Hits: 2
Putri Theresia
Pijar, Medan. Setiap hari, kita selalu dihadapkan dengan berbagai pilihan. Hal-hal kecil seperti menentukan menu makan siang, baju yang akan dipakai, tempat untuk mengerjakan tugas, hingga memutuskan kegiatan yang ingin dilakukan, semuanya membutuhkan keputusan.
Jika diamati sekilas, pilihan-pilihan tersebut mungkin terlihat sepele. Namun, bagaimana jika dalam sehari terdapat terlalu banyak pilihan yang harus diambil?
Dari keputusan kecil yang terus-terusan terjadi, tanpa kita sadari, pikiran bisa mulai terasa lelah. Memilih sesuatu yang sebenarnya sederhana jadi terasa sulit. Situasi seperti ini disebut Decision Fatigue.
Melansir dari klikdokter.com, Decision Fatigue adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perasaan kewalahan, lelah, atau stres yang muncul karena harus mengambil banyak keputusan sepanjang hari. Namun, sulit mengetahui apakah seseorang sedang mengalami kelelahan dalam pengambilan keputusan karena cenderung terpengaruh oleh keputusan yang harus diambil.
Beberapa gejala yang menunjukkan seseorang mengalami Decision Fatigue yakni, sering menunda pekerjaan, menghindari mengambil keputusan, tidak mampu dalam mengambil keputusan, dan sering bertindak impulsif. Ketika seseorang menghadapi terlalu banyak pilihan, mereka mungkin memilih untuk menunda memutuskan atau mengambil cara yang lebih mudah agar tidak terlalu memakan tenaga untuk memikirkannya.
Lalu mengapa mengambil keputusan dapat terasa melelahkan?
Salah satu hal yang mempengaruhi terjadinya Decision Fatigue adalah terlalu banyak keputusan yang harus dibuat secara berulang. Dalam sehari, seseorang tidak hanya membuat keputusan besar, tetapi juga menghadapi banyak keputusan kecil yang membutuhkan perhatian dan pemikiran.
Bayangkan seorang mahasiswa yang sedang berusaha memutuskan tugas mana yang sebaiknya dikerjakan terlebih dahulu, mengatur waktu antara kuliah dan kegiatan organisasi, serta memperhatikan berbagai kebutuhan lainnya. Ketika beberapa keputusan muncul sekaligus, mahasiswa tersebut tidak hanya harus menyelesaikan tugas-tugasnya, tetapi juga terus memilih dan mengatur urutan pentingnya hal-hal tersebut. Situasi ini bisa terasa lebih rumit lagi ketika waktu yang dimiliki terbatas.
Tekanan waktu dan beban pekerjaan yang besar juga bisa membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih sulit. Ketika seseorang dihadapkan pada keputusan yang harus diambil dalam waktu yang singkat, Ia mungkin merasa sulit untuk memikirkan semua pilihan secara rapi dan matang. Terlebih lagi, keputusan yang membutuhkan banyak pertimbangan atau ketidakpastian biasanya membutuhkan usaha mental yang lebih banyak.
Lantas, bagaimana cara mengurangi Decision Fatigue?
Melansir dari liputan6.com, cara yang dapat dilakukan seseorang untuk menghindari Decision Fatigue adalah mengistirahatkan pikiran. Memberi jeda istirahat di tengah melakukan aktivitas bisa membantu mengurangi rasa lelah yang timbul karena terlalu sering membuat keputusan. Ketika otak terus bekerja tanpa henti, kemampuan berpikir jernih bisa berkurang, sehingga seseorang mungkin lebih mudah membuat keputusan yang impulsif atau kesulitan memilih yang terbaik.
Berjalan kaki sekilas, melakukan peregangan, menghirup udara, atau menjauh dari layar komputer selama beberapa menit bisa membantu mengembalikan konsentrasi. Selain itu, tidur cukup sangat penting karena otak membutuhkan waktu untuk pulih dan mengembalikan energi setelah melakukan berbagai kegiatan sehari-hari.
Cara lain untuk mengatasinya adalah kenali batas diri. Selain mengistirahatkan pikiran, menjaga kebutuhan dasar tubuh juga sangat penting. Makan secara teratur, minum air cukup, berolahraga, dan tidur cukup dapat membantu menjaga tenaga tubuh dan kinerja otak.
Kondisi tubuh yang lebih baik membantu seseorang lebih siap menghadapi berbagai keputusan dalam rutinitas sehari-hari. Jika rasa lelah di pikiran mulai mengganggu tugas, pertemanan, atau kegiatan sehari-hari, maka mencari bantuan dari orang terdekat atau profesional bisa menjadi pilihan yang baik.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

