Hits: 66
Cintya Novi Yanti
Pijar, Medan. Pernahkah terpikirkan olehmu bahwa mungkin saja selama ini kamu telah salah memahami sesuatu dan baru menyadarinya setelah bertahun-tahun berlalu? Dalam novel Hello, Tere Liye menghadirkan kisah sederhana, tetapi menyentuh hati pembaca melalui cerita tentang dua orang yang terikat masa lalu, serta penyesalan yang lama tersimpan.
Novel Hello mengajak pembaca ikut bernostalgia dan menelusuri jejak kenangan yang tersimpan rapi bersama Tigor dan Hesty, dua tokoh utama dalam kisah ini. Mengangkat cerita tentang kesalahpahaman yang terjadi selama bertahun-tahun di antara keduanya. Tere Liye mengemas cerita ini dalam 320 halaman yang terasa hangat dan ringan untuk dibaca di akhir pekan.
Karya yang terbit pada tahun 2023 ini mengisahkan Ana, seorang arsitek hebat yang keahliannya telah diakui oleh banyak orang. Sejak kecil, Ana lebih tertarik menyusun balok-balok menjadi sebuah bangunan megah daripada bermain boneka seperti anak perempuan lainnya.
Saat Ana menginjak usia 24 tahun, ia bukan lagi kontraktor pemula. Ia telah memiliki 40 pekerja bangunan dan empat staf di kantornya. Ia juga telah mengerjakan proyek rumah yang masuk dalam penghargaan rumah tropis terbaik di dunia. Berkat prestasinya, Ana sering dipercaya untuk membangun maupun merenovasi rumah milik orang kalangan atas hingga pejabat.
Suatu hari, ia diminta merenovasi rumah tua yang telah lama tidak dihuni. Awalnya Ana keberatan karena permintaan klien yang mendadak, tetapi setelah bertemu dengan pemilik rumah bernama Ibu Hesty dan melihat langsung kondisi bangunannya, ia memutuskan untuk menerima pekerjaan tersebut. Selama proses persiapan renovasi, Ibu Hesty mengajak Ana berkeliling rumah sambil bercerita tentang masa lalunya. Saat mereka sampai di bangunan tambahan yang terletak di bagian belakang rumah, kisah penuh warna dalam Hello pun dimulai, tepatnya di tahun 1975.
Bagian ini menceritakan tentang masa kecil Hesty dan Tigor, dua anak yang lahir hanya berselisih beberapa detik dan tumbuh di lingkungan yang sama. Namun, kesamaan itu tidak membuat mereka mudah bersahabat karena perbedaan status sosial yang memisahkan keduanya. Hesty adalah anak dari seorang pejabat dan pembaca berita ternama, sedangkan Tigor merupakan anak dari sopir dan asisten rumah tangga keluarga tersebut.
Sejak kecil, Hesty sering bermain di bangunan tambahan tempat Tigor tinggal. Kehadiran Tigor membuat hidup Hesty lebih berwarna dibandingkan dengan kedua saudarinya. Saat duduk di bangku sekolah dasar, keduanya sering berbuat ulah dan gemar mencoba hal-hal baru tanpa rasa takut. Seiring berjalannya waktu, hubungan Hesty dan Tigor kian erat. Mereka bahkan memiliki ruangan rahasia yang hanya diketahui oleh mereka berdua dan kerap menghabiskan waktu berbagi cerita. Kedekatan tersebut semakin lama tumbuh menjadi perasaan cinta bagi keduanya.
Dengan alur maju-mundur, Hello menampilkan kilas balik kehidupan Hesty dan Tigor di masa lalu yang diceritakan oleh Hesty kepada Ana di masa kini. Saat berkeliling rumah, Hesty dan Ana seolah diajak kembali ke puluhan tahun lalu untuk menyaksikan masa remaja Hesty dan Tigor. Di sela-sela itu, Ana menemukan sebuah kotak yang berisi surat-surat cinta yang ditulis Tigor untuk Hesty.
Penemuan tersebut membuat Ana semakin tersentuh dan penasaran akan akhir dari kisah mereka. Namun, hubungan Hesty dan Tigor terhenti karena kesalahpahaman yang membuat keduanya memilih menjauh tanpa saling mencari kabar. Hal ini meninggalkan rasa penasaran mendalam bagi Ana yang merasa bahwa kisah mereka belum benar-benar berakhir.
Novel Hello bukan hanya sekadar cerita roman biasa. Melalui hubungan antara Hesty dan Tigor yang terhalang perbedaan status sosial, Tere Liye menyoroti pentingnya komunikasi yang jujur dan terbuka dalam suatu hubungan. Novel ini mengajak pembaca untuk ikut berkelana ke masa lalu Hesty dan Tigor, seakan membuka kotak pandora yang penuh kejutan.
Tidak hanya mengisahkan cinta, novel Hello juga menyampaikan pesan tentang harapan, kehilangan, serta keberanian untuk memperbaiki dan memulai kembali hubungan yang sempat terputus.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

