Hits: 5

Davva Abror Supriadi

Pijar, Medan. Terdapat stigma yang berbunyi “Jika ingin berhasil, pergilah ke kota besar. Tinggalkan kota kecil, kejar kesempatan yang ada di luar sana”. Stigma ini kerap menempel pada anak muda, seolah kota besar dijadikan sebuah pintu untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Namun, hal tersebut tidaklah disetujui dalam pernyataan sebuah lagu “Ain’t in LA” yang dirilis pada (23/9/26).

Lagu “Ain’t in La” karya ADÉLA menyajikan sebuah musik bergenre pop yang terdengar penuh percaya diri dan motivatif. Lagu ini membawa gagasan bahwa seseorang tidak harus berada di Los Angeles (LA) untuk menjadi seseorang yang luar biasa. LA disini dinterpretasikan oleh ADÉLA bukan sekadar sebuah kota, tetapi menjadi simbol akan sesuatu yang besar karena LA biasa dianggap sebagai pusat kesuksesan, dan dapat membuat impian menjadi nyata.

Karya “Ain’t in LA” ini menjadi salah satu single ADÉLA untuk mengawali dan memperkenalkan album debutnya yang berjudul PRIMA. Lagu ini kemudian dipromosikan secara besar melalui poster fisik di lebih dari 20 kota besar di seluruh dunia. Menariknya, ADÉLA memodifikasi penggalan lirik lagu dalam posternya yang semula berbunyi the baddest b*tches Ain’t in L.A. menjadi kalimat apresiasi lokal the baddest b*tches are in (Nama Kota) sesuai dengan makna lagu tersebut.

ADÉLA sendiri berasal dari Bratislava, Slovakia, sebuah kota yang jauh dari gemerlap Hollywood. Ia mengategorikan kotanya sebagai unknown city (kota yang tidak dikenal). Dapat dilihat bahwa lagu ini berangkat dari pengalaman pribadinya ketika ia melihat foto sang ibu saat berusia 18 tahun. Hal ini membuatnya berpikir bahwa begitu banyak orang yang memiliki mimpi, tetapi tidak pernah mendapatkan spotlight yang layak didapatkannya.

Ain’t in LA” lahir sebagai bentuk perayaan bagi mereka yang punya mimpi besar meski berasal dari tempat yang kecil. Hal ini yang membuat lagu tersebut terasa lebih dari sekadar lagu pop dengan chorus yang catchy. Lagu ini membalikkan cara kita memandang sebuah kesuksesan. Selama ini, beranjak ke kota besar sering dianggap sebagai langkah wajib untuk mencapai sesuatu, seolah kesempatan sukses akan muncul begitu meninggalkan kampung halaman.

Pesan lagu ini mungkin akan terasa dekat bagi mereka yang sedang menjalani hidup jauh dari rumah. Anak kos, mahasiswa rantau, atau siapa pun yang meninggalkan kota asal untuk mengejar pendidikan dan masa depan tentu tidak asing dengan perasaan tersebut. Kita datang membawa harapan, kemudian berusaha beradaptasi dengan lingkungan baru. Hal ini terkadang kita jadikan sebagai bentuk pembuktian dan representatif untuk orang-orang dari kota kecil.

Namun, “Ain’t in LA” justru mengingatkan bahwa pergi bukan satu-satunya bentuk keberanian. Bertahan dan berkembang di tempat asal juga sebuah pencapaian. Dalam lagunya, ia menyampaikan bahwa kita tidak harus pergi dan beranjak ke tempat yang besar untuk menjadi “seseorang”. Ia menyampaikan dalam liriknya bahwa orang-orang luar biasa tidak berasal dari LA, sesuai dengan penggalan liriknya the baddest b*tches Ain’t in LAyang menjadi viral karena pesannya yang frontal dan mendalam.

Menariknya, ADÉLA tidak mengatakan bahwa kota besar itu buruk. Ia sendiri tinggal di Los Angeles dan mengaku menyukai kota tersebut. Justru karena hal itu, pesannya terasa lebih luas, karena seseorang boleh pergi mengejar sesuatu yang lebih besar, tetapi keberhasilan dan kesuksesan tidak ditentukan dari mana seseorang tersebut berasal.

Pada akhirnya, lagu “Ain’t in LA” bukan benar-benar tentang Los Angeles. Lagu ini memberikan pesan tentang menghapus stigma yang menyangkut antara “tempat kecil” dengan “mimpi yang besar”. Seseorang tetap bisa menjadi luar biasa, berani, berambisi, dan berhasil meski tidak lahir di tempat yang penuh pusat perhatian dan disebut-sebut dapat menjamin kesuksesan seseorang.

(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

Leave a comment