Hits: 18
Yudika Phareta Simorangkir
Pijar, Medan. Universitas Sumatera Utara (USU) kembali menggelar wisuda periode ketiga Tahun Akademik 2025/2026. Proses acara wisuda dilaksanakan selama dua hari, mulai dari sesi foto yang dilaksanakan pada 8 Mei 2026, hingga sesi seremonial yang digelar di Gedung Auditorium USU, pada Sabtu (9/5/2026).
Dalam pelaksanaannya, sesi foto dan sesi seremonial masing-masing dibagi dalam dua sesi, yakni dimulai pada pukul 08.00 WIB dan pukul 13.00 WIB hingga selesai. Selain itu, rangkaian wisuda juga diikuti oleh wisudawan dari berbagai fakultas dengan tingkatan yang berbeda-beda, seperti diploma, sarjana, profesi, hingga pascasarjana.
Wisuda menjadi penanda berakhirnya masa perkuliahan bagi para mahasiswa yang telah menyelesaikan proses akademik mereka. Di tengah pelaksanaan wisuda, sejumlah wisudawan mengaku mulai memikirkan rencana dan tantangan setelah lulus kuliah. Ketidakpastian yang dihadapi menjadi fase baru bagi beberapa orang terutama lulusan baru.
Fitri Annisa, salah satu wisudawati lulusan Strata-1 (S-1) Teknik Kimia USU, menjelaskan bahwa mencari pekerjaan setelah lulus menjadi tantangan yang cukup dipikirkan. Khususnya, terkait peluang diterima kerja dan kesesuaian gaji dengan ekspektasi.
“Kekhawatirannya itu ketika proses pencarian kerja, [dengan berpikir] ‘lolos nggak ya?’, [atau] ‘diterima nggak ya?’. Jadi, tantangannya itu memang mencari pekerjaan dan gaji yang sesuai ekspektasi,” ungkapnya.
Di sisi lain, Arya, selaku lulusan S-1 Agroteknologi sekaligus wisudawan dengan predikat cum laude, menyatakan bahwa dirinya sudah sangat siap menghadapi dunia kerja. Meski demikian, ia turut mengakui bahwa ketatnya persaingan di dunia profesional tetap menjadi tantangan bagi setiap lulusan baru.
“Saya sangat siap untuk menghadapi dunia kerja. [Akan] tetapi, realitanya [tersedianya] lapangan pekerjaan lebih sedikit dibanding [dengan] pelamarnya yang sangat banyak,” ucapnya.
Sementara itu, Hanif, yang juga salah satu wisudawan lulusan S-1 Agroteknologi, menilai bahwa koneksi dan relasi menjadi salah satu faktor penting dalam mencari pekerjaan.
“Koneksi itu perlu banget. Lewat [koneksi] itu mungkin kita bisa dapat informasi lowongan kerja, dan saat apply, bisa saja rezeki,” ujarnya.
Di tengah berbagai kekhawatiran tersebut, Hanif juga mengaku gelar sarjana yang berhasil diraih tetap menjadi motivasi untuk lebih percaya diri menghadapi dunia kerja.
“Untuk mendapatkan gelar sarjana ini tidak gampang. Bekal yang saya dapat selama ini juga cukup banyak. Jadi, saya percaya diri untuk apply pekerjaan,” tutupnya.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

