Hits: 9
Rifki Partogi Situmorang / Chelsea Siagian
Pijar, Medan. Bagi sebagian besar mahasiswa, menjalani rutinitas perkuliahan sehari-hari mulai dari menghadiri kelas, mengerjakan tugas-tugas akademik, hingga bersiap menghadapi ujian sudah cukup menguras energi dan pikiran. Namun, gambaran kehidupan kampus yang padat tersebut tidak sedikit pun menyurutkan semangat Muhammad Haikal Ananta, seorang mahasiswa aktif Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Sumatera Utara (USU).
Di balik riuh-pikuk aktivitas akademiknya, Haikal melangkah lebih jauh dengan memberanikan diri berwirausaha. Ia menjajakan kue mochi di lingkungan kampus demi menyambung asa pendidikannya dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Keputusan Haikal untuk terjun ke dunia usaha ditengah statusnya sebagai mahasiswa ini, berawal dari kesadaran mendalam akan kondisi perekonomian keluarganya yang memiliki keterbatasan finansial. Ia menyadari bahwa biaya perkuliahan serta kebutuhan penunjang akademik tidaklah ringan.
Dibanding hanya menggantungkan seluruh beban pada orang tua, pikiran kritis Haikal mendorongnya untuk mencari jalan keluar secara mandiri. Dari situlah lahir keberanian untuk berjualan mochi di sela-sela jadwal kuliahnya.
“Hal yang pertama kali mendorong diriku untuk memulai usaha, sebagai mahasiswa pastinya disebabkan oleh keterbatasan finansial keluarga. Hal tersebut membuat biaya perkuliahaanku tidak sepenuhnya tercukupi. Dari situ aku berpikir untuk memulai ide usahaku, yaitu berjualan mochi agar aku tetap bisa menjalani perkuliahan dengan lancar,” ungkap Haikal.
Menjalani peran ganda sebagai mahasiswa, pengusaha muda, sekaligus anggota organisasi tentu membawa tantangan tersendiri yang tidak ringan. Banyaknya agenda kegiatan, sering kali menuntut perhatian penuh dan pengelolaan energi yang ekstra. Dalam menghadapi situasi ini, Haikal menetapkan strategi yang matang dengan menerapkan skala prioritas secara ketat.
Bagi Haikal, urusan berjualan mochi dijadikan salah satu prioritas utama. Sebab, aktivitas itulah yang menjadi penopang utama keberlangsungan hidup, serta finansialnya selama menuntut ilmu.
Rasa lelah, letih, dan kewalahan tentu pernah datang menghampiri di tengah padatnya jadwal harian. Namun, Haikal memiliki cara sederhana, tetapi tetap efektif untuk mengatasinya. Ia selalu berupaya menjaga kondisi fisik dan mentalnya agar tetap stabil. Menjaga pola makan yang cukup dan teratur serta memanfaatkan waktu istirahat secara optimal, menjadi kunci utamanya agar tidak mengalami depresi atau kelelahan berlebih.
Meskipun disibukkan dengan urusan bisnis kecil-kecilan serta keterlibatannya dalam berbagai agenda kepanitiaan dan organisasi, Haikal tidak pernah mengesampingkan kewajiban utamanya sebagai seorang mahasiswa. Baginya, ruang kuliah dan tanggung jawab akademik adalah fondasi dasar yang tidak boleh dikorbankan demi kegiatan di luar kampus. Keseimbangan peran ini ia buktikan melalui torehan prestasi yang sangat membanggakan di level regional maupun kompetisi ilmiah.
Di bidang seni dan kebudayaan, Haikal bersama timnya berhasil menyabet gelar Juara 2 Tari Komando tingkat provinsi. Pencapaian ini diraih berkat proses latihan yang intensif dan tekun meskipun hanya dalam waktu singkat, ditambah dengan dukungan moral yang kuat dari rekan-rekannya. Bukan hanya itu saja, ia juga sukses mengamankan Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (LKTIA) Psyco Syar’i. Prestasi gemilang ini diraihnya di tengah kepungan jadwal jualan dan perkuliahan yang amat padat.
“Tujuan utama saya kuliah adalah untuk belajar. [Oleh] karena itu, saya selalu berusaha memprioritaskan akademik tanpa mengabaikan tanggung jawab dalam kepanitiaan. Alhamdulillah, saya tetap bisa menjalankan keduanya dengan baik, tetapi akademik tetap menjadi prioritas utama dibandingkan kepanitiaan,” tuturnya..
Perjuangan gigih, ketekunan, serta konsistensi yang ditunjukkan Haikal akhirnya membuahkan hasil yang manis dan membanggakan. Seluruh kerja kerasnya dalam membagi waktu antara kuliah, usaha, dan organisasi tidak hanya menghasilkan deretan piala kejuaraan, tetapi juga membawanya meraih penghargaan beasiswa dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV. Beasiswa ini menjadi wujud apresiasi nyata atas ketangguhannya dalam melampaui berbagai keterbatasan.
Perjalanan hidup Haikal Ananta menjadi cerminan inspiratif bagi seluruh mahasiswa bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk melangkah jauh, berprestasi, dan mengukir masa depan yang gemilang.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

