Hits: 9

Shefira Riani Manany

Pijar, Medan. Arena pertandingan bukan hal asing bagi Leica Al Humaira Lubis, mahasiswi Program Studi Ilmu Komputer stambuk 2022 Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi (Fasilkom-TI) Universitas Sumatera Utara (USU). Ia merupakan atlet karate asal Sumatera Utara yang kini tergabung dalam Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) Karate Indonesia. Di usianya yang masih muda, Leica telah mengoleksi berbagai prestasi, mulai dari podium nasional hingga medali emas SEA Games 2025 di Thailand.

Leica mulai mengenal karate sejak usia 10 tahun di Dojo Institut Karate-Do Nasional (Inkanas) Sei Deli. Sejak kecil, hidupnya sudah dekat dengan latihan, pertandingan, serta target-target besar yang perlahan ia kejar satu per satu.

Di usianya yang masih muda, Leica sudah tergabung dalam Pelatnas Karate Indonesia dan berhasil membawa nama Indonesia di berbagai ajang nasional dan internasional. Namun, di balik sederet prestasi yang dimilikinya, Leica justru dikenal sebagai sosok yang tenang dan pemalu di luar arena pertandingan.

Di lingkungan luar pertandingan, Leica mengaku dirinya lebih nyaman mengamati, dibandingkan menjadi pusat perhatian. Ia juga merasa dirinya sebenarnya tidak benar-benar pendiam, hanya membutuhkan lingkungan yang nyaman untuk bisa lebih terbuka.

“Aku memang lebih nyaman mengamati daripada banyak bicara. [Akan tetapi,] sebenarnya aku bukan orang yang benar-benar pendiam,” jawabnya.

Menurut Leica, ketika sudah dekat dengan orang-orang di sekitarnya, ia bisa menjadi cukup energetik dan goofy. Hanya saja, energinya cepat habis, sehingga setelah beberapa waktu ia akan kembali menjadi pribadi yang lebih tenang. Hal itu yang membuat banyak orang melihatnya sebagai sosok yang kalem.

Menariknya, karakter tenang Leica justru semakin terlihat ketika berada di arena pertandingan. Atlet yang turun di nomor kumite tersebut, mengaku dirinya sering heran saat menonton ulang video pertandingannya sendiri karena terlihat sangat fokus dan tenang di bawah tekanan.

“Kadang kalau nonton ulang video tanding sendiri, aku juga suka takjub karena bisa terlihat setenang itu di bawah tekanan,” ujarnya.

Bagi Leica, karate bukan sekadar olahraga. Karate menjadi tempat dirinya belajar mengendalikan emosi dan bertahan di situasi sulit. Dari olahraga itu, ia memahami bahwa ketenangan bukan berarti seseorang tidak memiliki rasa takut.

“Dari karate aku belajar kalau ketenangan bukan berarti tidak punya rasa takut atau emosi, tetapi tentang bagaimana tetap berdiri walaupun semuanya terasa berat,” ucapnya.

Perjalanan Leica di dunia karate juga tidak selalu berjalan mulus. Pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2022, ia sempat mengalami kegagalan yang cukup membekas. Namun setelah itu, Leica perlahan bangkit dan mulai menunjukkan kemampuannya di berbagai kejuaraan.

Di tahun 2022, Leica berhasil meraih Juara 2 Kumite -68 Kg U21 Putri pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Karate Piala Ketua Umum Pengurus Besar Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (PB FORKI). Ia juga meraih Juara 3 Kumite +68 Kg Putri pada Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional. Prestasinya terus berkembang hingga berhasil meraih Juara 2 Kumite -68 Kg Senior Putri di Kejurnas Karate Piala Ketua Umum  (PB FORKI) 2024.

Nama Leica semakin dikenal setelah berhasil membawa pulang medali emas Kumite -68 Kg Putri pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024. Pada ajang yang sama, ia juga meraih medali perunggu Kumite Beregu Putri bersama tim Sumatera Utara.

Karier Leica terus menanjak pada 2025. Ia berhasil meraih posisi kedua pada Silent Knight Open Karate Championship 2025 dan South East Asian Karate Federation Championship 2025. Tidak lama setelah itu, Leica sukses mempersembahkan medali emas untuk Indonesia lewat nomor Kumite +68 Kg Female pada 33rd SEA Games Thailand.

Tahun 2026 menjadi salah satu pencapaian penting lainnya bagi Leica. Ia berhasil meraih Juara 1 Kumite +68 Kg Senior Putri pada Kejuaraan Nasional Karate Piala Ketua Umum PB FORKI 2026. Pencapaiannya dalam ajang tersebut terasa spesial karena menjadi medali emas Kejurnas pertamanya setelah dua kejuaraan sebelumnya berakhir dengan medali perak.

Di balik semua pencapaiannya, Leica mengaku dirinya masih merasa punya banyak ruang untuk berkembang. Perasaan itu menjadi alasan terbesar yang membuatnya tetap bertahan dan terus berlatih hingga sekarang.

“Masih banyak yang bisa aku kejar dan aku perbaiki. Itu yang jadi bahan bakar aku buat terus berkembang,” ungkapnya.

Di tengah kesibukannya sebagai atlet nasional, Leica tetap harus menjalani kehidupan kampus sebagai mahasiswi Fasilkom-TI USU. Baginya, membagi fokus antara dunia akademik dan dunia olahraga bukan hal yang mudah.

“Jujur, sulit banget untuk bisa 100% di dua aspek kehidupan yang sangat berbeda itu,” ujarnya.

Oleh karena itu, Leica memilih menjalani semuanya secara perlahan sambil menentukan prioritas. Kapan harus fokus menjalani latihan dan pertandingan, serta kapan harus mengejar tanggung jawab akademiknya sebagai mahasiswa.

Di balik sifatnya yang tenang, Leica ternyata menyimpan mimpi besar. Ia ingin bisa melihat dunia lebih luas lewat karate, sekaligus terus berkembang menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

“Buat aku, itu tentang kebebasan. Kebebasan untuk melihat dunia lebih luas dan terus berkembang,” tutupnya.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment