Hits: 14

Celsi Roma Uli Br. Manurung / Dwi Garini Oktavianti

Pijar, Medan. Pemerintah melalui Menteri Kebudayaan Republik Indonesia telah menetapkan tema serta ketentuan mengenai pelaksanaan Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2026. Tahun ini, peringatan yang jatuh pada tanggal 1 Oktober tersebut mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”.

Momentum peringatan ini menjadi pengingat di tengah perkembangan era digital yang mengubah cara masyarakat berkomunikasi dan menyampaikan pandangan. Saat ini, media sosial tidak hanya menjadi sarana untuk bertukar informasi, tetapi juga telah menjadi ruang pertemuan bagi masyarakat dengan beragam latar belakang, pemikiran, dan kepentingan. Bahkan, satu unggahan atau ketikan dapat dengan cepat memicu perdebatan hingga konflik di ruang digital.

Hal tersebut sejalan dengan tingginya penggunaan internet di Indonesia. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 235,26 juta jiwa pada 2026, dengan komunikasi dan media sosial menjadi salah satu alasan utama masyarakat mengakses internet. Besarnya jumlah pengguna membuat ruang digital menjadi tempat bertemunya berbagai sudut pandang yang berbeda.

Dalam kondisi tersebut, perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari. Justru di tengah keberagaman pandangan ini, nilai-nilai Pancasila memiliki peran penting sebagai landasan dalam membangun komunikasi yang saling menghargai, menjaga persatuan, dan menyikapi perbedaan secara bijak. Pancasila tidak hanya relevan dalam kehidupan bermasyarakat secara langsung, tetapi juga menjadi pedoman dalam menghadapi dinamika kehidupan di ruang digital.

Tessalonika, salah satu mahasiswa Program Studi Sosiologi Universitas Sumatera Utara (USU), menilai bahwa pancasila masih relevan sebagai pemersatu bangsa.

“Menurut pendapat saya, Pancasila masih relevan sampai sekarang karena kita hidup di tengah banyaknya perbedaan, apalagi di media sosial. Kalau tidak saling menghargai, hal kecil saja bisa jadi masalah. Nilai Pancasila mengajarkan kita untuk saling menghormati dan tidak mementingkan diri sendiri,” jelasnya.

Senada dengan itu, Sekretaris Utama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Tonny Agung Arifianto, menyebut persatuan bangsa kini juga diuji oleh cara masyarakat berinteraksi di ruang digital.

“Yang rusak bukan cuma citra pemerintah, tetapi juga rasa percaya antarwarga,” ujar Tonny.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi generasi muda dalam menggunakan media sosial dengan bijaksana, seperti tidak mudah percaya hoaks, tidak menyebarkan ujaran kebencian, dan menghormati perbedaan pendapat.

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola interaksi masyarakat, Pancasila masih ditempatkan sebagai salah satu landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk dalam menyikapi berbagai dinamika yang muncul di era digital.

(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

Leave a comment