Hits: 71

Claudita Piesesta Tarigan

Pijar, Medan. Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia (RI) adalah lembaga yang dikelola Pemerintah untuk melaksanakan tugas dalam bidang kepustakaan terkait literasi. Didirikan pertama kali pada tanggal 17 Mei 1980, tepat 45 tahun lalu dengan lokasi yang berada di ibu kota Indonesia, yaitu Jakarta. Bataviaasch Genootschap adalah lembaga yang pertama kali menciptakan ide tentang Perpusnas RI.

Perpusnas RI merayakan ulang tahun yang ke-45 di tahun 2025 dengan mengambil tema “Perpustakaan Hadir demi Martabat Bangsa”, memiliki makna bahwa Perpusnas berdedikasi untuk menaikkan dan membantu literasi maupun pengetahuan masyarakat Indonesia dengan menghadirkan perpustakaan yang aktif di ruang publik.

Kepenulisan angka “45” yang merupakan usia Perpusnas RI saat ini, terdiri dari tiga elemen geometris yang menggambarkan tiga program prioritas Perpusnas RI. Elemen tersebut terdiri dari bentuk markah buku yang berarti program literasi, bentuk kuadran yang berarti simbol jati diri Perpusnas, dan bentuk kotak yang berarti fondasi untuk mengelola perpustakaan. Selain itu, terdapat tiga warna utama Perpusnas, yaitu biru yang memiliki arti kestabilan, hijau yang memiliki arti pertumbuhan dan kuning yang memiliki arti semangat.

Perpustakaan Kota Medan sebagai Perantara Perpustakaan Nasional - www.mediapijar.com
Logo ulang tahun Perpusnas RI 2025
(Sumber Foto: Instagram @perpusnas.go.id)

 

Seiring dengan semangat literasi yang didedikasikan oleh Perpusnas RI, Perpustakaan Kota Medan juga berperan penting sebagai bentuk upaya pemerintah kota untuk meningkatkan literasi masyarakat, dan mendorong minat baca masyarakat terutama di masa yang serba canggih seperti sekarang.

Perpustakaan Kota Medan pertama kali didirikan pada tanggal 27 Desember 1972, pertama kali dikenal sebagai Pusat Perpustakaan Umum Kotamadya Medan. Alasan perpustakaan ini hadir adalah karena semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan ruang informasi yang mudah diakses dan secara terbuka.

Kepala Dinas (Kadis) Perpustakaan dan Arsip Kota Medan, Laksamana Putra Siregar, menjelaskan bahwa terdapat beberapa cara serta dampak yang dihasilkan kepada masyarakat setelah hadirnya Perpustakaan Kota Medan di tengah lingkungan.

“Perpustakaan memberikan akses gratis terhadap ribuan koleksi buku dan literatur, yang berdampak pada meningkatnya minat baca khususnya para pelajar dan mahasiswa,” jelasnya.

Usaha yang dilakukan perpustakaan selama ini banyak menimbulkan kesan positif oleh masyarakat yang sangat terbantu karena adanya tempat sumber informasi tersebut. Laksamana juga melanjutkan sebuah pesan untuk para anak muda yang lebih memilih membaca buku elektronik daripada fisik.

“Teknologi boleh maju, tapi akar literasi tak boleh hilang. Buku digital memang praktis, tetapi jangan lupakan perpustakaan sebagai sumber pengetahuan, ruang refleksi, dan tempat belajar yang kondusif,” tutupnya.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment