Hits: 9

Desy Setiawati

Pijar, Medan. Sekarang ini, rokok dan vape sudah menjadi pemandangan yang biasa di kalangan anak muda. Mulai dari tongkrongan kafe, taman kota, sampai lingkungan kampus, pasti ada saja orang yang merokok atau menggunakan vape. Bahkan bagi sebagian orang, hal itu sudah dianggap sebagai bagian dari gaya hidup anak muda masa kini.

Vape sendiri semakin populer karena tampilannya yang modern serta memiliki cairan (liquid) dengan banyak varian rasa. Ditambah lagi, media sosial ikut membuat vape terlihat menarik lewat konten-konten yang memperlihatkan suasana tongkrongan, asap vape, dan gaya hidup yang dianggap keren. Akibatnya, banyak anak muda jadi penasaran dan akhirnya ikut mencoba.

Tidak sedikit juga yang awalnya menggunakan rokok atau vape karena pengaruh lingkungan pertemanan. Ada yang diajak teman, ada juga yang merasa tidak enak kalau menjadi satu-satunya yang tidak ikut serta. Dalam beberapa kelompok pertemanan (circle), merokok bahkan dianggap hal yang biasa supaya lebih mudah “nyambung” saat sedang berada di tongkrongan.

Media sosial, terutama TikTok, juga punya pengaruh besar dalam membentuk pandangan anak muda soal rokok dan vape. Banyak konten yang menampilkan vape dengan visual menarik, mulai dari bentuk asap, desain alatnya yang modern, sampai suasana-suasana tongkrongan yang terlihat estetik. Hal seperti itu tanpa sadar membuat aktivitas merokok dan vape terlihat normal, bahkan dianggap keren oleh sebagian anak muda. Apalagi, algoritma media sosial sering memunculkan konten serupa secara berulang, sehingga pengguna menjadi lebih mudah terpengaruh.

Bagi sebagian anak muda, rokok dan vape dianggap sebagai cara untuk mengekspresikan diri. Ada yang merasa lebih percaya diri saat menggunakan vape karena terlihat lebih santai dan mengikuti tren. Di sisi lain, aktivitas itu juga sering dijadikan simbol solidaritas dalam pertemanan, apalagi ketika dilakukan bersama-sama.

Namun, di balik anggapan sebagai gaya hidup, sebenarnya ada tekanan sosial yang kadang tidak disadari. Banyak anak muda yang awalnya tidak tertarik untuk merokok atau menggunakan vape, tetapi akhirnya ikut-ikutan karena takut dianggap tidak gaul atau terlalu berbeda dari teman-temannya. Lama-kelamaan, kebiasaan itu akhirnya terus dilakukan.

Tidak semua anak muda sebenarnya nyaman dengan kebiasaan tersebut. Ada yang hanya ikut-ikutan supaya tetap diterima dalam lingkungan pertemanan. Hal ini menunjukkan kalau keputusan untuk merokok atau menggunakan vape tidak selalu murni dari diri sendiri, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial di sekitar.

Selain itu, penggunaan rokok dan vape juga tetap memiliki dampak, baik dari sisi kesehatan maupun pengeluaran. Tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan untuk membeli rokok, liquid vape, maupun perangkatnya. Meski vape sering dianggap lebih aman dari pada rokok biasa, tetap saja penggunaannya memiliki risiko kesehatan.

Kondisi yang terjadi sekarang memperlihatkan kalau rokok dan vape tidak hanya soal mengikuti tren gaya hidup, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan anak muda. Karena itu penting bagi anak muda untuk lebih bijak melihat tren dan tidak mudah ikut-ikutan hanya demi diterima dalam lingkungan pertemanan.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment