Hits: 68
Theodora Stephanie Laowo
Pijar, Medan. The winner takes it all, the loser has to fall. Begitulah dunia menulis takdir, bukan dengan keadilan, melainkan dengan seleksi yang senyap dan tajam. Di dunia yang mengukur segalanya lewat piala, angka, dan selebrasi, tidak ada tempat bagi mereka yang tak sempat mencapai podium. Tak ada ruang untuk luka, apalagi penjelasan. Yang kalah, harus diam. Yang menang, disorot dari segala arah.
Lagu “The Winner Takes It All” kembali mengalun di ruang-ruang digital. Dirilis ulang sebagai soundtrack film Mamma Mia! (2008). Lagu ini viral bukan karena glamor atau nostalgia, melainkan karena ada getir yang tertahan di antara bait-baitnya. Jeritan dari mereka yang tak pernah dimenangkan.
Diciptakan oleh Benny Andersson dan Björn Ulvaeus dari grup musik ABBA, lagu ini awalnya menggambarkan runtuhnya hubungan cinta. Dinyanyikan penuh emosi oleh Agnetha Fältskog, salah satu personel ABBA yang saat itu baru saja bercerai. Hingga kini, zaman punya cara sendiri untuk membaca ulang makna. Kini, lagu ini terasa seperti surat terbuka bagi mereka yang ditinggalkan oleh sistem, keberuntungan, sorotan, dan oleh dunia yang terbiasa hanya mengangkat satu nama.
I was in your arms,
Thinking I belonged there
Lirik ini seperti memotret harapan yang begitu manusiawi, bahwa kita percaya telah melakukan segalanya dengan benar. Bahwa kita merasa layak. Namun, semuanya runtuh tanpa peringatan, tanpa alasan yang dijelaskan. Seperti mengikuti perlombaan yang garis akhirnya digeser diam-diam.
Lagu ini tak bicara tentang kecemburuan. lagu ini lebih seperti doa yang tak pernah dijawab. Alunan liriknya menjadi suara bagi mereka yang telah berusaha sepenuh hati, tetapi tetap kalah. Mereka yang dikalahkan oleh sistem, oleh ketidakterbukaan, oleh seleksi yang lebih senang menjilat prestise daripada mendengar proses.
Building me a home,
thinking I’d be strong there.
Lagu ini menusuk karena menggambarkan bagaimana seseorang percaya, bertahan, berharap. Namun, pada akhirnya, yang ia dapatkan hanyalah penghakiman. Ia diberi semangat seadanya. Dikatakan “wajar”, “sudah jalannya”, lalu diminta menepi. Dunia terlalu cepat melupakan orang-orang yang tidak mendapat panggung. Mereka hanya diberi waktu untuk diam—bukan untuk pulih, agar tidak mengganggu perayaan.
Dunia hari ini sedang menyaksikan satu kisah yang membuat lagu ini terasa seperti nyanyian duka paling relevan. Ada seseorang yang telah berjuang hingga batas napas terakhir, tetapi tak diberi ruang untuk bertanya. Tak diberi panggung untuk menjelaskan. Namanya tidak disebut, kisahnya tidak diangkat. Hanya tagar dan unggahan yang pelan-pelan mulai tenggelam.
‘I was in your arms’ berubah menjadi ‘But you see, the winner takes it all’.
Kalimat itu seperti bukan sekadar pengakuan, melainkan semacam vonis. Dunia menyukai pemenang. Yang lain? Harus jatuh, pasrah, dan harus paham posisi. Bahkan, jika perjuangan mereka lebih berat, lebih panjang, lebih dalam, semua akan tetap diringkas menjadi satu hal, yaitu tetap tidak terpilih.
Ketidakadilan zaman sekarang tak lagi berbentuk kekerasan verbal. Ia hadir lewat pengumuman yang rapi, panggung yang elegan, dan selebrasi yang memilih-milih siapa yang layak disorot. Ada senyum di foto, ada tangan yang menjabat, ada kata-kata manis yang diumumkan, tapi tidak semua orang diajak masuk ke dalam ruangan itu. Beberapa hanya melihat dari luar, sambil menahan air mata di tempat yang sepi.
But I was a fool,
Playing by the rules.
Inilah bagian yang paling menampar. Ketika seseorang sadar bahwa ia kalah bukan karena tidak cukup baik, tetapi karena terlalu percaya pada aturan yang ternyata tidak pernah adil sejak awal.
Lagu ini tidak mengajak kita membenci pemenang. Tidak pula mengajak menolak seleksi. Namun, ia menyentil sisi kemanusiaan yang mulai tumpul, bahwa mereka yang kalah juga punya cerita, punya alasan, dan punya luka yang sah untuk didengar. Kita terlalu sering menganggap mereka harus kuat, harus diam, harus bisa melanjutkan tanpa pernah diberi ruang untuk pulih.
Barangkali, inilah elegi paling pilu untuk generasi yang hidup dalam sistem serba kompetitif. Lagu ini menyuarakan rasa sakit mereka yang tak diundang ke atas panggung. Mereka yang tak kalah karena gagal, tetapi karena keberpihakan tidak pernah ada di pihak mereka.
Dan mungkin, di tengah semua ingar-bingar kemenangan, kita perlu mendengar lagu ini sejenak. Bukan untuk memaki siapa pun, tetapi untuk mengingat bahwa setiap selebrasi menyisakan seseorang yang terdiam di sudut. Dan mereka pun layak dihormati.
(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

