Nadya Divariz Bhayitta Syam

Pijar, Medan. Cancel culture, gagasan yang merujuk pada ‘pembatalan/membatalkan’ seorang artis ataupun public figure dari apapun yang saat itu sedang dilakukannya, baik di dunia maya maupun nyata. Budaya ini mungkin akan terasa asing jika kita membahasnya di beberapa tahun yang lalu, namun semenjak media sosial sekali lagi merajalela, meng-cancel seseorang bukan lagi hal yang aneh. 

Produk, grup besar, atau tokoh-tokoh yang terkenal di masyarakat. Semua orang bisa jadi korbannya dengan alasan yang terlalu beragam dan semakin lama, penyebabnya makin terasa remeh.

Hal yang paling sering terjadi saat ini adalah warganet yang mengulik masa lalu seseorang, menemukan kesalahan, lalu meng-canceling orang tersebut. Kemudian mereka merasa orang tersebut harus meminta maaf, namun di satu sisi tidak ingin memaafkan dan melupakan fakta bahwa setiap manusia bersifat dinamis yang memungkinkan semua orang berubah sesuai dengan keadaannya. Seperti lingkaran setan, kejadian ini akan terus berulang.

Tapi ada lagi pendapat yang bilang bahwa cancel culture adalah cara orang-orang untuk mengubah seseorang dengan cara sedikit kasar. Tapi apakah pengaruh seseorang akan langsung hilang serta merta setelah beberapa orang lainnya ‘memboikot’ pribadi yang bersangkutan? Sayangnya tidak. Menghilangkan pengaruh sebuah tokoh tidak semudah itu. Sebelum itu, bukankah perilaku ini terdengar cukup toxic?

Cancel that b*tch. I’ll buy another one.’ 

Dilansir dari Vox, kalimat yang diucapkan Nino, seorang gangster dari film New Jack City saat patah hati karena dicampakkan kekasihnya, yang bisa dituduh sebagai awal mula ‘budaya’ ini. Atau lagu I’m Single milik Lil Wayne yang juga mengacu pada film tahun 1991 tersebut. Semuanya mengandung maksud awal yang serupa. Hanya sebuah candaan berbau misoginis yang perlahan dikaitkan dengan hal remeh dan menjadi lumrah.

Namun apakah kita benar-benar bisa meng-cancel sesuatu? Sebut saja salah satu selebgram Indonesia yang sempat di-cancel masyarakat karena kelakuannya mencuri hak intelektual seniman daring dengan mengunggah karya mereka pada sosial medianya tanpa mencantumkan disclaimer, atau Kevin Hart yang ‘dihajar’ habis-habisan karena salah satu candaan dalam tweet-nya yang kemudian membuat ia gagal menjadi host di Academy Award. Apakah skandal tersebut lantas membuat orang-orang ini hilang dan tidak lagi muncul di media? Nyatanya tidak. Apakah mereka yang di-cancel ini kemudian dilarang untuk hidup sebagai tokoh publik? Tidak juga. Beberapa malah masih eksis dengan image baru. Lalu, apa gunanya cancel culture?

Sebelum melakukan kegiatan yang terdengar heroik ini, kita harus berpikir ulang dan menimbang ini dan itu. Seperti judul salah satu artikel di whiteboardjurnal.com, apakah cancel culture benar-benar sebuah kesadaran sosial, atau hanya kegiatan ikut-ikutan?

(Editor: Diva Vania)

Leave a comment