Hits: 171

Athayollah Nailah Zahwa Nasution / Nur Agustilahmi Nasution

Pijar, Medan. Lagu “Satu” adalah salah satu single dari band legendaris Indonesia, Dewa 19. Lagu ini masuk dalam album Laskar Cinta yang resmi dirilis pada tahun 2004. Hadir dengan nuansa romantis sekaligus reflektif, “Satu” semakin meneguhkan posisi Dewa 19 sebagai salah satu band terbesar di masanya. Hingga kini, lagu ini masih kerap diputar dan dianggap abadi oleh para penikmat musik Indonesia.

“Satu” dikenal sebagai lagu cinta yang romantis dan menyentuh. Lirik-lirik sederhana dalam lagu ini justru membuka ruang tafsir mendalam. Salah satu perspektif menarik adalah membaca lagu ini dari sudut pandang religius.

Lirik “Tak ada yang lain selain dirimu” bisa dimaknai sebagai kerinduan manusia terhadap Tuhannya. Ahmad Dhani, sang penulis lagu, memang dikenal kerap menyelipkan nilai spiritual dalam karyanya. Karena itu, “Satu” bukan sekadar lagu cinta biasa, melainkan dapat dibaca sebagai syair penghambaan manusia kepada Sang Pencipta.

Aku ini adalah dirimu

Cinta ini adalah cintamu

Aku ini adalah dirimu

Jiwa ini adalah jiwamu

Rindu ini adalah rindumu

Lirik tersebut bisa dimaknai bahwa manusia dan Tuhan memiliki keterikatan mendalam. “Aku” dan “Kamu” menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan, seolah menegaskan bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya dan kembali kepada-Nya. Jiwa, raga, cinta, bahkan rindu manusia sejatinya adalah milik Tuhan.

Dengan mata-Mu, ku memandang

Dengan telinga-Mu, ku mendengar

Dengan lidah-Mu, aku bicara

Dengan hati-Mu, aku merasa

Penggalan lirik ini menegaskan bahwa seluruh pancaindra dan perasaan manusia sejatinya bergerak atas kuasa Tuhan. Setiap aktivitas, baik lahiriah maupun batiniah, merupakan cerminan kehadiran-Nya dalam diri manusia.

Untaian lirik-lirik pada lagu ini juga menggambarkan pengabdian yang tulus kepada sosok yang layak dipuja. Hanya Tuhan satu-satunya yang patut disembah, sumber segala cinta dan cahaya. Kalimat “kusebut namamu” mengalir seperti doa yang tak putus, menegaskan bahwa hidup sejati adalah hidup yang senantiasa mengingat dan menyebut nama-Nya. Lagu ini mengajarkan bahwa hidup akan bermakna bila seluruhnya diarahkan kepada Tuhan.

Dengan musik balada yang lembut, “Satu” mengalun bukan hanya sebagai lagu cinta, melainkan sebagai doa yang lirih. Lagu ini memberi ruang untuk refleksi, bahwa cinta sejati tak berhenti pada sesama manusia, melainkan juga cinta kepada Tuhan. Itulah sebabnya “Satu” tetap hidup hingga kini, karena ia bukan hanya dinyanyikan, tapi juga dirasakan sebagai perjalanan batin.

“Satu” adalah balada cinta yang melampaui sekat cinta yang menyatukan manusia dengan sesamanya sekaligus dengan Tuhannya. Inilah yang menjadikannya abadi, sebab lagu ini bukan hanya karya musik, melainkan pengingat bahwa kita semua berasal dari satu sumber dan kelak akan kembali kepada-Nya.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment