Hits: 2

Fadhilah Safa Salsabila Desky

Pijar, Medan. Beragam pengalaman membawa Putri Honey Miftasyah bertumbuh menjadi sosok yang tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga berusaha memberi dampak bagi lingkungan dan masyarakat. Sosok lulusan S-1 Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU) angkatan 2024 ini menjalani perjalanan melalui berbagai ruang, mulai dari kompetisi, organisasi, kegiatan sosial, hingga kesempatan belajar di tingkat internasional.

Honey, saat ini aktif sebagai Freelance Data Entry, Outreach and Campaign di Gerak Dampak Academy Seabolga, serta fasilitator The Bloom Project yang berfokus pada isu iklim dan tempat tinggal yang aman serta tangguh. Ia juga aktif sebagai Bendahara dan Committee Aljerin Sumut, komunitas Alumni Jerman Indonesia yang berbasis di Medan.

Selama masa perkuliahan, Honey mencatat sejumlah pencapaian, di antaranya terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi Fakultas Kehutanan USU 2023 dengan predikat The Best Presenter. Ia juga meraih Juara Kedua Olimpiade Lingkungan Hidup Sumatera Utara, Juara Utama Public Speaking ASPIRAKSI, serta menjadi Penulis Terfavorit melalui buku Berani Bermimpi.

Selain berkompetisi, Honey aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan sosial. Ia pernah bergabung dalam Pemerintahan Mahasiswa (Pema) Fakultas Kehutanan USU Divisi Komunikasi dan Informasi (Kominfo), Smart Generation Community USU, Rumah Beasiswa Medan, serta menjadi Co-Founder Sedekah Barengan Medan. Di bidang pemberdayaan, ia juga pernah menjadi Public Engagement dalam program Women in the Future dan Mentor Self-Reflection Journey.

Tidak hanya itu, Honey juga memperoleh kesempatan untuk belajar melalui berbagai program internasional. Ia pernah mengikuti Living-Lab Sustainable Food Systems yang merupakan kolaborasi Indonesia dan Belanda pada 2023, serta Summer Camp FHS4904 KEM Perhutanan di University Putra Malaysia.

Pengalaman internasional yang paling berkesan baginya adalah ketika mengikuti Study Visit Deutscher Akademischer Austauschdienst (DAAD) ke Jerman. Baginya, hal tersebut menjadi salah satu pengalaman yang mengubah cara pandangnya terhadap diri sendiri.

“Saya yang hanya anak dari Binjai, dari madrasah saya ditempa, bisa duduk di ruang diskusi yang sama dengan profesor dan mahasiswa internasional. Di situ saya sadar, mimpi saya tidak terlalu besar, yang kecil itu keberanian saya sebelumnya,” ujarnya.

Namun, perjalanan Honey tidak hanya dibentuk oleh pengalaman di ruang akademik dan forum internasional. Ia pernah terlibat sebagai fasilitator Stichting Nederlandse Vrijwilligers (SNV) Gender Equality and Social Inclusion (GESI) Women’s Economic Empowerment (WEE), Ketua Divisi Kurikulum dalam program Mengajar di Desa, serta Enumerator Leader untuk Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM).

Pemahaman tersebut kemudian mendorongnya untuk terlibat dalam BENEWME.ID, sebuah komunitas yang menggabungkan edukasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Honey memimpin komunitas tersebut sebagai president dari 2024 hingga 2026. Baginya, BENEWME.ID menjadi ruang untuk menerjemahkan pengalaman dan pengetahuan menjadi gerakan yang dapat dirasakan oleh masyarakat.

Meski telah meraih berbagai pencapaian, perjalanan Honey tidak selalu berjalan mulus. Ia pernah merasakan keraguan terhadap dirinya sendiri dan mempertanyakan apakah dirinya pantas mengambil kesempatan yang datang. Tantangan lain muncul ketika ia harus membuktikan bahwa perempuan dengan latar belakang kehutanan mampu memimpin di ruang yang sering kali didominasi laki-laki.

Dalam menjalani berbagai peran, Honey memegang tiga prinsip utama, yaitu mandiri, peduli, dan berdampak. Mandiri berarti perempuan harus mampu berdiri di atas kakinya sendiri, memiliki ilmu, penghasilan, dan suara. Peduli berarti tidak menutup mata terhadap persoalan lingkungan dan masyarakat. Sementara berdampak berarti menjadikan pengalaman dan pengetahuan sebagai sesuatu yang dapat memberi manfaat bagi orang lain.

Kini, setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Honey masih memiliki tujuan yang ingin diwujudkannya. Ia ingin mengembangkan Aljerin menjadi usaha sosial (social enterprise) yang memiliki program inkubasi bagi Alumni Jerman Indonesia agar tetap berkarya dan berdaya. Ia juga berencana melanjutkan studi S-2 di bidang Environmental Management atau Social Forestry, termasuk membuka peluang untuk kembali belajar di Jerman melalui beasiswa DAAD.

Selain itu, ia ingin membangun ekosistem Peatland Warriors muda di Sumatera Utara. Menurutnya, kesempatan untuk belajar dan berbicara di forum internasional tidak seharusnya hanya dimiliki oleh dirinya, tetapi juga oleh generasi muda mendatang.

Bagi Honey, pencapaian bukanlah titik akhir. Setiap prestasi dan pengalaman merupakan bagian dari proses untuk terus bertumbuh, belajar, dan memberi dampak. Ia ingin keberhasilan yang dimiliki tidak berhenti pada dirinya sendiri, tetapi dapat membuka kesempatan bagi orang lain untuk berkembang dan berani mengambil langkah.

“Saya ingin dikenal bukan hanya sebagai Honey yang berprestasi, tapi Honey yang mengorbitkan banyak Honey lainnya,” tutupnya.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment