Hits: 29
Febri Susi Novia Gea / Amanda Citra Ayu
Pijar, Medan. Peran penerjemah sangat penting di era globalisasi ini, terutama dengan canggihnya perkembangan teknologi. Profesi penerjemah tidak hanya soal mengalihkan kata dari satu bahasa ke bahasa lain, tetapi juga menjaga makna, budaya, dan nilai di baliknya.
Tanggal 30 September diperingati sebagai Hari Penerjemah Internasional. Mengusung tema “Penerjemahan, Membentuk Masa Depan yang dapat Anda Percayai.” Tema ini bukan hanya menekankan pada penerjemah bahasa verbal, tetapi turut menyangkut penerjemah bahasa nonverbal, seperti bahasa isyarat. Dengan adanya penerjemah, baik bahasa asing maupun bahasa isyarat, hal ini dapat menciptakan sebuah jembatan kepercayaan dengan membangun komunikasi yang setara.
Bahasa isyarat berfungsi sebagai alat komunikasi yang menghubungkan penyandang disabilitas (tuli) dengan masyarakat luas. Bahasa isyarat menjadi sarana utama penting bagi Teman Tuli karena dapat membantu mereka dalam menangkap arti dan makna dari setiap ujarannya.
Seiring dengan kemajuan teknologi, penerjemah bahasa isyarat mulai menampilkan inovasi baru. Terdapat sebuah inovasi yang diciptakan Muhammad Nur Al Majid, mahasiswa Teknik Elektro di Universitas Telkom Purwokerto. Majid telah berhasil mengembangkan sebuah alat penerjemah bahasa isyarat berbasis machine learning, melalui sistem kecerdasan buatan (AI) yang mampu bekerja secara real-time dengan akurasi tinggi.
Dikutip dari situs resmi Universitas Telkom Purwokerto, Majid merasa bahwa inovasi ini masih perlu dikembangkan lebih lanjut agar lebih optimal.
“Inovasi ini dapat dikembangkan lebih jauh, baik dari segi sensor, algoritma AI, maupun cakupan kosakata yang dapat diterjemahkan,” ucapnya.
Menurut Majid, karyanya lahir atas bentuk kepeduliannya terhadap orang yang mengalami kesulitan pendengaran dan berbicara, yang kerap mengalami hambatan komunikasi di tengah masyarakat. Dengan adanya alat ini, mereka dapat berinteraksi dengan orang yang tidak memahami bahasa isyarat tanpa harus selalu bergantung pada juru bahasa isyarat.
“Saya berharap penelitian ini dapat menjadi dasar bagi penelitian mendatang yang berfokus pada aksesibilitas Teman Tuli,” ujarnya. Ia berharap dukungan dari pihak lainnya agar karyanya dapat dikembangkan lebih lanjut dan benar-benar bermanfaat bagi Teman Tuli.
Selain dukungan teknologi, pemahaman dasar bahasa isyarat bagi masyarakat luas sangatlah penting. Dengan semakin banyaknya orang yang dapat menggunakan Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia) untuk berkomunikasi, ruang interaksi akan menjadi lebih adil dan menyeluruh. Hal ini sejalan dengan esensi Hari Penerjemah Internasional yang menekankan bahwa penerjemahan merupakan fondasi bagi terbentuknya kepercayaan di masa depan.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

