Hits: 3

Maureen Christy Nauli Simanjuntak

Pijar, Medan. Belakangan ini, Hantavirus menjadi perbincangan luas di media sosial setelah munculnya laporan kasus di beberapa wilayah Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat terdapat 23 kasus positif Hantavirus di sembilan provinsi sepanjang periode 2024–2026, dengan tiga kasus kematian.

Melansir dari suara.com, virus yang ditularkan melalui paparan urine, air liur, maupun kotoran tikus tersebut membuat perhatian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan semakin meningkat. Kemenkes juga mengingatkan bahwa sanitasi lingkungan memiliki peran penting dalam mencegah berkembangnya tikus sebagai sumber penularan penyakit.

Di tengah meningkatnya kekhawatiran publik, lingkungan kampus sebagai ruang publik dengan aktivitas padat turut menjadi sorotan. Area seperti kantin, selokan, tempat pembuangan sampah, hingga sudut bangunan yang lembap, berpotensi menjadi tempat berkembangnya hama apabila sanitasi tidak dijaga secara optimal.

Menanggapi meningkatnya perhatian publik terhadap Hantavirus, Sri Malem selaku dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sumatera Utara (USU), menilai bahwa masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kebersihan lingkungan, khususnya di area publik yang padat aktivitas seperti kampus.

“Hantavirus memang perlu menjadi perhatian, tetapi masyarakat tidak perlu panik secara berlebihan. Hal yang paling penting adalah meningkatkan kesadaran terhadap kebersihan lingkungan dan menjaga sanitasi area publik kampus,” ujarnya.

Di lingkungan kampus sendiri, persoalan sanitasi masih menjadi perhatian di beberapa area fasilitas publik. Selokan, titik pembuangan sampah, hingga area belakang kantin kerap dinilai berpotensi menjadi lokasi berkembangnya hama apabila kebersihan tidak dijaga secara konsisten. Tingginya aktivitas mahasiswa setiap hari juga membuat pengelolaan kebersihan perlu dilakukan secara rutin dan menyeluruh.

Misrukyah, salah satu petugas kebersihan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) USU menyebutkan bahwa tantangan terbesar dalam menjaga sanitasi kampus masih berkaitan dengan kesadaran sebagian mahasiswa terhadap kebersihan lingkungan.

“Kalau untuk tantangan terbesar sebenarnya masih dari kesadaran sebagian mahasiswa yang kadang masih buang sampah sembarangan. Jadi walaupun area sudah dibersihkan, kadang beberapa jam kemudian sudah kotor lagi,” ucapnya.

Ia juga menambahkan bahwa kebersihan lingkungan kampus bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan, melainkan seluruh warga kampus. Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya dan menjaga fasilitas umum dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat dan nyaman.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu Hantavirus, menjaga kebersihan lingkungan kampus dapat menjadi langkah preventif yang penting untuk dilakukan bersama. Kesadaran mahasiswa dalam menjaga fasilitas umum, membuang sampah pada tempatnya, serta menjaga kebersihan area sekitar dapat membantu mengurangi risiko munculnya penyakit berbasis lingkungan.

Selain itu, Sri Malem juga mengharap pihak kampus untuk terus meningkatkan pengawasan terhadap sanitasi lingkungan, terutama pada area yang berpotensi menjadi tempat berkembangnya hama. Melalui kerja sama antara mahasiswa, petugas kebersihan, dan pihak kampus, lingkungan belajar yang aman, sehat, dan nyaman dapat terus terjaga.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment