Hits: 80

Hanina Afifah

Pijar, Medan. Pernahkah kamu merasakan sedih, malas, atau bahkan tidak bersemangat untuk kembali pada aktivitas rutin usai liburan? Padahal, liburan membuat suasana hati senang dan bahagia lantaran adanya kesempatan untuk merehatkan diri sejenak dari hiruk pikuk tugas maupun kerjaan. Namun, bukannya semakin produktif, justru rasa malas semakin menjadi-jadi setelah berlibur. Hmm, aneh sekali, ya? Mari gali lebih dalam dengan menyelami tulisan ini!

Dalam dunia psikologi, situasi tersebut diistilahkan sebagai post holiday blues atau sindrom  yang menyebabkan seseorang merasa sedih pasca menjalani liburan. Terjadinya sindrom ini ditandai dengan kebahagiaan dan kesenangan yang seketika sirna, beralih menjadi perasaan hampa sebab berat hati untuk memulai kembali rutinitas.

Psikiater bernama Andreas Kurniawan, turut mengungkap penyebab dari sindrom ini melalui akun TikTok @dr.ndreamon.

“Saat seseorang sedang liburan, bakal ada perubahan secara hormonal dalam tubuhnya, yaitu peningkatan hormon dopamin ketika merasa senang dan serotonin yang membuat rasa nyaman. Nah, problem-nya terjadi ketika ia sudah kembali dari liburan, maka hormon-hormon tersebut akan menurun drastis,” jelasnya.

Andreas mengatakan bahwa rutinitas seseorang dapat meningkatkan hormon stres yang menyebabkan post-holiday blues ini.

“Apalagi ketika sudah kembali dari liburan, seseorang tersebut bakal menghadapi kembali rutinitas seperti mengerjakan tugas, kerja, atau bertemu dengan orang yang bikin tidak nyaman. Secara otomatis, hormon yang menyenangkan tadi akan berubah jadi hormon stres yang membuat jadi enggak nyaman,” lanjutnya lagi.

Melansir dari antaranews.com, psikolog klinis Veronica Adesla menyatakan bahwa kemunculan perasaan ini hanya bersifat sementara dan berlangsung selama beberapa hari saja.

Adapun ciri-ciri umum yang disebabkan dari post holiday blues ditandai dengan merasa sedih saat tiba di hari terakhir liburan, menurunnya motivasi dan konsentrasi untuk beraktivitas kembali, suasana hati menjadi buruk (badmood), dan merasa frustasi membayangkan hal-hal yang akan dialami ke depannya. Tidak jarang pula sebagian orang yang mengalami sindrom ini menjadi insomnia bahkan sering melamun karena hatinya terasa sepi dan kosong.

Untuk mencegah postholiday blues, Andreas menganjurkan untuk mempersiapkan waktu istirahat minimal satu hari sebelum kembali pada rutinitas.

“Sebaiknya, kalian siapkan ‘hari liburan setelah liburan’. Maksudnya, jangan sampai di hari kalian selesai liburan, kalian langsung beraktivitas lagi keesokan harinya. Jadi, buat situasi dimana kalian bisa beristirahat paling tidak sehari untuk cooling down sekaligus menyiapkan diri untuk menghadapi kesibukan esok harinya,” sarannya.

Akan tetapi, apabila langkah pencegahan tidak lagi mempan diterapkan bagi penderitanya, maka ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi sindrom pasca liburan ini:

  • Mencurahkan isi hati kepada orang yang dipercaya
  • Lakukan hal-hal yang dapat meningkatkan suasana hati, seperti melakukan hobi yang disukai
  • Mengonsumsi makanan yang sehat
  • Melihat dokumentasi saat liburan untuk mengobati rasa rindu
  • Tidur yang cukup dan berolahraga untuk meminimalisir stress

Meski postholiday blues dianggap normal dan akan mereda dalam beberapa hari, tetapi jika kondisi tersebut semakin parah dan terus dirasakan dalam waktu yang lama, jangan hanya tinggal diam dan segeralah berkonsultasi dengan psikolog agar tidak memperburuk kesehatan mental kamu.

(Redaktur Tulisan: Marcheline Darmawan)

Leave a comment