Hits: 37
Reporter Pijar / Meylinda Pangestika Gunawan
“Gak ada orang yang bisa bertanggung jawab atas kebahagiaan di hidup kita selain diri kita sendiri” –Dinda
Pijar, Medan. Bagi para pecinta film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI), siapa sih yang tidak mengenal sosok Kale? Seorang pria yang sempat menjadi buah bibir para kaum hawa karena sikapnya yang memberi harapan palsu alias PHP kepada Awan. Kali ini, kita akan mengenal lebih dekat dengan Kale melalui film Story of Kale yang diperankan penyanyi Ardhito Pramono tersebut.
Film Story of Kale merupakan spin-off dari film NKCTHI yang menceritakan masa lalu Kale sebelum mengenal Awan (Rachel Amanda). Film yang disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko ini sudah tayang pada 23 Oktober lalu di bioskop online dan harga tiketnya pun terbilang murah, yaitu Rp10.000. Selain itu, film ini juga mengusung tema Toxic Relationship yang tidak jauh dari kehidupan percintaan masa kini.
Berawal dari Kale membantu Dinda yang diperankan Aurelie Moeremans untuk keluar dari zona toxic relationship bersama sang mantan Argo (Arya Saloka). Kemudian hubungan keduanya menjadi semakin dekat, dan akhirnya berpacaran. Walaupun Kale belum pernah menjalin hubungan dengan seseorang, namun pengorbanan Kale kepada Dinda sangatlah besar, hingga pantas dijuluki sebagai ‘Bucin’. Akan tetapi, rasa cinta yang berlebihan dapat berubah menjadi toxic. Seiring berjalannya waktu, Kale berubah menjadi pribadi yang pencemburu dan posesif.
Memiliki alur maju mundur yang sederhana, membuktikan bahwa film ini telah dipersiapkan secara matang dalam proses pembuatannya pada masa pandemi seperti saat ini. Didukung oleh chemistry keduanya, Ardhito Pramono dan Aurelie Moeremans berhasil membangun emosi karakter Kale dan Dinda. Keberhasilan tersebut dapat dibuktikan melalui komentar para penonton di media sosial yang merasakan bahwa emosi mereka dipermainkan saat melihat film ini.
Seperti yang kita ketahui, film ini mengangkat cerita tentang toxic relationship yang sudah lumrah ditemukan pada masyarakat dewasa ini. Film ini mampu menggambarkan bagaimana suatu hubungan yang tidak sehat itu berlangsung. Terdapat beberapa adegan seperti kekerasan, mencampakkan barang-barang, membentak pasangan, mendorong hingga membanting. Itu semua tidak jauh dari situasi hubungan toxic, sehingga orang-orang yang pernah tinggal dalam hubungan tersebut sangat relate ketika menonton film ini.
Memulai lebih mudah daripada mempertahankan. Sama halnya dengan menjalin suatu hubungan. Terkadang, toxic relationship juga tidak selamanya mengandung kekerasan, ada pula yang menjadi sosok bucin seperti Kale yang rela disakiti oleh Dinda karena sudah jatuh cinta terlalu dalam. Kale yang rela diselingkuhi asalkan Dinda tetap berada di sisinya membuat kita tidak habis pikir, namun memang begitulah sikap orang-orang yang sudah dibutakan cinta.
Dampak dari toxic relationship juga sangat berbahaya bagi masa depan, karena bersangkutan dengan mental yang terlibat dalam hubungan tersebut. Kita akan menjadi orang yang trust issue, tidak percaya diri, gangguan psikologi, dan lain-lain. Maka dari itu kita perlu mengetahui, sudah sehatkah hubungan yang kita jalin saat ini? Kalau belum, sudah boleh untuk kita antisipasi.
Sangat banyak pelajaran yang bisa kita kutip dari film Story of Kale, salah satunya bagaimana kita menjalin komunikasi satu sama lain dengan pasangan agar terhindar dari masalah. Seperti yang sering dikatakan, “ngomong, bukan dipendam” karena cinta tidak melulu tentang hal manis, namun bagaimana cara kita mengambil keputusan juga sangat diperlukan.
Selain itu, yang menarik dari film Story of Kale tersebut ialah OST yang melengkapi jalan cerita dan juga membangun nuansa percintaan maupun patah hati. Tak lupa pula dengan tone visual yang disajikan Visinema Pictures sangat memanjakan mata saat menonton film ini. Film Story of Kale: When Somenone’s In Love memiliki banyak pelajaran yang dapat kita ambil, baik secara tersurat maupun tersirat.
(Editor: Widya Tri Utami)

