Hits: 36
Grace Estephania
Pijar, Medan. Di Bali, Nyepi identik dengan keheningan total. Selama 24 jam, aktivitas masyarakat berhenti, jalanan kosong, bahkan bandara ditutup. Namun, suasana tersebut tidak sepenuhnya sama ketika Nyepi dirayakan di kota lain yang masyarakatnya tidak mayoritas beragama Hindu. Di kota Medan, perayaan Nyepi tetap berlangsung, tetapi lebih berpusat pada komunitas dan tempat ibadah umat Hindu.
Menjelang Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang jatuh pada 2026, umat Hindu Bali di Medan tetap menjalankan rangkaian ritual sebagaimana tradisi di Bali. Beberapa hari sebelum hari raya, umat melaksanakan Melasti, yakni prosesi penyucian diri dan benda-benda sakral di sumber air. Ritual ini dimaknai sebagai upaya membersihkan diri dan alam dari unsur negatif sebelum memasuki tahun baru dalam kalender Saka.
Sehari sebelum Nyepi, umat Hindu melaksanakan ritual Tawur Kesanga atau Mecaru yang bertujuan menyeimbangkan alam dan meredakan kekuatan negatif. Pada momen ini pula, beberapa komunitas Hindu Bali di Medan terkadang mengadakan pawai Ogoh-ogoh, yakni patung raksasa yang melambangkan sifat buruk manusia atau energi negatif. Patung tersebut biasanya dibuat oleh kelompok pemuda sejak beberapa minggu sebelum perayaan Nyepi, kemudian diarak di area tertentu sebelum akhirnya dimusnahkan sebagai simbol pembersihan dari sifat-sifat buruk.
Dilansir dari medanheadlines.com, I Wayan Dirgayasa selaku Ketua Suka Duka Dirgayasa, Paguyuban Bali-Medan menyatakan bahwa pawai Ogoh-ogoh diharapkan dapat terus digelar setiap tahun sebagai bagian dari pelestarian tradisi, sekaligus memperkuat nilai toleransi antarumat beragama di Indonesia.
“Kita berharap ada setiap tahunnya dan diharapkan akan dilakukan lebih meriah lagi, yang paling penting juga semoga kita bisa saling menjaga toleransi keberagaman NKRI,” ujarnya.
Meski demikian, skala perayaan di Medan umumnya tidak sebesar di Bali. Pawai Ogoh-ogoh tidak selalu digelar setiap tahun dan biasanya disesuaikan dengan kondisi komunitas serta perizinan di kota tersebut.
Perbedaan paling terasa muncul saat hari puncak Nyepi. Ketika seluruh wilayah memasuki masa hening di Bali, aktivitas di Kota Medan tetap berjalan seperti biasa. I Ketut Supatra, salah satu umat Hindu Bali yang tinggal di Medan, menyatakan bahwa umat Hindu di Medan tetap menjalankan ibadah selama Hari Raya Nyepi.
“Umat Hindu di Medan tetap menjalankan Catur Brata Penyepian meskipun aktivitas masyarakat di luar tetap berlangsung seperti biasa,” ujar I Ketut Supatra, salah satu umat Hindu Bali di Medan.
Setelah masa hening berakhir, perayaan biasanya ditutup dengan tradisi Ngembak Geni, yaitu ketika keluarga dan komunitas saling berkunjung serta meminta dan memberi maaf. Tradisi ini menjadi penanda dimulainya kembali aktivitas sosial setelah satu hari penuh refleksi diri.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

