Hits: 3

Maureen Christy Nauli Simanjuntak

Pijar, Medan. Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober menjadi momen untuk meningkatkan kesadaran akan betapa pentingnya kesehatan mental, termasuk yang paling penting, yaitu di lingkungan perguruan tinggi.

Di Universitas Sumatera Utara (USU), layanan konseling gratis dapat diakses mahasiswa melalui Poliklinik USU. Namun, keberadaan fasilitas tersebut menjadi pertanyaan tentang seberapa jauh mahasiswa mengetahui dan memanfaatkannya, sebagai salah satu bentuk dukungan ketika mahasiswa sedang menghadapi persoalan mental.

Iftikhori Lintang Prameswari, sebagai salah satu Mahasiswi Profesi Psikologi USU, menekankan bahwa mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian untuk menghadapi kesulitan.

“Saya selalu bilang sama siapa pun yang cerita dengan saya, mencari bantuan bukan berarti lemah. Justru terkadang ini adalah bentuk paling kuat dari diri kita. Sebab kita memahami kebutuhan diri dan mau mengakui kesulitan yang dialami lalu mencari bantuan. Itu langkah yang luar biasa,” ujarnya.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi mahasiswa, keberadaan layanan konseling menjadi salah satu pilihan bagi mahasiswa yang membutuhkan dukungan dalam menghadapi persoalan kesehatan mental. Namun, sebelum dapat memanfaatkannya, mahasiswa perlu mengetahui keberadaan layanan tersebut serta cara mengaksesnya.

Salah seorang mahasiswi USU yang pernah menggunakan layanan konseling Poliklinik USU, menjelaskan bagaimana informasi mengenai layanan tersebut pertama kali diperolehnya.

Mahasiswi berinisial N tersebut, pertama kali mengetahui layanan konseling saat melihat papan informasi di Poliklinik USU. Kemudian ia mencari informasi lebih lanjut melalui seorang teman yang pernah menggunakan layanan tersebut.

“Di situ aku awal mula tahu dan langsung merencanakan mau konsul, tetapi belum tahu caranya dan tidak tahu bayar berapa. Kebetulan, salah satu teman aku pernah ke situ dan nomor WhatsApp poli jiwa juga aku dapat dari dia,” tuturnya.

Selama menjalani konseling, ia merasa mendapatkan respons yang baik dari pihak layanan. Psikolog yang menanganinya juga dinilai membantu dalam menghadapi persoalan yang dialaminya. Meski demikian, ia menyadari bahwa pengalaman setiap mahasiswa dapat berbeda, tergantung pada psikolog yang memberikan pendampingan serta kebutuhan masing-masing individu.

Ia berharap mahasiswa yang sedang menghadapi tekanan akademik maupun persoalan pribadi, tidak merasa harus melewati semuanya sendirian.

“Pesan dari aku untuk teman-teman mahasiswa, I know mungkin beberapa dari kalian mengalami stres, academic pressure, atau masalah internal. Kalau misalnya kalian nggak punya someone to talk to, kita punya fasilitas yang bisa melayani kita. Gunakanlah fasilitas itu sebaik-baiknya, setidaknya untuk membantu mengurangi masalah yang sedang kita hadapi,” tutupnya.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment