Hits: 1
Kiki Nabila Tusu
“Eh, maaf, aku nggak sengaja.”
Ucap seorang pria yang mengenakan kemeja putih dan celana cokelat. Sebuah gadget tergenggam di tangannya.
“Oh, iya. Nggak apa-apa, kok.”
Aku menjawab sambil menatapnya dengan takjub. Bagaimana tidak? Pria yang baru saja bertabrakan denganku itu benar-benar tipeku.
“Kamu anak dokumentasi acara, ya?” tanyanya ramah.
“I-iya. Aku baru aja daftar di organisasi ini,” jawabku sedikit gugup.
“Oh, pantas. Baru kali ini aku lihat kamu.”
Nada bicaranya terdengar sedikit dingin, dengan tatapan heran yang masih tertuju padaku. Namun, sesaat kemudian, pandangannya beralih ke tanganku.
“Eh, tanganmu berdarah, tuh. Ayo, ke UKS. Aku obati, ya?”
“Em, nggak perlu. Aku baik-baik aja, kok.”
“Kamu yakin? Tawaran aku nggak datang dua kali, loh,” ujarnya sambil bercanda.
“Hehe, iya. Aku benar-benar nggak apa-apa, kok,” jawabku malu-malu.
***
“Hai, Sahi! Kamu dari mana aja, sih?”
Sambut Amel, teman sebangkuku sekaligus sahabat terdekatku, begitu aku tiba di kelas.
“Dari rumahlah. Emang mau dari mana lagi, Mel?” jawabku heran melihatnya yang tampak begitu antusias pagi ini.
“Eh, tuh! Di meja kamu ada box makanan. Kamu lagi deket sama seseorang, ya?”
Amel menunjuk sebuah kotak makanan yang terletak di atas mejaku. Tatapannya penuh rasa penasaran.
“Hah? Siapa? Aku nggak deket sama siapa-siapa, Mel,” jawabku bingung.
“Udah, nggak usah malu-malu. Aku tahu, kok, kamu lagi deket sama Satra.”
“HAH?!”
Aku sontak terkejut mendengar nama yang disebutkannya.
“Siapa bilang aku deket sama dia? Aku aja bahkan belum pernah ngobrol sama dia,” bantahku heran.
“Kalau nggak deket, terus kenapa dia nganterin box makanan ini buat kamu?” Amel mengangguk ke arah kotak makanan di mejaku.
Aku terdiam. Pandanganku beralih pada kotak makanan itu. Jujur saja, aku benar-benar terpaku. Ada banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalaku. Aku mulai ingat sesuatu.
“Oh, mungkin karena kemarin dia nggak sengaja nabrak aku. Terus, tanganku sampai berdarah. Mungkin dia merasa nggak enak, makanya nganterin makanan ini,” jelasku, mencoba mencari alasan yang paling masuk akal.
Amel menatapku dengan tatapan curiga, seolah tak begitu saja percaya dengan penjelasanku.
“Lah, padahal tanganmu cuma tergores sedikit. Apa iya sampai harus nganterin makanan? Menurutku, sih, dia punya niat lebih, deh,” godanya dengan senyum penuh arti.
“Ah, nggak mungkin! Kamu jangan mikir yang aneh-aneh, deh. Jangan sampai bikin rumor!” jawabku panik.
Aku buru-buru mengalihkan pandangan, berharap Amel berhenti membahas hal itu. Namun, melihat senyum jahil yang masih terukir di wajahnya, sepertinya hari ini aku belum akan terbebas dari godaannya
Hari-hari berikutnya, hal itu terus berlanjut. Sesekali, Satra bahkan mengantarkan jajanan ringan untukku. Perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa saja, perlahan mulai membuatku terbiasa dan diam-diam menantikannya.
“Ah, aku nggak tahan. Aku nggak boleh senyaman ini diperlakukan seperti ini. Kenapa, sih, sikapnya selalu bikin aku salah paham?” batinku.
Keesokan harinya, aku kembali berpapasan dengan Satra.
“Satra!” panggilku saat melihatnya berjalan tak jauh dariku.
“Iya, Sahi? Eh, kamu terima makanannya, kan?” tanyanya.
“Iya, aku terima. Makasih, ya. Aku udah coba cari kontak kamu, tapi nggak ketemu. Aku juga beberapa kali ke kelasmu, tapi kamu nggak ada,” jelasku.
“Oh, iya. Aku emang sering ada urusan di luar kelas. Sini, nomor kamu biar aku simpan.”
Aku tersenyum kecil. Entah kenapa, permintaan sesederhana itu bisa membuatku sebahagia ini.
“Sini, cepetan. Aku simpan,” ujarnya sambil mengulurkan ponselnya.
Aku pun mulai menyebutkan angka demi angka nomor teleponku.
“Eh, besok temenin aku makan mi ayam di dekat sekolah, yuk! Aku udah lama banget pengen ke sana,” ajaknya dengan begitu bersemangat.
Ini nggak mungkin, deh. Apa pria ini benar-benar punya niat lain? Apa dia suka sama aku? tanyaku dalam hati, mencoba menebak-nebak maksud di balik semua perhatiannya.
“A-ayo. Aku juga udah lama nggak makan mi ayam,” jawabku, berusaha menyembunyikan rasa gugup.
“Oke, sampai jumpa besok, ya!” katanya sebelum beranjak pergi.
Dan begitulah, hal-hal manis itu terus berulang, seolah perlahan menjadi bagian dari keseharian kami.
Kami mulai sering pergi dan pulang bersama, menghabiskan waktu dengan semangkuk mi ayam di tempat langganannya, hingga menemaninya belajar di perpustakaan kesayangannya. Sesekali, kami juga menyempatkan diri mencicipi dimsum favoritku.
Hal-hal sederhana yang entah sejak kapan terasa begitu istimewa ketika dilakukan bersamanya.
Hari demi hari berlalu, kedekatan kami semakin terasa. Ada tawa yang dibagi, cerita-cerita kecil yang mulai terbuka, dan kebersamaan yang perlahan menciptakan kenyamanan di antara kami.
Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang tak kunjung menemukan jawaban.
Tentang hubungan kami.
Kami terus berjalan beriringan, menikmati setiap momen yang ada, tetapi tak pernah benar-benar membicarakan ke mana semua ini. Seolah-olah kami terlalu nyaman dengan apa yang sedang dijalani, sampai lupa mempertanyakan sebenarnya kami ini apa.
***
Hingga suatu sore sepulang sekolah, aku melihat Satra sedang berbincang dengan seorang perempuan. Entah mengapa, ada rasa nyeri kecil yang tiba-tiba menyelinap di dadaku. Aneh, kenapa rasanya sesakit ini?
“Sahi!” panggilnya dengan semangat saat melihatku menghampiri.
“Eh, Sahi. Maaf, ya, nunggu agak lama,” katanya.
“Nggak apa-apa, kok,” jawabku singkat.
Ada begitu banyak pertanyaan yang berputar di kepalaku. Namun, aku sadar, aku punya hak apa untuk mempertanyakan semua itu?
“Sahi, aku mau cerita, deh. Ini sesuatu yang benar-benar serius.”
Aku mulai salah tingkah. Apa, ya, yang mau dia bicarakan? Kenapa harus seserius itu? Apa mungkin… dia akan menyatakan perasaannya kepadaku?
Pikiran itu terus berulang di kepalaku, menghadirkan harapan-harapan kecil yang bahkan tak berani kuakui.
Saat di tengah perjalanan, Satra kemudian menghentikan motornya di dekat sebuah taman. Ia mengajakku duduk di salah satu bangku yang ada di sana.
“Sebenarnya, aku mau berbagi sebuah rahasia yang nggak pernah aku sangka akan aku ceritakan ke orang lain,” ucapnya.
“Apa?” tanyaku penasaran.
“Sebenarnya, selama ini aku suka sama seseorang. Tapi, aku belum bisa nyebutin namanya. Tetapi sama kamu boleh deh.”
Aku terdiam sejenak. Satra memang orang yang cukup tertutup. Ia bukan tipe orang yang mudah membagikan hal-hal pribadi kepada orang lain. Jadi, mendengar pengakuan itu, aku merasa cukup istimewa karena ia memilihku untuk mendengarnya.
“Siapa?” tanyaku pelan.
“Kamu tahu, kan, perempuan yang tadi pagi ngobrol sama aku habis apel? Yang tadi juga kamu lihat sebelum pulang?”
“Raya?” tanyaku memastikan.
“Hehe, iya,” jawab Satra sambil tersenyum senang.
Rasanya, ada sesuatu yang runtuh di dalam diriku.
Sakit sekali. Begitu sakit, sampai aku tak sanggup membalas satu patah kata pun. Senyum yang sejak tadi berusaha kupertahankan perlahan terasa begitu berat.
“Aku udah lama suka sama dia. Bahkan, jauh sebelum aku kenal kamu,” lanjutnya. “Tapi, aku nggak pernah punya keberanian buat ngedekatin dia. Rencananya, besok aku mau bawa dia ke taman ini. Makanya aku ajak kamu, biar kita survei dulu. Aku ingin segera ngungkapin perasaanku.”
Aku menunduk, berusaha menyembunyikan mata yang mulai terasa panas. Air mataku nyaris jatuh, tetapi kutahan sekuat mungkin.
Aku benar-benar tidak menyangka. Setelah semua waktu yang kami habiskan bersama, setelah segala perhatian kecil yang perlahan membuatku berharap, ternyata aku hanyalah seseorang yang ia anggap sebagai teman.
Aku menarik napas pelan, mencoba menyusun sesuatu untuk diucapkan. Namun, pada akhirnya, hanya satu kata yang berhasil keluar dari mulutku.
“Hebat.”
Satu kata sederhana, yang mungkin terdengar seperti pujian. Padahal, di baliknya, ada begitu banyak perasaan yang tak mampu kuutarakan. Entah itu kecewa, marah, atau sekadar caraku menyindir keadaan yang begitu menyakitkan.
Tanpa menunggu tanggapannya, aku segera beranjak meninggalkan Satra.
Aku menghentikan sebuah taksi yang kebetulan melintas, lalu masuk tanpa banyak bicara. Begitu pintu tertutup, pertahanan yang sejak tadi kubangun perlahan runtuh.
Di sepanjang perjalanan pulang, aku menangis dalam diam. Mataku menatap jendela taksi yang basah oleh rintik hujan. Butiran air yang mengalir di kaca seolah menjadi gambaran dari air mataku sendiri.
Aku tak pernah menyangka akan sesakit ini. Tak pernah menyangka bahwa sesuatu yang selama ini terasa begitu indah ternyata hanya hidup dalam prasangkaku sendiri.
Perlahan aku sadar, bahwa ternyata salah paham yang paling menyakitkan adalah ketika aku merasa dicintai. Bahwa perlakuan seistimewa itu pun nyatanya tak pernah kunjung berarti. Bahwa aku, seharusnya tak pernah meletakkan harapan lebih..
Sore itu aku memilih untuk segera membuka gadget dan memblokir nomornya. Berharap tidak akan pernah bertemu lelaki pengecut sepertinya.

