Hits: 30
Claudita Piesesta Tarigan
Pijar, Medan. Apa sebenarnya arti dari sebuah keluarga? Secara garis besar dan diketahui secara umum, keluarga adalah kelompok sosial yang pertama kali dihadapi setiap individu. Keluarga yang pertama kali memperkenalkan arti kasih sayang, peduli, perjuangan, dan banyak lagi. Dari keluarga, setiap orang juga belajar apa itu kebahagiaan dan kekecewaan, dengan banyak pengalaman yang telah dilalui. Penggambaran keluarga ini berhasil ditayangkan dengan nyata dalam film Tunggu Aku Sukses Nanti.
Tunggu Aku Sukses Nanti adalah film drama keluarga yang tayang di bioskop Indonesia saat Lebaran tahun 2026, tepatnya pada tanggal 18 Maret 2026. Film ini disutradarai oleh Naya Anindita, yang sebelumnya juga menyutradarai beberapa film populer di Indonesia, seperti Komang dan Imperfect The Series. Naya Anindita juga berhasil memenangkan kategori “Sutradara Terpuji Film” dalam Festival Film Bandung 2025, setelah merilis Komang yang membuat namanya semakin naik di dunia perfilman Indonesia.
Tunggu Aku Sukses Nanti dibuka dengan Arga Mahendra, sang pameran utama ketika masih kecil dan sedang merayakan Lebaran tahun 2006. Arga adalah anak sulung dari keluarga yang sering dianggap kalah dari keluarga sepupunya. Keluarga Arga sering dianggap rendah oleh keluarga lainnya karena memiliki permasalahan ekonomi dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Ketika adegan Arga kecil, terselip juga stereotipe bahwa lelaki tidak boleh “cengeng”. Scene ini ditunjukkan ketika Arga tidak sengaja memecahkan piring yang dibawa ayahnya.
Beranjak dewasa, Arga yang diperankan oleh Ardit Erwandha, terus-menerus mengalami tekanan untuk mendapat pekerjaan dari Tante Yuli, yang diperankan oleh Sarah Sechan. Tante Yuli terus mengingatkan bahwa Arga adalah anak laki-laki pertama dalam keluarga yang harus membantu orang tuanya ketika sedang menghadapi kesulitan ekonomi. Seiring berjalannya waktu, Arga akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan layak yang setidaknya dapat membantu kehidupan orang tua dan adiknya yang masih belajar di bangku perkuliahan.
Hingga akhir film, Tunggu Aku Sukses Nanti tidak memberikan pandangan Arga sukses secara finansial, melainkan dengan pandangannya sendiri. Arga terlalu fokus pada pembuktian diri di mata keluarga besarnya, sehingga melupakan apa arti perjuangan sesungguhnya. Arga dipecat dari pekerjaannya yang membuatnya semakin tidak percaya diri dan menganggap dirinya tidak berguna. Namun, seiring berjalannya waktu, Arga berhasil bangkit berkat dukungan keluarganya serta belajar dari kesalahan akan obsesinya yang ingin dipandang tinggi.
Film berdurasi 110 menit ini berhasil menceritakan kenyataan pahit yang sedang dialami oleh anak muda di zaman sekarang. Sulitnya mendapatkan pekerjaan layak untuk sekadar menghidupi kebutuhan sehari-hari, adanya rasa takut akan kegagalan, hingga dianggap rendah oleh anak-anak seumuran yang lebih berhasil dari diri mereka. Realitas anak sulung yang terkadang harus bekerja demi memenuhi tiga generasi sekaligus, yaitu orang tua, dirinya, dan anak atau saudara, digambarkan cukup jelas dalam film ini. Keadaan ini sering disebut dengan istilah sandwich generation.
Tunggu Aku Sukses Nanti juga menyelipkan beberapa humor realitas yang sering terjadi pada anak muda. Seringnya terlontar pertanyaan “Kapan lulus?”, “Kapan kerja?”, dan situasi membandingkan anak dengan anak lainnya, yang memang sangat relate dengan keadaan anak-anak muda ketika kumpul keluarga diadakan.
Intinya, film ini memberikan pesan bahwa kesuksesan itu tidak diukur dari seberapa berhasil orang dengan keadaan ekonominya. Setiap orang memiliki definisi sukses dengan versinya masing-masing dan hal ini tidak dapat ditentukan oleh orang lain. Proses tidak perlu dipaksakan dan berekspektasi bahwa hasilnya akan mirip dengan orang lain.
Pada akhirnya, setiap orang memiliki proses yang berbeda dan juga menghasilkan hasil akhir yang berbeda. Jadi kita tidak perlu membandingkan diri pada orang lain, karena kita sudah sukses di versi kita sendiri.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

