Hits: 51
Siti Farrah Aini
Pijar, Medan. Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Fair Universitas Sumatera Utara (USU) menjadi ajang apresiasi bagi mahasiswa setelah menyelesaikan proyek berbasis tim dalam pelaksanaan MKWK. Sempat dirilis oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Perkuliahan (PP) Laboratorium Ilmu Dasar dan Umum (LIDA) USU pada tahun 2022 dan 2023. Namun, dalam pelaksanaannya, program ini sempat absen dua tahun berikutnya.
Dalam gelaran perdana pada Juni 2022 lalu, para mahasiswa menampilkan beragam implementasi proyek yang diperlombakan melalui tari, puisi, bernyanyi, lawakan tunggal (stand up comedy), dan ragam seni lainnya. Namun, setelah kembali diadakan pada Agustus 2023, MKWK Fair tidak lagi muncul ke permukaan.

(Sumber Foto: Instagram @officiallidausu)
Kepala UPT PP LIDA USU, Timbangen Sembiring, menyatakan bahwa pihaknya terkendala dalam melanjutkan pelaksanaannya sebab keterbatasan anggaran akibat efisiensi dana. Apalagi, dana yang digelontorkan tergolong dalam nominal tidak sedikit.
“Mahasiswa, dosen, dan mentor mengapresiasi dan ingin MKWK Fair terus dilanjutkan. Akan tetapi, kita terbentur dengan efisiensi dana. Namun, tahun depan sudah berganti pejabat [dalam lingkup USU], saya menyarankan untuk mengadakan kembali MKWK Fair. Jika tidak bisa setahun sekali, maka dua tahun sekalipun tidak masalah,” ujarnya.
Sebagai perencanaan, Timbangen menyatakan bahwa USU baru-baru ini mendapatkan hibah dalam Program Bantuan Pengembangan Model Pembelajaran MKWK Berbasis Proyek Tahun 2025 bernilai sekitar 60 juta rupiah. Nominal yang cukup besar tersebut direncanakan untuk mengembangkan proyek MKWK menjadi bentuk pengabdian masyarakat dengan hasil berupa tulisan ilmiah, prototipe, dan bentuk lain yang diharapkan menimbulkan keseimbangan antara hasil (output) dan dampak yang didapatkan dari hasil (outcome).
Melihat vakumnya MKWK Fair, Debi Tobing, mahasiswi Farmasi 2022, sebagai tim pemenang pada MKWK Fair 2023 lalu, menyampaikan bahwa MKWK Fair penting untuk diadakan kembali.
“Sayang banget, sih, MKWK Fair vakum selama dua tahun ini karena mahasiswa jadi kehilangan wadah buat menampilkan hasil karya yang inovatif dan inspiratif. Contohnya kami sendiri, setelah membuat pojok literasi [bentuk proyek Debi dan timnya], ada rasa ingin menunjukkan ke orang lain supaya termotivasi juga. MKWK Fair penting untuk tetap ada supaya proyek mahasiswa tidak sekadar menjadi laporan saja, tetapi bisa dilihat kreativitasnya dan berdampak bagi banyak orang,” ungkapnya.
Selain itu, Maudika Ramadhani, mahasiswi Ilmu Hukum 2024, juga menyampaikan saran dan evaluasinya terhadap pelaksanaan proyek MKWK ini.
“LIDA bisa mempertimbangkan untuk mengadakan presentasi atau showcase hasil proyek tim di akhir semester sebagai alternatif dari MKWK Fair yang vakum sekaligus memberikan kesempatan buat mahasiswa untuk menunjukkan kerja keras mereka. Showcase ini dapat menjadi ajang buat saling belajar antartim karena bisa melihat pendekatan atau solusi kreatif yang dipakai tim lain. Selain itu, bisa menjadi motivasi agar mengerjakan proyek dengan lebih serius,” sarannya.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus).

