotlandia dan seseorang yang bijaksana, berubah menjadi penguasa tirani yang kejam dan penguasa penuh darah yang dipenuhi paranoia.
Selain menunjukkan perubahan Macbeth, kisah dalam buku Macbeth juga memperlihatkan dampak rasa bersalah terhadap mental manusia. Dicerminkan oleh Lady Macbeth yang awalnya juga kuat dan tampak yakin oleh perbuatannya, tetapi perlahan-lahan ia mulai kehilangan kewarasannya.
Lady Macbeth terus dihantui bayangan darah di tangannya dan mengalami gangguan mental akibat dari dampak rasa bersalah yang tidak mampu ia hilangkan. Melalui karakter Lady Macbeth, Shakespeare menunjukkan bahwa kejahatan mungkin bisa disembunyikan dari orang lain. Namun, tidak dengan isi hati dan pikiran manusia itu sendiri.
Melalui Macbeth, Shakespeare seakan ingin mengingatkan bahwa kekuasaan yang diperoleh dengan cara kejam tidak akan pernah membawa ketenangan. Di balik semua darah, pengkhianatan, dan ambisi yang besar, tragedi ini pada akhirnya menjadi cerita tentang manusia yang kehilangan dirinya sendiri demi mendapatkan apa yang diinginkan.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus

