Hits: 25
Yudha Ikhsan
Pijar, Medan. Rerintik hujan menambah beratnya alam. Dengan semangat yang tinggi para pemain akademi Atletico Madrid menunjukkan kehebatannya, di depan para petinggi yang hadir menemani pelatih dan juga merupakan legenda mereka, Diego Simeone. Kondisi jet-lag penerbangan tidak menjadi masalah baginya. Ia tetap dengan seksama ia memperhatikan latih-tanding Atletico yunior dan senior. Setelah beberapa saat dia berbincang-bincang dengan para petinggi Atletico, lalu dia berlalu ke penginapannya. Hari itu merupakan latihan pertama tim Atletico Madrid dengan Diego Simeone.
Tepat jam delapan pagi waktu setempat, para pemain Atletico telah tampil rapi untuk memulai latihan penuh dengan sang pelatih. “Aku sangat menghargai jika seseorang menghargai waktu,” ujar Simeone. Beberapa pemain muda yang kemarin ikut berlatih tanding juga hadir, seperti Jorge Resurrección Merodio atau Koke. Hadir juga Diego Costa, pemain bengal yang baru saja dipulangkan setelah menjalani masa peminjaman dari Rayo Vallecano. Tidak banyak hal yang berbeda dalam metode pelatihan yang diterapkan Simeone, namun satu hal yang ditetapkan adalah kerja keras dan kebersamaan tim. Kerja keras layaknya tentara romawi merupakan gaya khas yang sangat ditakuti oleh tim-tim lawan. “Tim bermain lepas dan menggila untuk mengejar kemenangan. Kalah tidak ada dalam kamus mereka itulah menjadi resep dalam kepelatihanku”.

Sumber : Istimewa
Dengan kemampuan finansial yang tidak sehebat tim tetangganya, Atletico Madrid mampu mengubah stigma bahwa uang menjadi jawaban untuk mendapatkan kejayaan. Pelan-pelan, semua anggota klub, baik tim pencari bakat, CEO, dan bahkan tukang pembersih rumput stadion bekerja sama untuk melakukan yang terbaik. Suatu kerja keras akhirnya terjawab dengan sempurna, pemain akademi seperti Koke Resurrección mampu menjadi gelandang serang penuh kreativitas untuk mengobrak-abrik sisi sayap pertahanan lawan. Kaki kirinya menjadi tumpuan jitu untuk menembak umpan yang akan membelah pertahanan lawan dan kaki kanannya layaknya sebuah meriam yang mampu menghancurkan pertahanan lawan. Di sektor penyerang, Atletico mendapatkan seorang pemain yang terlahir kembali menjadi binatang buas. Diego Costa memiliki tingkat kebuasan yang tertinggi saat menghadapi tim lawan. Sedikit saja peluang, lawan akan diterkam dengan gol-gol indahnya. Kemampuan terbaiknya adalah tendangan yang bertenaga disertai dengan arah yang sulit untuk dijangkau oleh penjaga gawang lawan. Hingga garda terakhir Atletico yaitu pemuda jangkung yang bernama Thibaut Courtouis. Pemain pinjaman dari Chelsea ini merupakan salah satu bentuk kejeniusan Atletico dalam memaksimalkan kemampuan pemain muda. Dengan dua tahun berturut untuk gelar Zamora (Penjaga Gawang Terbaik), Mr. Safe Hands– mampu memberikan sebuah ketenangan untuk para pemain bertahan tetap melaksanakan kemampuan terbaiknya. Beberapa pemain lawas seperti Diego Godin, Tiago, Gabi Hernandez, Arda Turan dan Raul Garcia mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya dengan hasil polesan dari Simeone. “Aku ingin berterimakasih kepada ibu dari pemain-pemain kita(Atletico Madrid), karena telah melahirkan anak-anak yang sangat hebat dan berjuang layaknya sebesar bola ini”.
Tidak ada satu orang pun di klub yang berekspektasi dengan kesuksesan Atletico Madrid selama beberapa tahun berturut-turut. Manajer merupakan orang pertama yang dapat meyakinkan hal tersebut terwujud. Gelar La Liga musim 2013-2014, Copa Del Rey 2012-2013, Piala Super Eropa 2011-2012, Super Copa Espana 2012-2013, UEFA Europa League 2011-2012 merupakan bukti sahih tangan dingin Diego Simeone. Pria asal Buenos Aires ini merupakan penggila Atletico sejak mengenakan seragam kebanggaannya yang berwarna merah-putih. Awal kepelatihannya dimulai dari tim Argentina Racing Club pada tahun 2006. Visi yang berbeda dengan pemilik baru klub Racing membuat ia akhirnya meninggalkan posisi jabatan manajer utama. Beberapa saat setelah meninggalkan pos kepelatihannya di Racing, ia melanjutkan karir kemanajerannya dengan melatih Estudiantes. Di klub barunya tersebut, ia berhasil memenangkan Liga Argentina yang mengakhiri dominasi Boca Juniors. Petualangannya dimulai kembali dengan melatih Riverplate dan San Lorenzo antara medio waktu 2008-2010. Peruntungannya di Argentina telah berakhir membuat ia mencoba untuk menjalani petualangan baru di tanah Italia. Perugia adalah tambatan petualangan selanjutnya di dunia persepakbolaan. Kemampuan manajerialnya berfungsi penuh dengan mengantarkan tim Italia tengah itu lolos dari lubang jarum degradasi. Pada tim yang berdekatan dengan aliran sungai Tiber itu, Simeone menemui formulasi terbaiknya dalam membangun tim yang hebat. Atletico Madrid merupakan sebuah hasil kerja kerasnya untuk melakukan yang terbaik dengan visi permainan menyerang dan pemain muda bertalenta. Itulah Diego Simeone.

Dengan semangat para pemain Atletico mendengarkan arahan dari sang pelatih sebelum pertandingan melawan FC Barcelona. Atmosfir kemenangan terus diteriakkan untuk memacu tim bekerja keras. Angin meniupkan suhu kemenangan melalui teriakan-teriakan, makian, dan nasihat untuk tim yang sedang mengalami kekalahan mental. Tim yang telah mendapat suntikan tenaga tambahan langsung memasuki lapangan layaknya Gladiator Roma yang telah siap untuk membantai musuh-musuhnya. Seorang yang keras untuk seperti layar kapal namun mampu membimbing ke tujuan dengan kerja keras. “Diego merupakan pelatih yang mempunyai kemampuan hebat dalam taktik dan kedekatan tim. Atletico bermain layaknya seperti Simeone, kuat, fokus, dan sangat taktis dalam bermain,” ujar Carlo Ancelotti, manajer Real Madrid C.F. Setelah pergumulan dengan pemikiran dan tim, waktu terbaik untuk melancarkan pemikiran ketika dia menjadi seorang Diego Elcholo Simeone biasa. Beberapa menit untuk melapangkan pemikiran dengan cara melakukan sambungan internasional bersama keluarganya di Argentina. Waktu sendiri dan waktu keluarga mempunyai peran yang signifikan untuk pertandingan. “Saat yang tenang sebelum badai mengguncang pemikiran,” ujar Diego
Atletico Madrid pada tahun 2011 merupakan tim yang mengalami krisis hebat. Pada tahun itu mereka berada pada di titik nadir terbawah dengan dikalahkan Albacete di pertemuan ketiga Copa Del Rey. Ditambah dengan posisi klub yang semakin melorot ke urutan 10 setelah pertanding-pertandingan di La Liga BBVA. Kepemilikan dua orang Miguel Gil Angel Marin dan Jesus Gil di Atletico Madrid telah mempekerjakan 16 pelatih dan mendatangkan 14 pemain baru sejak 1996. Fase itu dapat dikatakan sebagai fase mental yang tenggelam. Dengan hadirnya sang juru selamat dari Argentina, Atletico akhirnya mampu menjadi salah satu kandidat peraih juara liga Spanyol. Formasi yang diandalkannya adalah 4-2-2-2 klasik dengan dua striker, dimana Diego Costa berperan sebagai target man dan David Villa mempunyai tugas turun ke bawah langsung untuk melakukan distribusi operan ciamik. Posisi David Villa lebih menjorok ke belakang sebagai second striker yang mempunyai daya jelajah yang luas. Terkadang Villa dapat menjadi mimpi buruk dengan kehadirannya secara tiba-tiba bak kutukan. Dari posisi tengah merupakan salah satu bentuk kehebatan dari taktik Diego Simeone. Perebutan bola menggunakan taktik tackling di sisi tengah lapangan merupakan salah satu kunci kesuksesan dari tim. Mereka terus melakukan penekanan terhadap tim yang menggunakan taktik possession (penguasaan bola) dalam metode menyerangnya. Dalam statistik La Liga 2014, Atletico merupakan tim yang memiliki tekel terbanyak dalam satu pertandingan. Tim melakukan 30 tekel dalam satu pertandingan, dimana itu dikarenakan salah satu bentuk strategi yaitu menghalangi pihak lawan yang akan menyerang. Strategi tersebut berhasil sehingga dapat menghalang lawan menendang ke arah gawang, dan jumlah kebobolan yang sangat sedikit dibanding dengan tim yang berfokus pada penguasaan posisi. Pergerakan tanpa bola dengan penekanan tim terhadap lawan merupakan salah satu kemampuan terbaik yang mereka miliki di Liga Spanyol. “Tim bisa berkembang seperti ini merupakan hasil dari kerja keras mereka. Penyerang Atletico, Costa dan Villa bermain kompak dengan gelandang untuk menjaga agar bola tetap tersalurkan dengan baik. Hal yang paling penting para gelandang, yaitu Koke dan Arda Turan tetap bermain rapat dengan penyerang untuk melakukan serangan dari tengah,” Diego menjelaskan dalam pertemuan tim dengan wartawan beberapa waktu lalu.
Kerja keras akan selalu terbayarkan diikuti dengan ketekunan, kebersamaan dan kegigihan. Lebih-lebih lagi sebuah tim sepakbola yang nota bene merupakan sebuah permainan tim. Tim pemenang tercermin dari setiap pemainnya yang bermain dengan kebanggaan atas tim, satu nafas dengan seluruh unsur tim, dan memiliki tujuan untuk mencapai kesuksesan bersama tim. Atletico Madrid dibawah arahan Diego Simeone adalah sebuah tim sepakbola yang berasaskan keluarga. Kesuksesan akan diraih dengan kerja keras yang maksimal dan didorong oleh keluarga.

