Hits: 55
Studyfirst
Rainer Abraham Purba adalah sosok yang tidak pernah berhenti menyerah sebelum mencapai mimpinya. Ia mungkin tak pernah membayangkan langkah hidupnya akan menempuh perjalanan sejauh ini. Rainer, seorang lulusan sarjana Sastra Inggris Universitas Indonesia awalnya memulai karier sebagai asisten merchandiser di perusahaan Jepang. Dari luar, kehidupannya tampak stabil seperti karier yang menjanjikan, masa depan jelas, dan rutinitas yang sudah tertata rapi. Meski begitu, tersimpan ruang kosong yang belum terisi di balik semua itu.
Di sela rutinitas pekerjaannya, Rainer akhirnya menemukan panggilan hidupnya untuk berada di dunia pengembangan manusia (people development), sebuah bidang yang berfokus pada pengembangan potensi manusia. Kesadaran itu menjadi sebuah titik balik dalam hidupnya. Ia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan lamanya yang nyaman, dan mengejar beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) agar dapat melanjutkan studi di bidang yang benar-benar ia cintai.
Perjalanan Rainer dalam menggapai mimpinya tidak berjalan mulus. Pada tahun 2019, Rainer gagal di tahap Tes Bakat Skolastik (TBS) yang menjadi tahapan dalam seleksi beasiswa LPDP. Padahal, di tahun yang sama, Rainer telah diterima di kampus impiannya, University of Toronto. Kendala finansial dan pandemi COVID-19 menjadi halangan yang membuatnya harus mengundurkan diri.
“Saat itu, saya kembali menata ulang hidup saya dan belajar berdamai. Perlahan saya sadar, mungkin ini adalah cara Tuhan memberi jeda agar saya dapat tumbuh,” ucapnya.
Selama masa jeda sebelas bulan, Rainer belajar berdamai dengan kegagalan. Ia menyadari bahwa jeda bukan berarti berhenti, melainkan waktu untuk kembali menata ulang hidup. Alih-alih menyerah, Rainer memilih membuka jalannya sendiri dengan mengambil sertifikasi pelatihan pembimbingan (coaching) untuk memperdalam kompetensinya di bidang pengembangan manusia, bidang yang sejak lama ia yakini sebagai panggilan hidup.
Jalan itu membawanya bergabung dengan Daily Meaning, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan manusia dan organisasi. Rainer menghabiskan empat tahun di sana sebagai konsultan. Ia belajar memahami potensi manusia dan membantu orang lain untuk bertumbuh, serta menemukan versi terbaiknya. Bagi Rainer, pengalaman itu bukan sekadar pekerjaan, melainkan perjalanan dalam menemukan makna hidup.
Meski telah menjalani hidup dan karier yang mapan, mimpi untuk melanjutkan studi magister di University of Toronto tak pernah padam. Semangatnya justru semakin menyala ketika melihat fenomena Generasi Z yang kerap diremehkan di dunia kerja. Rainer berharap ia dapat berkontribusi agar generasi muda memiliki kepercayaan diri untuk dapat bersinar di bidang profesionalnya masing-masing.
Rainer mencoba kembali pada tahun 2024 dengan tekad baru sambil bekerja penuh waktu. Ia menyiapkan segalanya dengan lebih matang, dan meraih skor Test of English as a Foreign Language Internet-Based Test (TOEFL IBT) 108 dari 120, mengikuti bimbingan intensif TBS, serta menjalani sepuluh kali latihan wawancara, salah satunya bersama Studyfirst. Bahkan, tiga hari sebelum ujian TBS, ia tetap belajar meski sedang dirawat di rumah sakit.
Kerja keras itu akhirnya terbayar. Rainer berhasil lolos seleksi beasiswa LPDP jalur reguler dengan nilai di atas ambang kelulusan 1000. Kini, ia tengah menempuh program Magister Pendidikan (Master of Education) di University of Toronto, dengan konsentrasi Pendidikan Orang Dewasa dan Pengembangan Komunitas (Adult Education and Community Development). Melalui studi tersebut, Rainer ingin memperdalam keilmuannya, dan berkontribusi bagi pengembangan potensi generasi muda yang sering dipandang sebelah mata.
Perjalanan Rainer menjadi contoh nyata perjuangan dan kegigihan dalam mewujudkan mimpi. Ia membuktikan bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan proses menuju kesiapan yang lebih matang. Bagi Rainer, kunci keberhasilan terletak pada dua hal, yakni persiapan matang dan dukungan mentor yang tepat. Ia belajar dari kegagalan, menyusun strategi baru, serta memperbaiki kelemahan melalui bimbingan dan simulasi wawancara, sehingga mendapat banyak wawasan berharga dan bisa tampil maksimal.
Perjalanan Rainer mengajarkan kita bahwa setiap kegagalan adalah langkah kecil menuju kesuksesan. Tidak ada usaha yang sia-sia jika kita terus belajar dan berusaha, serta membangun strategi yang tepat melalui bimbingan profesional bersama Studyfirst lewat simulasi wawancara.
“Karena terkadang, mimpi memang harus tertunda sejenak. Bukan untuk menghilang, tetapi agar kita bisa menjemputnya dengan versi diri yang lebih siap, lebih kuat, dan lebih bijak,” tutur Rainer.
(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

