Hits: 75
Zikri Auliana / Widya Tri Utami
Pijar, Medan. Mengulas balik salah satu kota bersejarah di Indonesia, seminar yang bertajuk “Kembali ke Titik Nol Jejak Sejarah Kota Batavia dan Perkembangannya” diselenggarakan oleh MULA Kota Tua pada Sabtu, (28/11) pukul 13.30 WIB. Seminar daring yang berlangsung selama 3 jam ini disiarkan langsung melalui Zoom meeting dan dihadiri oleh kurang lebih 30 peserta.
Membahas Sejarah Kota Batavia secara mendalam, seminar ini mengundang tiga narasumber di bidangnya masing-masing. Narasumber itu antara lain adalah Asep Kambali, S.pd., M.I.K seorang Sejarawan Indonesia dan Pendiri Komunitas Historia Indonesia, kemudian ada Ir. Teguh Utomo Atmoko MURP seorang Ahli Perencanaan Kota dan Wilayah, serta Firman Faturohman seorang Staf Edukasi UP, Museum Kebaharian Jakarta.
Nama Batavia berasal dari Suku Batavia, sebuah suku jemanik yang bermukim di tepi sungai Rhein pada Zaman Kekaisaran Romawi. Bangsa Belanda dan sebagian Bangsa Jerman adalah keturunan dari suku ini. Sedangkan Kota Batavia merupakan koloni dagang Belanda yang sekarang menjadi Jakarta, Ibu Kota Indonesia. Kota Batavia ini bukanlah hanya sebatas Kota Tua saja, melainkan sampai kepada perbatasan Jati Negara, yang dimulai pada abad ke-17.
Narasumber Teguh Utomo Atmoko dalam materinya menjelaskan bahwa Kota Batavia dibangun menggunakan material batu bata, kemudian batu kapur sebagai semen hasil dari batu karang yang dibakar sehingga menghasilkan tepung kapur. Lalu, hasil tersebut dicampur dengan tumbukan batu bata dan air hingga menjadi sebuah adukan semen pada umumnya.

“Hal yang menjadi daya tarik Kota Batavia ini adalah kanal-kanal yang dibangun untuk menyalurkan air sebagai prasarana transportasi. Mereka juga membuat air sungai itu sebagai sumber air bersih. Bersamaan pula dengan tempat pembuangan limbah rumah tangga, mengandalkan pintu-pintu air serta pasang surut air laut. Kota ini, termasuk kota yang cukup canggih pada saat itu,” jelas Teguh.
Namun pada saat ini, Kota Batavia disebut dengan Kota Tua. Tempat ini sudah banyak mengalami perubahan dari Kota Batavia sebelumnya. Banyak pintu-pintu kanal yang ditutup, air-air yang salurannya besar menjadi kecil sehingga banyak kanal-kanal yang tidak berfungsi lagi seperti dulu. Banyak perubahan-perubahan yang dilakukan terhadap kota ini yang kemudian menghilangkan keunikan tempat itu sendiri, sehingga peninggalan Kota Batavia yang dulu tidak terlihat jelas.
“Seharusnya Kota Tua ini dikembalikan seperti asal sejarahnya dahulu. Maka sejarah ini harus dipertahankan karena ini adalah karakter kita, karakter yang membedakan kita dengan kota-kota lain. Apalagi bandar termegah se-asia itu dimiliki oleh Kota Tua,” tegas Asep, narasumber kedua.
Ketiga narasumber berharap agar penataan Kota Tua dapat lebih diperhatikan untuk menghindari kerusakan guna menjaga kelestarian sejarah yang ada di dalamnya. “Kita butuh pemimpin yang punya visi ke depan tapi juga berwawasan pelestarian kepada kawasan termasuk pelestarian kawasan sejarah,” harapnya.
(Editor: Erizki Maulida Lubis)

