Hits: 1

Anggun Natasya Sinambela

Pijar, Medan. Di era sekarang, tas bukan lagi sekadar tempat menyimpan buku. Bagi pelajar dan mahasiswa, tas sudah menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari. Modelnya pun semakin beragam, mulai dari tote bag yang simpel, hingga tas selempang yang terlihat lebih praktis dan trendi. Dalam beberapa kondisi, orang akan lebih cenderung memilih tas berdasarkan penampilan dibandingkan dengan fungsinya.

Padahal, cara membawa tas memiliki pengaruh langsung dengan kondisi tubuh, khususnya pada postur tubuh dan kesehatan tulang belakang. Tas yang digunakan hanya di satu sisi bahu dapat membuat beban tidak terbagi secara merata. Tubuh kemudian akan menyesuaikan posisi secara alami, seperti memiringkan bahu atau sedikit membungkuk, untuk menjaga keseimbangan.

Kondisi ini mungkin tidak langsung terasa. Namun, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut akan mulai menunjukkan dampaknya. Bahu terasa lebih cepat pegal, punggung menjadi tegang, hingga posisi tubuh perlahan berubah tanpa disadari. Pada beberapa kasus, pelajar bahkan mulai terbiasa dengan posisi berdiri atau berjalan yang tidak lagi tegak.

Dalam jangka panjang, kondisi ini sering dikaitkan dengan gangguan tulang belakang, salah satunya skoliosis. Dilansir dari alodokter.com, skoliosis adalah kondisi ketika tulang belakang melengkung ke samping membentuk huruf C atau S. Gejalanya dapat terlihat dari postur tubuh yang tidak simetris, seperti bahu atau pinggul yang tidak sejajar. Pada kondisi tertentu, kondisi ini dapat menimbulkan nyeri punggung.

Setelah ditelusuri lagi, penyebab skoliosis tidak hanya berasal dari kebiasaan sehari-hari. Dilansir dari halodoc.com, sebagian besar kasus skoliosis bersifat idiopatik atau tidak diketahui penyebab pastinya. Namun, beberapa faktor seperti kelainan bawaan, gangguan saraf dan otot, hingga faktor genetik, juga dapat berperan besar. Kondisi ini juga dapat ditandai dengan tubuh yang condong ke satu sisi dan rasa lelah akibat ketegangan otot yang terus-menerus.

Pada kondisi ini, kebiasaan membawa tas memang bukan penyebab utamanya, tetapi bisa menjadi faktor yang memperburuk kondisi postur tubuh. Membawa beban yang tidak seimbang, jika terjadi terus-menerus, hal ini dapat memberi tekanan tambahan pada tulang belakang dan otot penyangga tubuh.

Dilansir dari Artikel Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, kebiasaan penggunaan tote bag sering kali dipengaruhi oleh persepsi masing-masing individu. Selama dampaknya belum terasa serius, banyak orang cenderung mengabaikannya dan tetap mempertahankan kebiasaan tersebut.

Di sisi lain, tidak sedikit pelajar yang mulai menyadari keluhan pada tubuhnya, tetapi menganggapnya sebagai hal wajar akibat aktivitas sehari-hari. Padahal, rasa pegal yang muncul berulang bisa menjadi sinyal awal bahwa tubuh sedang beradaptasi dengan beban yang tidak ideal.

Sebagai alternatif, penggunaan backpack atau tas ransel dinilai lebih baik karena mampu membagi beban secara merata di kedua sisi bahu. Dengan distribusi beban yang seimbang, tekanan pada tulang belakang dapat dikurangi dan posisi tubuh menjadi lebih stabil.

Seiring berkembangnya tren, backpack juga tidak lagi identik dengan tampilan yang kaku. Model dan desainnya kini semakin beragam, bahkan bisa disesuaikan atau dimodifikasi agar tetap terlihat trendi. Dengan begitu, penggunaan backpack tidak harus bertentangan dengan gaya, melainkan bisa menjadi pilihan yang tetap nyaman sekaligus lebih ramah bagi tubuh.

Meski demikian, cara penggunaan tetap perlu diperhatikan. Backpack yang dipakai hanya di satu bahu atau diisi dengan beban yang terlalu berat, tetap berisiko menimbulkan masalah. Beban berlebih dapat membuat tubuh condong ke depan dan meningkatkan ketegangan pada otot.

Untuk mengurangi risiko tersebut, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan. Berat tas sebaiknya tidak melebihi 10–15% dari berat badan agar tidak memberi tekanan berlebih pada tulang belakang. Selain itu, gunakan kedua tali bahu saat memakai backpack dan posisikan tas agar menempel di punggung, serta tidak menggantung terlalu rendah.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment