Hits: 33
Khairun Nisa Lubis
Pijar, Medan. Ardhito Pramono tidak sedang mencoba membuat lagu yang besar di “Ordinary Day”. Tidak ada ledakan emosi, juga tidak ada klimaks yang berlebihan. Lagu ini hanya berjalan datar, seperti hari-hari yang dijalani sejak sesuatu atau bahkan seseorang tidak lagi bisa dirasakan hadirnya.
Dirilis pada 12 September 2025, “Ordinary Day” diproduseri oleh Ardhito Pramono bersama Aldi Nada Permana yang juga turut berperan sebagai mixing dan mastering engineer dalam produksi lagu ini.
Meski judulnya sederhana, lagu ini menyimpan cerita yang begitu menyentuh hati. “Ordinary Day” membawa pendengar larut dalam melodi hangat khas Ardhito, sambil merasakan getir manisnya sebuah kenyataan yang tak mudah dilalui.
Dari awal lagu, nuansa itu sudah dibangun lewat liriknya yang terdengar seperti harapan yang kosong.
I wonder why, I wonder what
I wonder how it feels like
To be with you again
Pengulangan I wonder menunjukkan bahwa ia masih berada di fase mempertanyakan, belum menerima. Ada secercah harapan yang tersisa, tetapi samar, seolah ia sendiri pun belum yakin apakah kemungkinan untuk kembali bersama itu nyata atau hanya angan-angannya saja.
You’re everywhere
The longest journey never end
Di sini, Ardhito menggambarkan bahwa ‘dia’ ada di tiap sudut, tetapi bukan secara fisik, melainkan seperti jejak. Ia menggambarkan sosok yang tidak pernah benar-benar hilang, seakan masih ada dalam banyak hal, baik tempat maupun rutinitas. Setelahnya, hari-hari terasa hampa dan kehilangan warna.
Mungkin, itu sebabnya proses untuk menerima harus melewati perjalanan emosi yang panjang, bahkan seperti tidak pernah benar-benar selesai. Sekali lagi, bukan harinya yang berubah, tetapi rasanya.
Who’s gonna stay in ordinary day
And wipe my tears away
Penggalan lirik ini hampir terdengar seperti pertanyaan biasa, datar tanpa tekanan. Namun, di titik ini Ardhito tidak lagi sekadar bertanya, ia mulai menunjukkan rasa frustasi, seolah meragukan akankah ada lagi seseorang yang bisa mengisi ruang yang telah sosok itu tinggalkan? Atau masih adakah tempat untuk kembali saat keadaan tidak baik-baik saja?
Lagu ini tidak memberi resolusi, ia hanya menggeser posisi. Ardhito yang awalnya terjebak di fase denial dan bertanya-tanya, mulai menyadari bahwa tidak semua hal harus selesai. Secara logika, hidup harus tetap berjalan dan mungkin orang baru bisa saja datang. Namun secara rasa, hati belum tentu siap membuka ruang lagi untuk itu.
Pendekatan yang sama juga terasa dalam video musiknya. Tak banyak variasi adegan yang ditampilkan, bahkan cenderung repetitif. Seperti berkeliling kota dengan motor atau makan sendiri sambil seolah berbicara dengan seseorang. Namun, justru dari pengulangan itu, kesan kosong dan monoton-nya terasa lebih kuat.
Menariknya, pembacaan pendengar ikut memperkuat makna ini. Salah satu komentar dari akun YouTube @Biji5 di video musik, menyebut bahwa lagu ini menunjukkan bagaimana hidup tetap bergerak, bahkan setelah kehilangan orang yang paling berarti.
“Foto di awal video menjadi tanda duka, tetapi juga pintu kenangan yang hangat. Menyusuri jalanan dengan cahaya yang redup hingga hangat adalah simbol hari-hari biasa yang tak lagi sama, namun hidup harus tetap melangkah,” ucapnya.
Pandangan ini sejalan dengan keseluruhan narasi yang dibangun Ardhito. Kehilangan dalam lagu ini tidak ditampilkan sebagai sesuatu yang besar dan meledak-ledak, melainkan hadir dalam bentuk yang lebih simpel, melalui rutinitas yang terasa berbeda.
Pada akhirnya, “Ordinary Day” tidak mencoba memberikan jawaban atau solusi yang jelas. Lagu ini hanya menunjukkan satu hal yang sederhana, bahwa hari-hari akan tetap datang seperti biasa, meski perasaan di dalamnya sudah tidak lagi sama.
(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

